Ulasan

Sepotong Senja untuk Pacarku: Cinta, Imajinasi, dan Realitas yang Terbentur

Sepotong Senja untuk Pacarku: Cinta, Imajinasi, dan Realitas yang Terbentur
Buku Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma (Jaklitera)

Membaca Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma membayangkan kisah cinta yang puitis namun tetap membumi. Cara penulis membuka cerita terasa tidak biasa, bahkan sedikit absurd, tetapi justru di situlah letak daya tariknya. Saya seperti diajak masuk ke dunia yang akrab, tapi sekaligus asing.

Karya ini merupakan kumpulan cerpen yang menghadirkan berbagai kisah dengan nuansa magis dan reflektif. Cerita utamanya berkisah tentang seorang tokoh yang berusaha memberikan sesuatu yang tidak biasa kepada kekasihnya, yakni sepotong senja. Dari sini, pembaca diajak menyelami perjalanan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional dan filosofis.

Di cerpen-cerpen lainnya, tema senja muncul dalam 16 cerita yang saling terhubung, jadi semacam benang merah untuk membahas berbagai renungan tentang hidup.

Kumpulan cerpen ini juga hadir dengan edisi baru yang lebih lengkap, karena ada tambahan tiga cerpen dari buku lain karya Seno Gumira Ajidarma, yaitu Linguae. Menariknya lagi, ada juga lembar surat cinta yang bisa langsung dipakai buat dikirim ke orang tersayang.

Saya sempat kaget waktu tahu bahwa Sepotong Senja untuk Pacarku katanya menyindir proyek reklamasi Teluk Jakarta di era 90-an. Awalnya tidak kepikiran sampai ke situ. Terlepas dari benar atau tidaknya, saat pertama kali membaca cerpen itu, yang terasa justru sisi romantisnya. Bahkan, saya sempat berpikir Alina adalah sosok yang beruntung karena mendapat hadiah sepotong senja.

Dari buku ini juga saya baru tahu kalau Seno menulis cerpen berjudul Jawaban Alina. Sesuai judulnya, cerita ini berisi balasan Alina atas surat Sukab yang mengirimkan potongan senja itu.

Awalnya, selama membaca Sepotong Senja untuk Pacarku, saya membayangkan Alina sebagai perempuan yang lembut dan sedikit melankolis. Tapi bayangan itu langsung berubah setelah membaca Jawaban Alina.

Di sana, Alina justru terlihat lebih ceplas-ceplos, agak galak, dan terkesan tomboi. Cara dia menyapa Sukab di awal suratnya benar-benar mengubah kesan yang sudah terbangun sebelumnya.

Kalimat-kalimat seperti: “Sukab yang malang, bodoh, dan tidak pakai otak.” Atau “Sukab yang malang, goblok, dan menyebalkan,” langsung menghapus kesan manis dan sendu yang sebelumnya melekat pada sosok Alina di kepala.

Di bagian Peselancar Agung, jumlah cerpennya paling banyak. Jujur saja, saya agak kesulitan menangkap maksud dari beberapa cerita di bagian ini, tapi tetap dibaca karena penasaran.

Dari semua cerpen di sana, yang paling terasa ringan dan cukup romantis menurut saya adalah Hujan, Senja, dan Cerita.

Cerpen Kunang-Kunang Mandarin juga cukup menarik karena mengangkat tema yang terasa sensitif dan menggelitik. Sepintas, cerpen ini seperti menyinggung peristiwa kelam tentang pembantaian etnis Tionghoa, yang dalam cerita disebut sebagai orang-orang Mandarin.

Di bagian terakhir, Atas Nama Senja, hanya ada tiga cerpen. Sama seperti sebelumnya, saya tidak sepenuhnya memahami makna dari cerita-cerita ini. Tapi yang paling berkesan justru pilihan kata dan kalimatnya yang indah. Menurut saya, justru di tiga cerpen penutup inilah berbagai makna tentang senja paling terasa kuat dan beragam.

Cerita-cerita dalam buku ini tidak selalu mengikuti alur konvensional. Beberapa di antaranya menghadirkan situasi yang tampak tidak masuk akal, seperti peristiwa-peristiwa ganjil yang justru mencerminkan kenyataan hidup dengan cara yang lebih dalam.

Selain itu, buku ini juga menyentuh isu sosial dan kemanusiaan, meskipun tidak disampaikan secara langsung. Pembaca diajak memahami bahwa di balik hal-hal sederhana, selalu ada makna yang lebih luas.

Setiap cerita seperti potongan kecil kehidupan yang jika disatukan, membentuk gambaran tentang manusia dan segala kompleksitasnya.

Identitas Buku

  • Judul: Sepotong Senja untuk Pacarku
  • Penulis: Seno Gumira Ajidarma
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: IV, Agustus 2017
  • Halaman: 207 Halaman
  • ISBN: 978-602-03-1903-2
  • Genre: Sastra/Cerpen

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda