Cerita Misteri
Pengikut Tak Kasatmata
Di usianya yang memasuki kepala lima, Imam bisa dikatakan matang oleh pengalaman. Terutama yang berkaitan dengan usahanya sehari-hari selaku juru pijat dan totok syaraf. Ia banyak bertemu pasien dengan aneka rupa keluhan kesehatan. Penyebab keluhan ini banyak yang bersifat medis, tetapi tak sedikit pula yang non medis. Keluhan non medis biasanya disebabkan oleh gangguan jin, atau sihir, sehingga berimbas kepada fisik si pasien.
Atas izin Allah, Imam berhasil mengantarkan kesembuhan sebagian besar pasien. Orang-orang lalu semakin berdatangan berkat kabar baik tersebut. Mereka mempercayai dan menyukai pembawaan Imam yang ramah, tutur kata halus, dengan sorot mata yang dalam. Ia pun memiliki wawasan yang cukup luas sehingga mudah nyambung dalam percakapan.
Imam menyadari benar kemampuan yang ia miliki merupakan karunia dari Allah. Oleh karena itu ia selalu berusaha menjaga ibadahnya, terutama shalat berjamaah di awal waktu. Agar ia beroleh penjagaan Allah, terutama dari resiko menyinggung perkara makhluk halus.
Lelaki ini masih ingat secara gamblang kejadian-kejadian aneh yang dialaminya saat menolong pasien dengan gangguan jin. Antara lain, ia pernah dikirimi pedang gaib oleh lawannya, atau diserang oleh jin yang merasuki pasiennya. Istrinya sendiri yang menjadi saksi peristiwa ganjil tersebut. Kesemua itu kian mengasah kepekaan dan kewaspadaan Imam.
Suatu ketika Imam melakukan ziarah ke Demak. Kala waktu shalat tiba, lelaki bertubuh kurus tinggi ini, singgah ke Masjid Raya Demak. Usai shalat ia mendengar lantunan suara merdu seorang lelaki yang mendaras zikir.
"Bagus sekali suaranya. Aku penasaran siapa orangnya. Coba kulihat sebentar," gumamnya, mencari sumber suara.
Ternyata pendaras zikir dengan suara keras itu adalah lelaki muda berpakaian serba putih. Rambutnya hitam dan panjang sebahu. Setelah melihat sosok itu, Imam mengangguk paham. Ia lalu kembali duduk.
Tak lama berselang, lelaki tersebut mendatangi Imam. Rupanya ia ingin berkenalan lebih jauh. Imam pun bersedia melayani, hanya sekadarnya saja. Setelah itu ia pamit hendak melanjutkan perjalanan.
"Saya ingin ikut ‘njenengan," ucap lelaki itu sekonyong-konyong mengajukan diri. "Nanti saya bisa bantu-bantu."
"Nggak usah. Kamu tetap di sini saja," tolak Imam tegas. Tanpa basa-basi lebih lanjut ia langsung pergi dari Masjid Raya Demak.
Orang beda alam, kok, minta ikut, batin Imam. Ya, ternyata laki-laki itu bukan manusia melainkan dari bangsa jin.
Singkat cerita setelah kembali ke rumahnya di Banyumas, Imam kembali beraktivitas seperti biasa. Sejumlah pasien sudah menelepon dan membuat janji temu. Salah satunya bernama Karso, yang mengeluh vertigonya kambuh. Calon pasien itu bilang akan datang besok siang.
Tiba hari perjanjian sebelum jam yang disepakati, Karso menelepon lagi. "Nuwun sewu, Pak. Saya nggak jadi ke rumah. Ini saya sudah sembuh!"
Meski heran, Imam tetap mengucap syukur. Tak dinyana bukan hanya Karso, berturut-turut pasien lain pun membatalkan janji dengannya. Mereka bilang penyakitnya sembuh sendiri, padahal Imam belum sempat menemui mereka.
Mau tak mau kejadian tak biasa ini membuat lelaki ini penasaran. Ia kemudian melakukan penerawangan batin ke pasien lain, yang memiliki janji temu dengannya dalam waktu dekat ini.
“Astaghfirullah!” Melalui mata batinnya, Imam melihat sesosok makhluk yang mengajaknya berkenalan di Masjid Demak. Rupanya makhluk itu mengikutinya sampai rumah dan bahkan tanpa izin ikut turun tangan menyembuhkan pasien-pasiennya. Setelah mengetahuinya, Imam langsung menegur si makhluk.
"Pergilah, jangan terus-terusan mengikutiku. Aku tak butuh bantuanmu!"
“Tidak mau. Saya senang berada di dekatmu,” tolak si makhluk. Ia membandel tak mau pergi.
Sempat terjadi pergulatan di antara mereka. Akan tetapi si makhluk terlalu kuat sehingga Imam tak kuasa mengusir. Akhirnya setelah berunding dengan istrinya, Imam memutuskan meminta bantuan gurunya di Nganjuk.
Sampai di rumah gurunya, Imam menceritakan apa yang tengah dialaminya. Di luar dugaan, sang guru tak bisa menolongnya. Meskipun demikian pria sepuh tersebut tetap memberikan petunjuk untuk muridnya.
"Saya memang ‘ndak bisa menolong kamu, Mam. Tapi saya tahu siapa yang bisa. Coba kamu pergi ke desa sebelah, carilah Pak Ayub. Dia petani di sana."
Atas petunjuk itu, tanpa membuang waktu Imam langsung berangkat ke desa sebelah. Pak Ayub, orang yang ingin ditemuinya, kala itu tengah nyawah. Namun begitu melihat sosok Imam yang berjalan mendekat, petani paruh baya itu seolah-olah sudah diberitahu akan maksud kedatangannya. Sebab ia langsung menghentikan ayunan cangkulnya, dan berdiri menyambut Imam.
"Walah, kamu ikut dari Demak, tho?" tegur Pak Ayub pada sesuatu di belakang Imam.
Mendengar sapaan itu Imam tertegun. Petani di depannya ini rupanya bukan orang sembarangan. Ia hendak menjawab teguran tersebut, tapi Pak Ayub kembali bicara keras.
"Sudah, kamu turun di sini, jangan ngikutin lagi!" Lalu beliau menepuk punggung Imam.
Seketika Imam merasakan sesuatu tak kasatmata turun dari punggungnya. Setelah itu tubuhnya kembali ringan dan nyaman. Ia tercengang merasakan perbedaan tersebut. Pak Ayub mengulas senyum melihat reaksi Imam.
"Wis rampung. Kamu boleh pulang," ucap Pak Ayub lembut.
“Tapi, kalau saya boleh tahu, Pak, kenapa jin itu maksa ngikutin saya? Padahal waktu dari Demak sudah saya tolak,” kejar Imam penasaran.
“Le, jin yang ngikutin kamu itu juga berilmu cukup tinggi. Makanya dia bisa merasakan energimu, terus jadi penasaran. Kenapa dia maksa? Ya, ngunu ikulah sifat makhluk halus. Sing penting awakmu akeh elinge marang Gusti Allah, yo?” Pak Ayub menerangkan panjang lebar.
Imam menghela napas panjang seraya beristighfar banyak-banyak. Peristiwa ini mungkin suatu kode dari Yang Maha Kuasa agar ia tidak jumawa. Setelah itu ia berterima kasih kepada petani bersahaja tersebut, lalu berpamitan dengan hati plong. (*)
Cilacap, 010426