Ulasan
Novel Lebih Senyap dari Bisikan, Jeritan Sunyi Seorang Ibu Pascamelahirkan
Novel "Lebih Senyap dari Bisikan" karya Andina Dwifatma merupakan sebuah karya yang menusuk tepat ke jantung narasi domestik yang selama ini sering kali dianggap "selesai" atau ideal.
Terbit pada tahun 2021, novel ini memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019, sebuah pengakuan atas ketajaman penulis dalam membedah realitas yang paling personal sekaligus universal tentang pernikahan, keinginan memiliki anak, dan beban tak kasat mata yang dipikul perempuan.
Novel ini berpusat pada tokoh Amara dan suaminya, Baron. Seperti banyak pasangan urban lainnya, mereka memulai pernikahan dengan harapan-harapan standar tentang kebahagiaan. Namun, konflik mulai muncul ketika "kebahagiaan standar" itu menuntut kehadiran seorang anak yang tak kunjung datang.
Andina Dwifatma tidak menyajikan drama yang meledak-ledak, melainkan sebuah korosi perlahan yang menggerus fondasi hubungan mereka.
Judulnya, Lebih Senyap dari Bisikan, sangat akurat menggambarkan bagaimana penderitaan yang paling dalam sering kali tidak bersuara; ia hanya mengendap dan menghancurkan dari dalam.
Cerita dimulai dengan kehidupan Amara dan Baron yang tampak stabil. Namun, tekanan sosial dan keinginan internal untuk memiliki anak membawa mereka ke labirin prosedur medis yang melelahkan. Kita diajak mengikuti perjalanan mereka mulai dari mencoba cara-cara alami, herba, hingga teknologi reproduksi yang mahal.
Ironisnya, ketika anak yang dinanti itu akhirnya hadir, realitas yang dihadapi Amara bukanlah pelangi dan kebahagiaan seperti di iklan susu bayi. Ia justru terjebak dalam pusaran depresi pascamelahirkan, kelelahan yang ekstrem, dan perasaan terasing dari tubuhnya sendiri. Sementara itu, Baron, yang awalnya tampak sebagai suami suportif, perlahan-lahan menunjukkan kerapuhan dan ketidakmampuannya untuk benar-benar memahami beban yang dipikul istrinya.
Amara adalah representasi perempuan yang mencoba memenuhi semua "syarat" untuk menjadi bahagia menurut standar masyarakat. Amara digambarkan dengan sangat manusiawi, ia bisa sangat lembut, namun juga bisa menyimpan amarah yang dingin. Melalui Amara, penulis menunjukkan bagaimana tubuh perempuan sering kali menjadi medan tempur bagi ekspektasi orang lain.
Karakter Baron menarik karena ia tidak digambarkan sebagai "penjahat" konvensional. Ia adalah laki-laki yang "baik-baik saja" menurut standar umum, namun justru di situlah letak masalahnya. Ketidakpekaannya terhadap beban domestik dan emosional Amara menciptakan jarak yang lebih lebar daripada ruang fisik mana pun.
Kehadiran ibu Amara dan lingkungan sosialnya mempertegas bagaimana mitos-mitos tentang peran ibu sering kali justru membebani, bukan menguatkan.
Tema sentral novel ini adalah pembongkaran mitos keibuan (motherhood). Andina berani menyuarakan apa yang selama ini dianggap tabu bahwa menjadi ibu bisa sangat mengerikan, melelahkan, dan membuat seseorang merasa kehilangan identitasnya.
Selain itu, novel ini mengkritik patriarki yang halus. Penindasan di sini tidak berbentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk pengabaian emosional dan pembagian beban domestik yang timpang.
Baron mungkin tidak memukul Amara, tetapi ia membiarkan Amara berjuang sendirian dengan bayinya sementara ia tetap menjaga rutinitas dan ego pribadinya. Ini adalah jenis "bisikan" yang lebih mematikan daripada teriakan.
Andina Dwifatma memiliki gaya penulisan yang sangat jernih. Kalimat-kalimatnya pendek namun sarat makna. Ia mampu menggambarkan aroma ruang tunggu rumah sakit, rasa pahit obat, hingga dinginnya tempat tidur dengan sangat sensorik.
Narasi orang pertama dari sudut pandang Amara membuat pembaca merasa terperangkap dalam kepalanya, merasakan setiap inci keraguan dan keputusasaannya. Ada nada sinisme yang tipis namun efektif dalam menggambarkan kemunafikan sosial di sekitar tokoh utama.
Konflik terbesar dalam novel ini bukan antara Amara dan Baron, melainkan antara Amara dan Dirinya Sendiri. Ia berjuang untuk menemukan kembali siapa dirinya di luar status sebagai "istri Baron" atau "ibu dari anaknya".
Perasaan bersalah karena tidak merasa "bahagia secara otomatis" setelah menjadi ibu digambarkan dengan sangat jujur, sebuah hal yang jarang ditemukan dalam sastra Indonesia yang cenderung mengagungkan peran ibu sebagai sosok suci yang tanpa cela.
Novel ini adalah cermin bagi banyak perempuan yang merasa sendirian dalam perjuangan domestik mereka.
Berhasil mengangkat isu postpartum depression dengan cara yang sangat empatik namun tidak menggurui. Meskipun temanya berat, novel ini sangat sulit untuk diletakkan karena rasa ingin tahu pembaca terhadap nasib mental Amara.
Bagi pembaca yang menyukai penyelesaian yang tuntas dan bahagia, akhir novel ini mungkin terasa pahit atau tidak memberikan jawaban pasti. Namun, bagi pembaca sastra serius, hal ini justru memberikan ruang perenungan yang luas.
"Lebih Senyap dari Bisikan" adalah sebuah peringatan bahwa pernikahan dan menjadi orang tua bukanlah garis finis menuju kebahagiaan, melainkan awal dari perjuangan baru yang sering kali sangat sunyi.
Andina Dwifatma berhasil memberikan suara kepada jutaan perempuan yang selama ini hanya bisa berbisik, atau bahkan diam, dalam menghadapi beban tradisi dan ekspektasi.
Novel ini wajib dibaca bukan hanya oleh perempuan, tetapi terutama oleh laki-laki, agar mereka bisa mendengar "bisikan-bisikan" yang selama ini terabaikan di dalam rumah mereka sendiri. Ia adalah sebuah karya yang memanusiakan perempuan, dengan segala kelelahan, kesalahan, dan haknya untuk tidak menjadi sempurna.
Identitas Buku
Judul: Lebih Senyap dari Bisikan
Penulis: Andina Dwifatma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 30 Juni 2021
Tebal: 155 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS