Rumah adalah tempat berlindung dan berkumpulnya suatu keluarga. Namun, dalam novel terjemahan berjudul Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tahun 2023 ini, rumah menjadi tempat penuh teka-teki. Dan manakala teka-teki itu berusaha untuk diselami, maka kengerian pun menguar pekat.
Novel yang saya baca ini merupakan cetakan kesembilan, Mei 2024. Sejak mulai membaca dari halaman awal, saya sudah merasakan keterpikatan yang kuat. Gaya bercerita penulisnya terasa lugas dan efisien. Terlebih lagi, dialog antartokoh disajikan seperti dalam naskah drama. Bisa jadi ini ada kaitannya dengan latar belakang Uketsu sebagai YouTuber yang terbiasa bertutur langsung, sehingga mendorong pembaca tetap fokus pada rasa penasaran akan peristiwa yang terjadi berkaitan dengan rumah-rumah aneh tersebut.
Jalan ceritanya sendiri dimulai dengan perkenalan diri si tokoh 'aku' yang berperan sebagai narator utama. Ia menyebut dirinya sebagai penulis lepas spesialis occult—hal-hal gaib. Tuntutan profesinya membuat si 'aku' sering bersinggungan dengan cerita hantu maupun pengalaman mistis. Ia menyebutkan bahwa orang-orang paling sering menceritakan hal horor tentang rumah. Misalnya, rumah kosong berhantu dan peristiwa supranatural yang mengikutinya.
Suatu hari di bulan September 2019, seorang kenalan ‘aku’ yang disapa Yanaoka-san menghubungi dirinya. Yanaoka-san ingin membeli sebuah rumah dua lantai di kawasan Tokyo. Namun, setelah melihat tata letak rumah itu, ada sebuah ruangan misterius yang aneh serta menimbulkan perasaan kurang nyaman. Oleh karena itu, ia meminta pendapat ‘aku’ yang dipandang berpengalaman mengenai hal-hal gaib.
Si 'aku' merasa tidak punya pengetahuan soal arsitektur. Ia lalu meminta bantuan temannya yang bekerja sebagai arsitek di sebuah biro arsitektur besar. Temannya yang bernama Kurihara-san ini juga merupakan penggemar hal-hal yang berbau horor dan misteri. Mereka berdua lalu sepakat bertemu untuk membicarakan lebih lanjut permintaan dari Yanaoka-san.
Berbekal pengetahuannya yang luas di bidang arsitektur, Kurihara-san membedah denah rumah aneh tersebut. Uketsu menyertakan banyak diagram denah rumah di setiap percakapan para tokoh. Hal ini memudahkan pembaca mengikuti penjabaran dan asumsi-asumsi dari ‘aku’ maupun Kurihara-san.
Pada rumah incaran Yanaoka-san, kita ikut menyadari sebuah ruangan misterius di lantai satu yang terletak di antara belakang sofa ruang tamu dan ruang dapur. Selain itu, terkuak pula sebuah tata letak kamar anak yang tertutup tanpa jendela di lantai dua. Pertanyaan lain pun muncul: mengapa di lantai dua terdapat dua kamar mandi yang terpisah jauh serta satu toilet yang hanya bisa diakses melalui kamar anak?
Pada titik ini, ‘aku’ mencoba menumpuk gambar denah lantai satu dan dua tersebut. Hasilnya, muncul kemungkinan ada lorong tersembunyi yang terhubung dengan kamar anak yang tertutup. Kurihara-san melontarkan gagasan bahwa rumah itu adalah rumah khusus untuk melakukan pembunuhan. Ia berpendapat hal tersebut mungkin saja terjadi di dunia kejahatan ekstrem, di mana kamar anak yang tertutup dari pandangan orang luar itu berfungsi sebagai tempat persembunyian eksekutor. Oleh sebab itu, Kurihara tidak merekomendasikan rumah ini dibeli oleh Yanaoka-san.
Gagasan liar tersebut mulanya terasa berlebihan. Namun, ‘aku’ berniat tetap menyampaikan perihal ketidaklaziman rumah itu kepada Yanaoka-san. Tak dinyana, Yanaoka sudah membatalkan keinginannya membeli rumah yang baru dibangun satu tahun lalu itu. Penyebabnya, polisi baru saja mengumumkan penemuan potongan-potongan tubuh manusia di semak belukar dekat rumah tersebut. Dari semua potongan tubuh yang ditemukan, hanya bagian pergelangan tangan kiri saja yang hilang.
Kasus pembunuhan tersebut membuat ‘aku’ menjadi penasaran, apalagi bila mengingat hasil diskusi sebelumnya dengan Kurihara-san. Ketika ‘aku’ mencoba membicarakan hal itu dengan editornya, ia malah disarankan menuliskan artikelnya. Menurut editor, siapa tahu ‘aku’ bisa mengumpulkan informasi dari orang-orang yang membacanya. Maka, ‘aku’ pun merilis artikel dengan mengaburkan nama lokasi serta tampilan luar rumah itu.
Seorang pembaca artikel bernama Miyae Yuzuki menghubungi ‘aku’ dan mengatakan tahu mengenai rumah itu. Ia meminta bertemu langsung agar bisa bercerita lebih leluasa. Selanjutnya, cerita bergulir menuju kengerian berikutnya. Ternyata ada rumah-rumah lain yang sama-sama memiliki tata letak yang aneh. Selain itu, ada bagian kilas balik hingga ke masa Jepang kuno, karena akar kengerian itu berasal dari masa lampau.
Saya pribadi merasa sulit meletakkan novel ini sebelum benar-benar tamat. Seraya membaca, saya merasakan sensasi merinding yang merayap perlahan-lahan hingga puncaknya setelah tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Manusia sungguh mengerikan, Sobat! Apalagi jika sudah menyangkut harta, kekuasaan, dan warisan.
Novel ini asyik dibaca sekali duduk, Sobat. Walaupun ada sebagian pembaca yang mengaku kurang puas di bagian ending, menurut saya tidak mengurangi kenikmatan membacanya. Selamat menikmati!
Cilacap, 060326