Ulasan

Ulasan Novel Rencana Besar, Misteri Hilangnya Uang Rp 17 Miliar

Ulasan Novel Rencana Besar, Misteri Hilangnya Uang Rp 17 Miliar
Novel Rencana Besar [Goodreads]

Fiksi thriller bertema korporat dan finansial masih menjadi barang langka dalam peta kesastraan Indonesia. Kebanyakan novel misteri lokal cenderung berputar pada tema pembunuhan berantai konvensional atau drama detektif klasik.

Di tengah kelangkaan tersebut, kehadiran novel Rencana Besar karya Tsugaeda (Ade) memberikan kesegaran baru bagi para penikmat cerita penuh teka-teki. Novel ini pertama kali diterbitkan pada Agustus 2013 oleh Bentang Pustaka.

Sinopsis Novel Rencana Besar

Berpusat pada sebuah bank raksasa bernama Universal Bank of Indonesia (UBI) yang mendadak diguncang prahara internal. Uang sebesar Rp 17 miliar lenyap secara misterius dari pembukuan bank. Khawatir skandal ini bocor ke publik dan merusak reputasi bank, Agung Suditama selaku Wakil Direktur UBI mengambil langkah senyap. Ia memutuskan untuk mengusut kasus ini secara rahasia tanpa melibatkan pihak kepolisian terlebih dahulu. Agung kemudian menghubungi sahabat lama sekaligus rival masa kuliahnya, Makarim Ghanim. 

Pilihan Agung terbilang unik karena Makarim bukanlah seorang detektif swasta, polisi, atau agen intelijen. Makarim sebenarnya adalah seorang konsultan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang biasa menangani konflik organisasi di berbagai perusahaan besar. Tugas yang awalnya dikira hanya berupa audit internal biasa ini ternyata menjadi pintu masuk bagi Makarim ke dalam pusaran konspirasi raksasa yang mengancam nyawanya. 

Penyelidikan rahasia Makarim membawanya ke kantor cabang UBI di Surabaya, tempat di mana tiga orang karyawan muda dituduh sebagai tersangka utama pencurian uang tersebut. Ketiganya memiliki akses, kecerdasan, dan tentu saja motif masing-masing untuk membobol sistem pertahanan bank. Penulis secara apik membagi porsi karakter ini menjadi representasi kelas pekerja modern yang sangat dekat dengan realitas kehidupan kantor sehari-hari. 

Tersangka pertama adalah Rifad Akbar, seorang pemimpin Serikat Pekerja UBI yang sangat militan, vokal, dan karismatik di mata rekan-rekannya. Rifad berjuang mati-matian demi kesejahteraan karyawan bawah yang sering kali ditindas oleh kebijakan manajemen bank yang usang. Karakter kedua adalah Amanda Suseno, staf berprestasi yang sangat ambisius dan menjadi kesayangan pihak manajemen puncak karena kepiawaiannya dalam membangun komunikasi.

Terakhir, ada Reza Ramaditya, seorang pemuda genius di bidang teknologi informasi yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja yang sangat parah tanpa alasan yang jelas. Di dalam novel, ketiga sosok ini dilabeli dengan julukan yang sangat pas, seorang penghancur (Rifad), seorang pembangun (Amanda), dan seorang pemikir (Reza). 

Hubungan interpersonal antar-tokoh ini tidak hanya berputar pada kecurigaan kriminal semata. Penulis menyelipkan dinamika relasi yang manis, seperti percikan asmara yang halus antara Rifad dan Amanda yang digambarkan lewat adegan sederhana ketika Rifad membantu merapikan barang-barang Amanda yang jatuh. Sementara itu, hubungan antara penyelidik dan klien juga diwarnai ketegangan personal, mengingat Agung dan Makarim pernah terlibat dalam persaingan cinta di masa lalu untuk memperebutkan Susi, wanita yang akhirnya sempat menjadi istri Makarim sebelum mereka bercerai.

Kelebihan

Metonimia dari keseluruhan konspirasi ini tercermin sangat baik pada desain sampul depan novel edisi pertama, yang menggambarkan sepasang tangan sedang memainkan boneka tali atau marionette. Gambar tersebut menjadi simbol bahwa seluruh konflik, demonstrasi serikat pekerja, hingga hilangnya uang miliaran rupiah di UBI dikendalikan oleh seorang sutradara bayangan atau dalang yang memiliki sebuah "rencana besar" demi kepentingan pribadi dan politiknya.

Penggambaran sistem perbankan dan audit keuangan disajikan secara meyakinkan dan berbasis riset mendalam. Alur investigasi disusun dengan sangat rapi, analitis, dan hampir tidak memiliki celah logika (plot hole).

Kekurangan

Membaca novel Rencana Besar membutuhkan sedikit kesabaran di bagian awal. Pada sepuluh bab pertama, gaya penulisan Tsugaeda terasa cukup kaku, kering, dan dipenuhi dengan penjelasan administratif serta istilah-istilah dunia perbankan. 

Bab-bab awal terasa sangat informatif dan kaku seperti artikel berita ekonomi, sehingga membutuhkan usaha ekstra untuk dilewati. Kedalaman emosional dan hubungan personal antar-karakter terasa kurang terbangun secara intim karena fokus pada plot misteri. 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel Rencana Besar karya Tsugaeda adalah sebuah karya pionir fiksi thriller korporat yang sangat sukses di Indonesia. Meskipun pembaca harus melewati awal cerita yang terasa lambat dan penuh dengan jargon ekonomi yang kaku , namun imbalan yang didapatkan di pertengahan hingga akhir cerita sangatlah memuaskan. Alur maju-mundur yang digunakan penulis berhasil mengurai kompleksitas skandal perbankan ini menjadi sebuah rangkaian kejadian yang logis dan masuk akal.

Novel ini tidak hanya menyajikan hiburan yang memacu adrenalin, tetapi juga membawa pesan mendalam mengenai perjuangan buruh, kritik terhadap keserakahan dunia korporasi, serta bagaimana sistem yang mapan namun usang sering kali justru memelihara kebobrokan di dalamnya. Bagi siapa saja yang mencari novel misteri dengan sentuhan intelektual, riset yang matang, dan plot twist yang tidak terduga, Rencana Besar adalah pilihan yang sangat direkomendasikan. 

Identitas Buku

  • Judul: Rencana Besar
  • Penulis: Tsugaeda
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Tanggal Terbit: 1 Agustus 2013
  • Tebal: 373 Halaman

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda