Agustinus Wibowo dikenal sebagai pelopor jurnalisme perjalanan di Indonesia. Namun, jika dalam Garis Batas atau Titik Nol ia masih terikat pada narasi geografis, dalam novel Kita dan Mereka, geografi hanyalah panggung. Subjek utamanya adalah Identitas.
Buku ini lahir dari kegelisahan penulis melihat fenomena polarisasi yang semakin tajam, baik di Indonesia maupun global. Dengan latar belakangnya sebagai etnis Tionghoa yang tumbuh di masa Orde Baru, pernah tinggal di Afghanistan yang luluh lantak oleh konflik sektarian, hingga mengamati nasionalisme di China, Agustinus memiliki otoritas moral dan intelektual untuk membicarakan tentang "tembok" yang kita bangun di antara sesama manusia.
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian yang membawa pembaca dari konsep mikroskopis (identitas diri) ke makroskopis (bangsa dan peradaban). Agustinus juga menggunakan pendekatan multidisiplin, menggabungkan sejarah, psikologi evolusioner, sosiologi, hingga neurosains.
Ia memulai dengan premis bahwa otak manusia secara biologis memang dirancang untuk melakukan kategorisasi. Kita cenderung menciptakan kelompok "Kita" (Ingroup) yang penuh empati, dan kelompok "Mereka" (Outgroup) yang sering kali kita pandang dengan curiga. Melalui narasi yang mengalir, ia menunjukkan bagaimana naluri bertahan hidup zaman batu ini justru menjadi senjata mematikan di era modern ketika dipicu oleh narasi politik dan agama.
Salah satu poin paling kuat dalam buku ini adalah bagaimana Agustinus membongkar bahwa "identitas" sering kali hanyalah sebuah konstruksi atau mitos yang disepakati bersama. Ia mencontohkan bagaimana sebuah bangsa diciptakan melalui lagu, bendera, dan narasi sejarah yang sering kali dipoles.
"Identitas bukanlah sesuatu yang kita bawa sejak lahir secara absolut, melainkan pakaian yang kita kenakan berdasarkan cerita yang kita percayai."
Sebagai orang yang menghabiskan bertahun-tahun melintasi perbatasan negara yang ketat, Agustinus menyoroti ironi perbatasan. Perbatasan diciptakan untuk memberi rasa aman, namun ia juga menciptakan pemisahan. Ia menceritakan pengalamannya di wilayah perbatasan Asia Tengah di mana orang-orang yang secara genetik dan budaya identik, bisa saling membenci hanya karena paspor mereka berbeda warna.
Buku ini memberikan peringatan keras tentang proses dehumanisasi. Sebelum genosida atau konflik besar terjadi, ada proses linguistik di mana "mereka" tidak lagi dianggap sebagai manusia, melainkan hama, ancaman, atau musuh. Agustinus menggunakan contoh dari sejarah kelam berbagai negara untuk menunjukkan bahwa siapa pun bisa menjadi pelaku kekerasan jika narasi "Kita vs Mereka" sudah tertanam cukup dalam.
Yang membuat Kita dan Mereka begitu istimewa adalah kemampuan Agustinus untuk menjembatani teori akademik yang berat dengan penceritaan (storytelling) yang menyentuh. Ia tidak hanya mengutip filsuf atau sejarawan, tetapi juga menyisipkan memoar pribadinya. Kita bisa merasakan kepedihan penulis saat menceritakan krisis identitasnya sebagai anak minoritas di Indonesia, atau rasa frustrasinya melihat bagaimana agama di tangan yang salah bisa menjadi pemecah belah yang paling efektif.
Di tengah era media sosial yang menciptakan "ruang gema", buku ini hadir sebagai oase. Algoritma internet saat ini justru memperkuat bias Kita dan Mereka. Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat dan berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran sama.
Agustinus menantang pembaca untuk keluar dari zona nyaman tersebut. Ia mengajak kita melakukan "perjalanan tanpa paspor" ke dalam pikiran lawan bicara kita. Ia berargumen bahwa perdamaian bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menyadari bahwa label-label identitas itu cair dan tumpang tindih. Seseorang bisa menjadi seorang muslim, seorang Jawa, seorang fotografer, dan seorang penggemar sepak bola secara bersamaan tanpa satu label pun yang harus mendefinisikan seluruh eksistensinya.
Buku ini adalah hasil kontemplasi bertahun-tahun dan riset pustaka yang luas. Meskipun penuh dengan pengalaman personal, penulis tetap mampu menjaga jarak objektif dalam menganalisis fenomena sosial. Buku ini sangat kontekstual dengan kondisi polarisasi politik di Indonesia pasca-pemilu dan konflik global saat ini.
Namun, bagi pembaca yang terbiasa dengan narasi perjalanan yang ringan dan penuh petualangan fisik, buku ini mungkin terasa cukup padat dan menuntut konsentrasi lebih tinggi karena bobot filosofisnya.
Secara keseluruhan, buku Kita dan Mereka adalah sebuah karya yang melampaui batas genre. Ini adalah buku wajib bagi siapa saja yang peduli pada masa depan kemanusiaan. Agustinus Wibowo berhasil membuktikan bahwa perjalanan yang paling menantang bukanlah mendaki puncak gunung tertinggi atau menyeberangi gurun terluas, melainkan meruntuhkan tembok prasangka di dalam kepala kita sendiri.
Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa di bawah lapisan tipis identitas, agama, suku, bangsa, kita semua adalah spesies yang sama yang mendambakan rasa aman dan pengakuan. Buku ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperhalus budi.
Identitas Buku
Judul: Kita dan Mereka
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Mizan Publishing
Tanggal Terbit: 1 Februari 2024
Tebal: 667 Halaman