Marty Supreme: Drama Ambisi yang Intens dan Melelahkan

Bimo Aria Fundrika | Rosetiara Sahara
Marty Supreme: Drama Ambisi yang Intens dan Melelahkan
Marty Supreme (IMDb)

Marty Supreme merupakan film garapan Josh Safdie yang menandai debut penyutradaraan solonya tanpa sang adik, Benny Safdie. 

Mengambil latar tahun 1952, film ini menampilkan Timothee Chalamet sebagai Marty Mauser, seorang pemuda cerdik tetapi sombong dan ber-ego tinggi yang terobsesi menjadi pemain tenis meja terbaik dunia.

Karakter utamanya sendiri terinspirasi secara bebas dari sosok legenda pingpong asal Amerika Serikat, Marty Reisman.

Berbekal sembilan nominasi Oscar, termasuk Best Picture dan Best Actor, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 25 Februari 2026.

Sinopsis

Film ini membawa kita mengikuti kehidupan Marty yang sehari-harinya bekerja sebagai pramuniaga di toko sepatu milik pamannya, Murray Norkin (Larry Ratso Sloman), di kawasan Lower East Side, New York. 

Di balik kehidupannya yang pas-pasan dan kisah cinta gelapnya dengan sang sahabat masa kecil yang sudah bersuami, Rachel (Odessa A'zion), ia memendam ambisi besar untuk memenangkan turnamen bergengsi British Open di London dan menumbangkan juara bertahan asal Hongaria, Bela Kletzki (Geza Rohrig). 

Sayangnya, mimpi tersebut terhalang oleh masalah finansial. Keluarganya tidak mendukung, sementara sang paman menolak meminjamkan uang untuk mewujudkan mimpinya. 

Didorong oleh ego dan ambisi yang menggebu-gebu, Marty terpaksa mengambil jalan pintas dengan nekat mencuri uang dari laci toko pamannya demi membiayai penerbangan ke London. 

Setibanya di sana, sifat arogan Marty semakin menjadi-jadi. Ia menolak tinggal di asrama sederhana yang disediakan untuk para atlet, dan lebih memilih menginap di hotel mewah The Ritz, dengan membebankan biayanya kepada pihak penyelenggara.

Di hotel tersebut, Marty juga berhasil masuk ke dalam pergaulan kaum elite berkat pesonanya dan kelihaian bicaranya. 

Ia berkenalan dengan Milton Rockwell (Kevin O'Leary), seorang miliarder eksentrik pemilik pabrik pulpen, dan tak ragu untuk menjalin hubungan terlarang dengan istri Milton, Kay Stone (Gwyneth Paltrow), yang merupakan mantan aktris ternama. 

Tak berhenti disitu, Marty juga berupaya memanfaatkan kekayaan Milton untuk mensponsori karir olahraganya.

Di arena pertandingan, Marty memang membuktikan bahwa kesombongannya sejalan dengan kemampuannya. 

Ia berhasil mengalahkan Kletzki di babak semi-final. Namun, kesombongannya runtuh di babak final, saat ia dipecundangi secara telak oleh Koto Endo (Koto Kawaguchi), seorang atlet jenius asal Jepang yang menggunakan bet berlapis spons tebal.

Melihat peluang bisnis dari kekalahan Marty, Milton Rockwell menawarkan untuk mensponsori pertandingan ulang antara Marty dan Koto di Tokyo. 

Namun, Milton diam-diam memiliki agenda terselubung. Ia ingin Marty sengaja mengalah demi mengambil hati penonton Jepang agar bisnis pulpennya bisa masuk ke pasar negara tersebut. 

Tentu saja, Marty yang memiliki ego setinggi langit menolak tunduk pada manipulasi tersebut. Ia pun akhirnya memilih untuk kembali ke New York dengan tangan kosong. 

Namun, kepulangannya justru disambut oleh rentetan masalah yang jauh lebih pelik. 

Marty harus menghadapi kejaran polisi akibat pencurian uang sang paman. Tak hanya itu, Rachel menemuinya dan mengungkapkan bahwa ia tengah mengandung anak dari Marty.

Nasib buruknya bertambah ketika pihak Asosiasi Tenis Meja Internasional mencium kecurangan Marty terkait biaya hotel The Ritz. Ia pun dijatuhi denda sebesar $1.500 dan dilarang mengikuti kejuaraan dunia mana pun sampai denda tersebut lunas.

Paruh kedua film ini kemudian berubah menjadi kekacauan gila dan penuh tensi khas film-film Josh Safdie.

Marty harus berpacu dengan waktu selama satu minggu untuk mengumpulkan uang guna membayar denda tersebut agar bisa kembali bertanding, dan menantang ulang rivalnya, Koto Endo. 

Bersama sahabatnya, Wally (Tyler, the Creator), Marty menjalankan berbagai aksi nekat. Mulai dari memeras orang, melakukan serangkaian penipuan, hingga berurusan dengan gangster berbahaya. 

Review Film Marty Supreme

Jika kamu berpikir ini adalah film biopik olahraga yang menawarkan kisah inspiratif, alangkah baiknya buang jauh-jauh ekspektasi itu. Marty Supreme sejatinya punya "DNA" yang sama persis dengan film garapan Josh Safdie sebelumnya, Uncut Gems (2019).

Alih-alih menyajikan montage latihan yang menggugah semangat, motivasi klise, atau ending penuh air mata haru khas film olahraga konvensional, film ini justru menjejalkan layar dengan rentetan kejadian tak terduga, kebohongan, manipulasi, serta skema nekat sang tokoh utama.

Secara tonal, film ini lebih mirip dark comedy super chaos, berpadu dengan drama psikologis, dan dibalut dalam ritme penceritaan yang sangat cepat (fast-paced) bak bola pingpong yang dipukul dengan kecepatan penuh—berpindah dari satu krisis ke krisis lainnya secara konstan.

Tenis meja di sini hanya sekadar alat penggerak narasi. Inti filmnya adalah dekonstruksi tentang ego, delusi, narsisme, dan sisi gelap dari sebuah ambisi hidup.

Semua racun tersebut diwujudkan sempurna melalui tokoh utamanya, Marty Mauser, yang amoral dan rela menghalalkan segala cara demi ambisinya.

Sepanjang durasi dua setengah jam, kita seolah diseret tanpa ampun untuk mengikuti skema gilanya melanglang buana dari New York, London, hingga Tokyo, demi validasi sebagai pemain pingpong nomor satu.

Daya tarik utama film ini otomatis bertumpu pada akting kelas dewa Timothee Chalamet.

Lupakan peran Timothee yang biasanya kalem, melankolis, dan selalu identik dengan citra sadboy.

Di sini, dia tampil begitu beringas dan manglingi sebagai sosok yang sangat amat menyebalkan, tengil, egois, manipulatif, licik, narsistik dan pada dasarnya sangat unlikable. Kendati demikian, penonton akan mendapati diri mereka tersihir untuk terus menyaksikan kegilaannya.

Ia berhasil membawakan karakter yang punya superiority complex akut, namun di saat yang sama terlihat sangat rapuh saat egonya tersenggol. Gestur tubuhnya saat mengayunkan bet pingpong pun terlihat sangat terlatih, menegaskan dedikasinya mendalami peran atlet profesional.

Tak heran jika penampilannya di sini membuahkan piala Aktor Terbaik di ajang Golden Globe dan Critics' Choice Awards 2026.

Menonton akting Timothee di sini ibarat melihat letupan peran-peran Al Pacino di era 70-an. Ia berhasil membuat kita benci sekaligus terhipnotis oleh segala tindak-tanduknya.

Gila dan liarnya Marty beruntung menemukan jangkar penyeimbang lewat kehadiran Gwyneth Paltrow yang menorehkan comeback sangat solid.

Karakter yang ia perankan berfungsi sebagai counterweight cerdas yang mampu mengimbangi sekaligus menavigasi sifat manipulatif Marty.

Belum lagi performa apik dari Odessa A'zion serta kejutan cameo lintas semesta dari rapper Tyler, The Creator hingga Kevin O'Leary sang investor Shark Tank, yang semakin memperkaya dimensi jajaran cast-nya.

Berbicara mengenai aspek teknisnya, Josh Safdie kembali memamerkan ciri khas penyutradaraannya yang mampu memicu anxiety-inducing. Bukan film Safdie namanya jika tidak membuat jantung penonton berdegup kencang.

Dengan durasi 150 menit, Marty Supreme nyaris tidak memberikan ruang bagi penonton untuk bernapas. Josh Safdie seolah sengaja membombardir kita dengan kekacauan tanpa henti sebelum akhirnya memberikan adegan yang cukup emosional di bagian penutup.

Dominasi dialog yang saling menimpa (overlapping), latar belakang yang selalu dipenuhi keributan absurd, penggunaan teknik shaky cam yang dipadukan dengan extreme close-up, tempo penceritaan yang ngebut secepat kilat, semuanya dirajut dengan apik dan sukses membuat sensori penonton overload.

Di sini, kita jarang menemukan percakapan yang bergantian secara rapi. Karakter-karakternya berbicara, berteriak, dan menyela satu sama lain di saat yang bersamaan.

Ditambah lagi, Josh Safdie memanipulasi sound mixing sedemikian rupa sehingga suara latar seperti riuh penonton, decit sepatu di lantai kayu, dan pantulan bola pingpong yang bertubi-tubi—memiliki volume yang nyaris setara dengan dialog utama.

Sensasi chaos ini semakin diperparah oleh rentetan situasi di luar nalar yang dilempar Safdie ke dalam plotnya.

Mulai dari insiden bathtub yang dipakai Marty tiba-tiba jebol menembus lantai hotel bobrok, dan menimpa seorang bos mafia beserta anjing kesayangannya, hingga baku tembak brutal di sebuah peternakan. Belum lagi sisipan humor super gelap tentang kamp Nazi, bom atom, atau Holocaust.

Selain itu, eksperimen audiovisual yang ditawarkan Josh Safdie di film ini juga terbilang sangat berani. Sinematografer Darius Khondji sukses menghadirkan atmosfer gritty New York dan London era 1950-an secara imersif. Namun, alih-alih menggunakan musik jazz klasik standar era tersebut, Josh Safdie justru menabrakkan visual vintage ini dengan soundtrack beraliran synth-pop era 80-an dari musisi seperti Tears for Fears.

Sentuhan lintas zaman (anachronistic) ini bukannya merusak suasana, malah secara brilian mengamplifikasi tensi psikologis dan energi manik yang ada di kepala Marty.

Meskipun eksekusinya brilian, pendekatan radikal ini tentu menyisakan catatan tersendiri. Format penceritaan yang terlalu frenetic dan padat membuat durasi 2,5 jam terasa exhausting secara mental.

Selain itu, secara struktur naratif film ini terasa agak meandering lantaran sepanjang durasi hanya murni memperlihatkan kekacauan hidup Marty tanpa konklusi atau pesan moral yang memuaskan.

Intinya kita hanya menyaksikan sosok ambisius yang terus berlari mengejar validasi tanpa henti, hingga akhirnya terperangkap dalam pusaran kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

Secara keseluruhan, Marty Supreme jelas bukan pilihan tepat untuk tontonan santai di akhir pekan.

Namun, bagi para cinephile yang mencari pengalaman sinematik yang mengoyak batas kenyamanan, memacu adrenalin, dan meninggalkan kesan mendalam, karya Josh Safdie ini adalah tontonan yang tak boleh dilewatkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak