Ulasan

Taman Sekartaji Kediri: Tempat untuk Menepi Ketika Dunia Terlalu Riuh

Taman Sekartaji Kediri: Tempat untuk Menepi Ketika Dunia Terlalu Riuh
Taman Sekartaji (Dok. Pribadi/Ukhrowiyah)

Kadang, tempat untuk berhenti sejenak dari penat tidak selalu harus berada jauh dari keramaian. Di tengah lalu lalang kendaraan, tawa anak-anak, dan hiruk-pikuk akhir pekan, ternyata masih ada sudut yang bisa memberi rasa tenang. Sore itu, saya menemukannya di Taman Sekartaji Kediri.

Akhir pekan sebenarnya ingin saya habiskan di rumah untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Namun, ajakan diskusi dari teman-teman siang itu membuat rencana berubah. Kali ini, kami sepakat mengadakan pertemuan di Taman Sekartaji.

Sekitar pukul 16.00, saya berangkat dari rumah menuju lokasi menggunakan ojek online dengan tarif Rp7.500. Namun, jika pengunjung membawa kendaraan pribadi, di sini tersedia lahan parkir yang cukup luas dengan dikenakan biaya sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000.

Perjalanan terasa cukup singkat karena jarak rumah ke taman memang hanya sekitar 3,5 kilometer. Matahari sore masih menyisakan hangatnya ketika saya tiba.

Berbeda dari beberapa agenda diskusi sebelumnya yang selalu saya datangi lebih awal, kali ini saya justru sedikit terlambat karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan di rumah. Untungnya, teman-teman masih menunggu dan kegiatan belum dimulai.

Suasana taman sore itu cukup ramai. Di salah satu sisi, tampak sekelompok anak sekolah sedang berlatih Pramuka. Tidak jauh dari sana, beberapa remaja perempuan terlihat berlatih tari dengan iringan musik dari pengeras suara kecil. Pemandangan itu mengingatkan saya pada beberapa tahun lalu saat pernah mendampingi anak-anak TPQ berkegiatan di tempat yang sama.

Di sudut lain, keluarga-keluarga dan anak muda tampak menikmati akhir pekan mereka. Ada anak-anak yang berlarian, ada yang bermain sepatu roda mengelilingi taman dengan lincah, bahkan beberapa di antaranya cukup berani meluncur turun dari anak tangga tanpa terjatuh. Taman ini terasa hidup, penuh aktivitas, tetapi tidak sampai membuat sesak.

Begitu saya datang, diskusi pun langsung dimulai. Kami duduk melingkar di salah satu bangku taman yang cukup teduh—di bawah pohon beringin. Tema yang dibahas sore itu adalah tentang adab pergaulan dalam Islam.

Sekilas, topik ini memang terdengar sederhana dan cukup sering dibahas dalam berbagai kajian. Namun, justru dari diskusi santai itulah saya kembali diingatkan bahwa Islam sebenarnya telah mengatur begitu banyak hal demi menjaga umatnya—termasuk dalam urusan pergaulan yang kerap dianggap sepele. Sayangnya, di sekitar kita masih banyak yang belum mampu menerapkan batasan-batasan tersebut dengan baik hingga tanpa sadar melangkah pada hal yang kurang tepat.

Obrolan terus mengalir dari satu poin ke poin lainnya. Sesekali kami saling menanggapi, bertanya, atau memberi contoh dari kehidupan sehari-hari. Tanpa terasa, diskusi berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Waktu yang cukup panjang, tetapi rasanya begitu singkat karena pertemuan semacam ini memang hanya kami lakukan sekali dalam sepekan.

Selesai diskusi, ada satu momen kecil yang cukup mengundang tawa. Seekor katak tiba-tiba meloncat di dekat salah satu teman saya. Ia refleks mundur hampir berteriak. Namun, belum sempat suasana benar-benar ricuh, seorang anak kecil datang dengan santainya, menangkap katak tersebut dengan tangan kosong, lalu berlari sambil berkata, “Kataknya ingin belenang.”

Logat polos anak kecil yang belum bisa mengucapkan huruf “r” dengan sempurna itu langsung membuat kami tertawa. Momen sederhana, tetapi cukup menjadi selingan menyenangkan setelah diskusi yang serius.

Sebelum pulang, saya menyempatkan diri berkeliling sebentar melihat beberapa fasilitas yang ada di taman ini. Selain bangku taman yang tersebar di berbagai sisi, Taman Sekartaji juga memiliki pojok baca yang letaknya agak tersembunyi di salah satu sudut. Sayangnya, saat saya datang, pojok baca tersebut sudah tutup sehingga saya tidak sempat mampir.

Fasilitas lain yang tersedia adalah toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, area bermain anak, serta jalur pedestrian yang cukup nyaman untuk berjalan santai. Pepohonan rindang yang tumbuh di berbagai titik membuat taman ini terasa lebih teduh meskipun berada tepat di pinggir jalan raya.

Memang, suara kendaraan masih sesekali terdengar. Namun, anehnya hal itu tidak terlalu mengganggu. Di sela riuhnya aktivitas pengunjung dan bising kota, taman ini tetap memiliki sudut-sudut yang terasa cukup damai untuk duduk dan bernapas lebih pelan.

Di tepi jalan sekitar taman, ada beberapa penjual makanan ringan yang bisa dinikmati oleh pengunjung sambil duduk santai di taman. Mulai dari pentol, sate tahu, jasuke, cilok, dan aneka jajanan lain.

Menjelang magrib, langit perlahan berubah warna. Keramaian mulai sedikit berkurang, meski beberapa anak masih tampak asyik bermain. Saya duduk sejenak sambil memandangi sekitar, membiarkan sore bergerak menuju malam.

Taman Sekartaji mungkin bukan tempat yang sepenuhnya sunyi. Ia tetap berada di tengah kota, dikelilingi suara mesin kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Namun justru di sanalah saya menemukan satu hal: ketenangan ternyata tidak selalu hadir dalam keheningan total. Kadang, ia muncul di sela percakapan sederhana, diskusi yang menambah wawasan, tawa kecil karena ulah anak-anak, dan waktu singkat yang dimanfaatkan untuk menepi.

Sore itu, saya pulang bukan hanya membawa catatan hasil diskusi, tetapi juga hati yang terasa sedikit lebih ringan. Dan Taman Sekartaji, sekali lagi membuktikan bahwa ruang nyaman kadang hadir di tempat yang tak jauh dari hiruk-pikuk kota.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda