Ulasan

Bukan Tips Diet: Membedah Stigma dan Kebebasan dalam Novel Amalia Yunus

Bukan Tips Diet: Membedah Stigma dan Kebebasan dalam Novel Amalia Yunus
Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan karya Amalia Yunus. (Goodreads)

Ada daya pikat yang ganjil saat pertama kali menyentuh novel ini. Judulnya terdengar seperti buku panduan praktis, namun isinya justru memaksa kita tertegun. Novel ini dibuka dengan premis yang mengusik: seperti apa kematian yang "bersih" itu?

Bagi sang tokoh utama, kematian bersih bukanlah tentang tumpah darah atau ledakan tubuh, melainkan sebuah akhir yang merayap pelan akibat obesitas ekstrem (morbidly obese).

"Bom" itu meledak di halaman ke-10, ketika sang dokter memvonis bahwa jika ia tidak segera bertindak, usianya mungkin tidak akan mencapai angka dua puluh dua.

Sang karakter wanita pun terjebak dalam keterbatasan fisik yang menyesakkan; pingsan dan sesak napas menjadi kawan setia, hingga sang kekasih harus mendorongnya di atas kursi roda khusus. Sebuah potret kerentanan yang sangat telanjang.

Labirin Diet dan Eksploitasi Layar Kaca

Segala metode dicoba, namun kegagalan demi kegagalan terus menghampiri. Ketakutan akan risiko operasi bariatrik dan biaya yang melangit akhirnya membawa sang tokoh ke sebuah acara realitas televisi bertajuk XXXL. Di sana, orang-orang dengan berat badan berlebih diisolasi demi rating dan penurunan massa tubuh.

Meski sempat ditentang oleh pacarnya, yang selama ini menjadi sistem pendukung tunggalnya, ia tetap melangkah masuk ke karantina tersebut.

Ia memang tidak keluar sebagai pemenang, namun ia berhasil melepaskan sebagian beban fisik yang selama ini membelenggunya.

Dimensi Sosial di Balik Lemak Tubuh

Apakah novel ini hanya bicara soal metabolisme? Tentu tidak. Berdasarkan data Kemenkes RI, angka obesitas di Indonesia memang cukup mengkhawatirkan. Namun, Amalia Yunus tidak sedang menulis buku tips kesehatan. Ia membedah bagaimana masyarakat kita mendefinisikan kecantikan dan kesehatan dengan standar yang sempit.

Di beberapa budaya, tubuh besar mungkin dihormati, namun dalam norma modern, ia sering dicap sebagai bentuk "ketidakmampuan mengontrol diri".

Persoalan pribadi ini kemudian ditarik ke ranah yang lebih luas: kebebasan perempuan. Selama ini, sang tokoh merasa aman karena ketergantungannya pada sang pasangan. Namun, ketika jarak mulai tercipta, ia menyadari sebuah kebenaran pahit: bahwa seorang perempuan harus berdaulat atas pilihannya sendiri, bukan sekadar menjadi "objek" yang dijaga karena rasa kasihan.

Pribadi adalah Politik

Membaca novel ini mengingatkan saya pada slogan feminis "The Personal is Political". Masalah berat badan adalah ranah privat, namun ia sangat dipengaruhi oleh stigma sosial.

Body shaming bukan sekadar ejekan, melainkan bentuk penindasan yang membuat korbannya terpuruk. Ada prasangka otomatis bahwa individu berbadan besar memiliki pola pikir yang lamban (hal. 47).

Puncaknya adalah sebuah adegan mimpi yang mengerikan: sang tokoh bermimpi ia mati, dan orang-orang, termasuk pasangannya, berencana memotong-motong jenazahnya dengan gergaji listrik hanya karena mereka kewalahan mengangkat tubuhnya yang berat.

Risiko Narasi dan Akhir yang Mandiri

Keunikan novel tipis (kurang dari 200 halaman) ini terletak pada penggunaan sudut pandang orang kedua ("kamu"). Teknik ini berisiko karena bisa terasa menggurui, namun Amalia Yunus berhasil menjaganya agar tetap aman. Jika novel ini lebih tebal, pembaca mungkin akan merasa terus-menerus disidang.

Akhir cerita membawa kita pada latar pandemi Covid-19 yang memaksa sang tokoh kembali ke apartemennya. Namun, ia bukan lagi sosok yang sama.

Ia berhasil mengatasi kesepian tanpa harus bersandar pada pengaruh pasangannya. Ia belajar untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Menarik untuk dibayangkan: jika tema sensitif ini ditulis oleh pria, mungkin akan dibanjiri kritik tajam karena dianggap melanggengkan standar kecantikan pria. Namun, di tangan Amalia, cerita ini menjadi sebuah advokasi diri.

Kesimpulan

Novel pendek ini sangat layak untuk didiskusikan secara mendalam. Ia mengangkat isu yang terdengar sepele namun krusial: tentang bagaimana perempuan berinteraksi dengan tubuhnya sendiri, sebuah kepemilikan paling dasar yang bahkan sering kali tidak bisa dikuasai sepenuhnya oleh pemiliknya.

Identitas Buku:

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda