Kolom
Kerja Saja Tidak Cukup: Membedah Jebakan Hustle Culture di Hari Buruh
Selamat Hari Buruh! Biasanya, kalau dengar kata May Day, yang terlintas di kepala kita adalah aksi turun ke jalan, tuntutan kenaikan upah minimum, atau sesederhana menikmati tanggal merah sambil rebahan. Tapi, tahun ini ada satu hal yang rasanya perlu kita obrolin dengan lebih serius namun santai: fenomena hustle culture yang pelan-pelan menggerogoti kewarasan kita sebagai pekerja.
Kalau dulu, perjuangan buruh itu fokusnya jelas: jam kerja delapan jam sehari, lingkungan kerja yang aman, dan upah yang manusiawi. Tapi sekarang, musuh kita bukan cuma kebijakan kantor yang kaku, melainkan polisi skena produktivitas yang ada di dalam kepala kita sendiri. Kita terjebak dalam narasi bahwa kalau nggak sibuk, berarti nggak sukses. Kalau nggak punya side hustle, berarti malas. Padahal, kerja keras saja sekarang sudah nggak cukup kalau taruhannya adalah kesehatan mental.
Pernah nggak sih kalian merasa bersalah cuma gara-gara tidur siang di hari Sabtu? Atau merasa tertinggal waktu melihat teman di Instagram posting laptop di pinggir kolam renang dengan caption "No Days Off"? Nah, itulah bibit-bibit hustle culture. Kita diajak meromantisasi rasa lelah. Seolah-olah lingkaran hitam di bawah mata adalah medali kehormatan.
Di Hari Buruh ini, kita harus berani jujur: bekerja sampai tipes itu bukan pencapaian. Itu adalah tanda bahwa sistem kerja kita sedang sakit. Hustle culture menciptakan ilusi bahwa kesuksesan adalah hasil dari kerja keras tanpa henti, padahal sering kali itu hanyalah cara untuk menutupi eksploitasi diri yang kita lakukan demi memenuhi standar gaya hidup yang nggak ada habisnya. Kita jadi buruh bagi ambisi kita sendiri yang nggak logis.
Kalau dipikir-pikir dari dulu, buruh pabrik bisa pulang secara harfiah. Begitu mesin mati, kerjaan selesai. Sekarang? Dengan adanya WhatsApp, Slack, atau Discord, kantor seolah-olah pindah ke dalam kantong celana kita. Notifikasi dari atasan jam 10 malam sering kali dianggap sebagai hal lumrah. "Cuma nanya sebentar kok," katanya. Tapi sebentar itu adalah bentuk pelanggaran hak buruh di era digital.
Kita kehilangan batasan antara ruang privat dan ruang kerja. Inilah kenapa hustle culture makin subur. Kita merasa harus selalu available 24/7 karena takut dicap nggak loyal atau nggak kompeten. Padahal, hak untuk memutuskan koneksi (right to disconnect) adalah perjuangan buruh modern yang harus kita suarakan. Kerja keras itu penting, tapi kemampuan untuk berhenti bekerja itu jauh lebih krusial untuk jangka panjang.
Banyak dari kita yang terjebak jargon Kerjakan apa yang kamu cintai, maka kamu nggak akan merasa bekerja sehari pun dalam hidupmu. Sounds sweet, right? Tapi kenyataannya, jargon ini sering dipakai untuk menormalisasi kerja lembur tanpa bayaran karena dianggap sebagai ibadah" atau "passion.
Kita perlu beralih dari work hard ke work sane. Kerja keras yang membabi buta tanpa strategi hanya akan membawa kita ke pintu gerbang burnout. Di Hari Buruh ini, mari kita ubah pola pikir. Kesejahteraan bukan cuma soal saldo rekening yang bertambah, tapi juga soal waktu luang untuk hobi, keluarga, atau sekadar bengong tanpa merasa berdosa. Produktivitas yang sehat adalah produktivitas yang memiliki jeda.
Mungkin terdengar agak ekstrem, tapi di zaman yang menuntut kita untuk selalu bergerak, istirahat adalah sebuah bentuk perlawanan. Melawan apa? Melawan sistem yang menganggap manusia hanyalah baterai yang bisa diganti kalau sudah habis dayanya.
Membedah hustle culture di Hari Buruh artinya kita mengakui bahwa kita adalah manusia, bukan robot. Kita punya batas lelah, kita butuh sosialisasi, dan kita butuh waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Jangan sampai kita baru sadar pentingnya istirahat setelah tubuh kita sendiri yang memaksanya lewat jalur rumah sakit.
Hari Buruh seharusnya menjadi pengingat bahwa martabat manusia tidak hanya ditentukan oleh apa profesinya atau berapa besar gajinya. Kita lebih besar dari sekadar job description di LinkedIn.
Jadi, buat kalian yang saat ini lagi merasa terjebak dalam ritme kerja yang gila-gilaan, cobalah untuk ambil napas sejenak. Matikan notifikasi kerjaan kalau sudah jamnya pulang. Jangan merasa gagal hanya karena kamu memilih untuk santai sejenak sementara orang lain sibuk pamer kesibukan.
Kerja keras memang kunci, tapi kesehatan mental dan fisik adalah fondasinya. Tanpa fondasi yang kuat, gedung kesuksesan yang kamu bangun dengan susah payah itu akan runtuh juga nantinya. Mari kita rayakan Hari Buruh dengan cara yang paling fundamental: menjadi manusia yang utuh, yang tahu kapan harus berlari dan tahu kapan harus berhenti.
Selamat Hari Buruh buat para pejuang rupiah yang sedang belajar untuk lebih mencintai diri sendiri daripada pekerjaannya!