Ulasan

Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru

Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
5 cm (Dok.Pribadi/Oktavia)

Aku termasuk salah satu orang yang ketinggalan membaca 5 cm. Filmnya booming sekali saat itu, bahkan di perpustakaan manapun akan bisa ditemui buku dengan cover hitam dan judul sesingkat itu.

Tapi pada dasarnya, aku tidak terlalu suka dengan hal yang lagi hype. Jadilah 5 cm berlalu begitu saja tanpa pernah kusentuh. Hingga saat masuk Mapala, aku jadi tertarik membaca buku ini. 

Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro bukan sekadar cerita tentang pendakian gunung, tetapi juga potret perjalanan batin anak muda dalam merawat mimpi, persahabatan, dan keyakinan.

Pertama kali terbit pada 21 Mei 2005 oleh PT Grasindo, novel ini terus dicetak ulang dan bahkan diadaptasi menjadi film layar lebar pada 12 Desember 2012. Popularitasnya bertahan karena pesan yang sederhana namun mengena: mimpi harus terus dijaga, sedekat lima sentimeter di depan kening.

Sinopsis Novel

Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta adalah sahabat yang telah bersama selama tujuh tahun. Mereka adalah representasi karakter anak muda dengan keunikan masing-masing. Arial digambarkan santai dan tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu mencairkan suasana.

Riani, satu-satunya perempuan, tampil cerdas, kritis, dan dominan. Zafran si “penyair” kerap melontarkan kalimat puitis yang kadang membingungkan, sementara Ian yang bertubuh besar memiliki obsesi besar pada sepak bola. Di tengah mereka semua, Genta berdiri sebagai pemimpin yang bijak dan penuh pemikiran mendalam.

Kehidupan mereka awalnya diisi dengan rutinitas sederhana: nongkrong, menonton film, dan mencoba berbagai hal baru di Jakarta. Namun, kejenuhan perlahan muncul. Dalam sebuah keputusan yang tidak biasa, mereka sepakat untuk tidak bertemu dan berkomunikasi selama tiga bulan.

Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam cerita. Jarak yang tercipta justru memberi ruang bagi masing-masing untuk berkembang, menghadapi kehidupan pribadi, dan memperkaya cara pandang mereka.

Pertemuan kembali pada 14 Agustus menjadi momen emosional yang penuh kerinduan. Namun, Genta telah menyiapkan sesuatu yang lebih besar: sebuah perjalanan menuju puncak Gunung Semeru, tepatnya Mahameru, titik tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan fisik, melainkan perjalanan spiritual dan emosional yang menguji batas kemampuan, kesetiaan, dan keyakinan mereka.

Pendakian menuju Mahameru digambarkan dengan detail yang hidup. Pembaca seakan diajak ikut berjalan menyusuri Ranu Kumbolo, mendaki tanjakan terjal, hingga menghadapi kerasnya medan menuju puncak. Dalam setiap langkah, terselip refleksi tentang arti perjuangan dan kebersamaan.

Tidak ada yang mudah, tetapi justru di situlah letak keindahannya. Rasa lelah, dingin, dan keterbatasan menjadi bagian dari proses menemukan makna hidup yang lebih dalam.

Salah satu pesan filosofisnya yang terkenal tentang “5 cm di depan kening” menjadi inti dari keseluruhan cerita. Mimpi digambarkan sebagai sesuatu yang harus selalu terlihat, dijaga jaraknya agar tetap memotivasi, namun tidak sampai membuat kita terlena.

Untuk mencapainya, dibutuhkan usaha nyata: langkah kaki yang lebih jauh, kerja keras yang lebih besar, dan doa yang tidak pernah putus.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini menyoroti dinamika hubungan antarmanusia. Persahabatan lima tokoh utama terasa hangat dan realistis. Penuh tawa, perdebatan, bahkan konflik kecil. Kehadiran tokoh tambahan seperti Dinda, adik Arial yang menjadi pujaan hati Zafran, menambah warna dalam cerita, terutama dalam aspek romansa yang ringan namun menyentuh.

Sebagai karya debut, Donny Dhirgantoro berhasil menghadirkan gaya bahasa yang sederhana namun kuat. Ia mampu meramu pengalaman pribadinya mendaki Mahameru menjadi narasi yang inspiratif dan mudah diterima berbagai kalangan.

Tidak heran jika 5 cm menjadi salah satu novel populer Indonesia yang membekas di hati pembacanya. Meski eksekusi saat pendakian kurang ternarasikan dengan baik. Sebagai orang yang pernah mendaki, 5 cm meromantisasi pendakian sebagai hal yang indah tapi tidak diiringi dengan manajemen risiko yang juga tinggi. 

Pada akhirnya, 5 cm memang bukan hanya tentang mencapai puncak gunung, tetapi tentang bagaimana seseorang memilih untuk tidak menyerah pada mimpi. Novel ini mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar berjalan tanpa arah, melainkan perjalanan penuh makna yang ditentukan oleh keyakinan.

Dan seperti pesan yang terus bergema dalam cerita, selama mimpi itu tetap “menggantung” di depan mata, selalu ada alasan untuk terus melangkah.

Identitas Buku

  • Judul: 5 cm
  • Penulis: Donny Dhirgantoro
  • Penerbit: PT. Grasindo  
  • Tahun Terbit: 2013
  • Tebal: 381 halaman
  • ISBN: 979-759-151-4
  • Genre: Novel Fiksi / Persahabatan

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda