Ulasan
Ulasan Film Sun Children: Cahaya Harapan di Tengah Kegelapan Kemiskinan
Sun Children (judul asli: Khorshid) adalah film drama Iran yang kuat dan menyentuh, dirilis pada 2020 di bawah arahan sutradara legendaris Majid Majidi. Majidi, yang dikenal lewat karya klasik seperti Children of Heaven (1997) dan The Color of Paradise (1999), kembali menghadirkan cerita yang berfokus pada dunia anak-anak.
Film berdurasi 99 menit ini pertama kali tayang di Festival Film Fajr pada Februari 2020, kemudian berkompetisi di Venice International Film Festival September 2020. Di sana, aktor cilik Rouhollah Zamani meraih Marcello Mastroianni Award sebagai aktor pendatang baru terbaik. Film ini bahkan menjadi wakil Iran untuk kategori Best International Feature di Oscar 2021 dan masuk shortlist 15 besar.
Sinopsis: Kehidupan Keras di Pinggiran Tehran

Cerita berpusat pada Ali, seorang anak berusia 12 tahun yang tinggal di pinggiran Tehran. Bersama tiga sahabatnya—Reza, Mamad, dan Abolfazl—mereka berjuang keras demi bertahan hidup dan menghidupi keluarga.
Ayah mereka absen, entah karena meninggal, dipenjara, atau hilang. Kehidupan sehari-hari mereka penuh dengan pekerjaan serabutan di bengkel, kejahatan kecil seperti mencopet, dan segala cara untuk mengumpulkan uang.
Suatu hari, Ali mendapat tugas luar biasa: mencari harta karun yang tersembunyi di bawah tanah. Untuk mengakses terowongan itu, ia dan gengnya harus mendaftar di Sun School, sebuah lembaga amal yang didedikasikan untuk mendidik anak jalanan dan buruh anak. Apa yang dimulai sebagai peluang emas berubah menjadi perjalanan penuh liku yang menguji persahabatan, harapan, dan realitas pahit kehidupan.
Tanpa mengungkap spoiler, Majidi dan co-writer Nima Javidi menyusun narasi dengan cermat. Film ini bukan sekadar petualangan anak-anak mencari harta, melainkan potret nyata tentang eksploitasi anak di Iran—khususnya anak-anak pengungsi Afghanistan yang sering terjebak dalam lingkaran kemiskinan.
Tema utama meliputi buruh anak, pentingnya pendidikan, dan kegagalan sistem sosial. Majidi menggunakan gaya neorealisme khas Italia, mirip karya Vittorio De Sica, di mana kamera mengikuti anak-anak secara naturalis. Sinematografi Hooman Behmanesh memukau: adegan bawah tanah gelap dan lembab kontras dengan cahaya matahari yang jarang menyentuh kehidupan mereka. Musik latar Ramin Kousha menambah kedalaman emosional tanpa berlebihan.
Ulasan Film Sun Children

Menurutku akting menjadi kekuatan terbesar. Rouhollah Zamani sebagai Ali luar biasa—wajahnya yang lugu tapi penuh tekad, gerakannya lincah saat berlari di jalanan, dan air matanya yang tulus membuat penonton ikut merasakan beban berat di pundaknya. Penampilan Zamani bukan hanya akting, melainkan jiwa anak jalanan sungguhan.
Javad Ezzati sebagai Wakil Kepala Sekolah memberikan nuansa humor dan konflik internal yang cerdas, sementara Ali Nasirian sebagai figur otoritas sekolah menambah lapisan dramatis. Bahkan cameo Tannaz Tabatabaei sebagai ibu Ali berhasil menyentuh hati. Anak-anak pendukung lain, seperti Abolfazl Shirzad dan Mani Ghafouri, bermain natural tanpa terlihat dibuat-buat—bukti keahlian Majidi dalam mengarahkan aktor cilik.
Secara visual, Sun Children penuh simbolisme. Sekolah bernama Sun (Matahari) menjadi metafor harapan yang ironis; cahaya pendidikan justru harus digali dari kegelapan terowongan. Majidi tidak romantisasi kemiskinan. Ia tunjukkan bagaimana anak-anak ini pintar, kreatif, dan penuh semangat, tapi sistem masyarakat yang korup dan tidak adil membuat mereka terperangkap.
Film ini mengkritik keras eksploitasi tenaga kerja anak, sekaligus menyuarakan pentingnya akses pendidikan gratis dan perlindungan sosial. Di tengah pandemi global saat rilis awal, pesan ini semakin relevan—banyak anak di seluruh dunia kehilangan sekolah dan terpaksa bekerja.
Kelebihan film ini terletak pada emosinya yang autentik. Bukan drama murahan dengan akhir bahagia paksa, melainkan realisme yang pahit tapi penuh empati. Dan gelombang kasih sayang yang berubah menjadi amarah dan kesedihan. Kurasa ini adalah sebuah ode sinematik bagi mereka yang pantas mendapatkan yang lebih baik. Meski begitu, ada sedikit kritik: beberapa adegan terasa agak lambat di paruh tengah, dan plot harta karun kadang terlalu sederhana dibanding kedalaman tema sosialnya.
Bagi penonton Indonesia, Sun Children akan terasa dekat. Meski latar Tehran, isu buruh anak dan kemiskinan urban mirip dengan realitas di banyak kota besar kita. Emosi universal—persahabatan anak, pengorbanan keluarga, dan mimpi yang terenggut—akan menyentuh hati. Subtitle Bahasa Indonesia yang jernih membuatnya mudah dinikmati. Durasi 99 menit terasa pas, tidak membosankan meski berat.
Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 28 Februari 2026 di jaringan CGV Cinemas, Cinépolis, dan beberapa bioskop lain seperti New Star Cineplex. Rilis ini dibawa distributor lokal dengan rating 13+ karena adegan kekerasan ringan dan tema dewasa. Sayangnya, penayangan terbatas hanya beberapa hari hingga awal Maret 2026 di sebagian lokasi, jadi jangan lewatkan jika masih ada sesi. Ini kesempatan langka melihat karya Majid Majidi di layar lebar, bukan hanya streaming.
Intinya, Sun Children adalah mahakarya Majid Majidi yang mengingatkan kita: di balik kegelapan kemiskinan, masih ada cahaya harapan dari anak-anak. Bukan film hiburan ringan, melainkan pengalaman yang membuat kamu merenung dan berempati.
Rating pribadi dariku 8.5/10. Sangat aku rekomendasikan bagi pencinta film sosial, drama keluarga, atau siapa pun yang ingin melihat sinema Iran berkualitas. Kalau kamu mencari cerita yang menghangatkan sekaligus menyayat hati, Sun Children adalah pilihan tepat. Jangan lupa, tonton di bioskop untuk pengalaman maksimal—karena cahaya matahari itu lebih terang di layar lebar.