Ulasan

Cak Dlahom: Sosok "Nyeleneh" yang Bikin Kamu Malu karena Sok Tahu

Cak Dlahom: Sosok "Nyeleneh" yang Bikin Kamu Malu karena Sok Tahu
Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya (goodreads.com)

Buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari merupakan kumpulan kisah reflektif yang berakar dari serial populer “Cak Dlahom” di situs Mojok.co.

Ditulis dengan pendekatan sufistik yang sederhana, namun tajam, buku ini mengajak pembaca menertawakan sekaligus mengoreksi kesombongan diri, khususnya kesombongan intelektual yang sering tak disadari.

Serial ini pertama kali hadir selama Ramadan 2015 dan 2016, dan berhasil menarik perhatian ratusan ribu pembaca.

Kepopulerannya tidak lepas dari sosok Cak Dlahom, seorang tokoh “nyeleneh” khas Madura yang ucapannya sering terdengar sederhana, bahkan konyol, tetapi justru menyimpan makna mendalam.

Buku ini tidak menghadirkan alur cerita linear seperti novel pada umumnya. Sebaliknya, ia berisi potongan-potongan kisah, dialog, dan perenungan yang berpusat pada karakter Cak Dlahom.

Sosok ini digambarkan sebagai orang biasa, bahkan cenderung dianggap “tidak pintar”, namun memiliki kebijaksanaan yang justru melampaui banyak orang terpelajar.

Melalui percakapan sehari-hari, Cak Dlahom sering kali “menampar” cara berpikir orang-orang di sekitarnya. Ia membongkar asumsi, mempertanyakan logika umum, dan menunjukkan bahwa kepintaran sering kali justru menjauhkan manusia dari kebijaksanaan sejati.

Tema utama buku ini adalah kesombongan, terutama kesombongan intelektual. Banyak orang merasa pintar karena pendidikan, gelar, atau pengetahuan yang dimiliki. Namun, melalui kisah-kisah sederhana, buku ini mengingatkan bahwa merasa pintar bisa menjadi awal dari kebodohan itu sendiri.

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada gaya penyampaiannya yang ringan, namun penuh makna. Bahasa yang digunakan sangat membumi, khas gaya tulisan di Mojok.co, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Tidak ada istilah filsafat berat atau teori sufistik yang rumit, tetapi pesan yang disampaikan justru terasa lebih mengena.

Karakter Cak Dlahom juga menjadi daya tarik tersendiri. Ia bukan tokoh sufi yang digambarkan sakral atau jauh dari kehidupan sehari-hari.

Justru sebaliknya, ia hadir sebagai sosok yang dekat, santai, bahkan kadang absurd. Dari situlah pembaca diajak untuk melihat bahwa kebijaksanaan bisa datang dari siapa saja, bahkan dari orang yang tampak “tidak istimewa”.

Selain itu, buku ini sangat reflektif. Banyak bagian yang membuat pembaca berhenti sejenak dan berpikir: “Jangan-jangan saya seperti itu.” Efek “tertampar halus” ini menjadi pengalaman membaca yang kuat dan membekas.

Meski memiliki banyak kelebihan, buku ini mungkin terasa kurang cocok bagi pembaca yang mengharapkan alur cerita yang jelas dan berkembang seperti novel. Karena berbentuk kumpulan refleksi, tidak ada konflik utama atau klimaks yang dramatis.

Beberapa pembaca juga mungkin merasa bahwa gaya humor dan sindiran dalam buku ini terkadang terlalu subtil atau bahkan membingungkan, terutama jika tidak terbiasa dengan gaya penulisan satir.

Selain itu, karena banyak menggunakan konteks budaya lokal Madura, ada beberapa bagian yang mungkin kurang terasa maksimal bagi pembaca yang tidak familier dengan latar tersebut.

Gaya bahasa buku ini bisa dibilang santai, jenaka, namun penuh sindiran halus. Rusdi Mathari berhasil memadukan humor dengan nilai-nilai sufistik tanpa terkesan menggurui. Ini menjadi keunikan utama buku ini; ia mengajak berpikir tanpa terasa seperti sedang diajari.

Keunikan lainnya adalah pendekatan sufistik yang tidak konvensional.

Alih-alih menghadirkan ajaran spiritual dalam bentuk serius, buku ini justru menyelipkannya dalam percakapan ringan dan kadang absurd. Hal ini membuat pesan spiritual terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Buku ini cocok untuk pembaca remaja hingga dewasa yang menyukai bacaan reflektif, ringan, tetapi bermakna dalam. Terutama bagi mereka yang sedang mencari perspektif baru tentang kehidupan, ego, dan makna “kepintaran”.

Waktu terbaik untuk membaca buku ini adalah saat santai, misalnya di malam hari atau saat sedang ingin merenung. Karena setiap bagiannya pendek, buku ini juga cocok dibaca secara perlahan, satu-dua kisah per hari, agar maknanya bisa lebih terasa.

Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya adalah buku kecil dengan dampak besar. Ia tidak menawarkan cerita megah, tetapi justru menghadirkan cermin bagi pembacanya.

Lewat sosok Cak Dlahom, kita diajak untuk menertawakan diri sendiri, meruntuhkan ego, dan menyadari bahwa merasa pintar bukanlah tanda kebijaksanaan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda