Ulasan
Mobile Suit Gundam Hathaway: Sajikan Pertarungan Epik dan Visual yang Tajam
Mobile Suit Gundam Hathaway: The Sorcery of Nymph Circe, film kedua dalam trilogi adaptasi novel Yoshiyuki Tomino, merupakan kelanjutan yang kuat dari Mobile Suit Gundam Hathaway (2021). Disutradarai oleh Shk Murase dengan durasi sekitar 109 menit, film ini tayang perdana di Jepang pada 30 Januari 2026 dan mencapai penayangan di bioskop Indonesia mulai pertengahan Mei 2026.
Di Indonesia, film ini didistribusikan oleh CBI Pictures dan diputar di jaringan seperti CGV Cinemas, Cinépolis, dan lainnya. Penayangan reguler dimulai sekitar 15 Mei 2026, dengan markhathon screening khusus (bersama film pertama) pada 9 Mei 2026 di lokasi tertentu seperti CGV Grand Indonesia. Beberapa sumber menyebut penayangan penuh sekuel ini di CGV pada akhir Mei. Film ini menawarkan subtitle bahasa Indonesia dan menjadi sajian wajib bagi penggemar Universal Century (UC) Gundam.
Misteri Gigi Andalucia dan Kekuatan Nymph Circe

Cerita berlatar tahun U.C. 0105, dua belas tahun setelah pemberontakan Char. Hathaway Noa, putra Bright Noa, memimpin organisasi perlawanan MAFTY yang melakukan aksi teror terhadap pemerintahan Earth Federation yang korup.
Film ini mendalami konflik internal Hathaway antara idealisme, trauma masa lalu (termasuk bayang-bayang Amuro Ray dan Quess), serta tarikan emosional terhadap Gigi Andalucia, sosok misterius dengan kemampuan Newtype yang digambarkan sebagai witch atau penyihir (Nymph Circe). Gigi menjadi katalisator yang memperumit keputusan Hathaway, sementara antagonis seperti Kenneth Sleg dan elemen politik Federation semakin menekan.
Review Film Mobile Suit Gundam Hathaway: The Sorcery Of Nymph Circe

Narasi film ini lebih berfokus pada pengembangan karakter daripada aksi murni, meski tetap menyajikan klimaks pertempuran yang epik. Tema utama mencakup korupsi kekuasaan, dampak perang terhadap individu, serta pertentangan antara idealism dan realitas politik. Hathaway digambarkan sebagai pemimpin yang semakin terpecah, bergulat dengan nafsu, kesetiaan, dan tanggung jawab.
Gigi Andalucia hadir dengan misteri yang mendalam, sementara hubungan dengan karakter pendukung seperti Kelia menambah lapisan drama pribadi. Animasi Sunrise tetap memukau dengan desain mobile suit yang detail, efek cahaya, dan koreografi pertempuran yang khas Gundam. Soundtrack Hiroyuki Sawano mendukung atmosfer ketegangan dan emosi secara efektif.
Salah satu adegan paling menegangkan adalah serangan malam di Davao atau sekuelnya di lokasi strategis menuju Adelaide Conference. Pertempuran dalam kegelapan ini memanfaatkan pencahayaan minimalis, di mana ledakan dan sorotan senjata beam menjadi satu-satunya sumber cahaya.
Penonton merasakan teror perang secara autentik: kebingungan, ketidakpastian, dan ancaman kematian yang tiba-tiba. Suara kokpit, napas pilot, dan dentuman senjata menciptakan imersi mendalam. Adegan ini menegangkan karena menunjukkan kerapuhan manusia di tengah mesin perang raksasa, dengan risiko collateral damage yang tinggi terhadap sipil. Adegan ini sangat visceral dan mencekam, meski visibilitasnya yang rendah.
Adegan paling kuingat setelah nonton adalah klimaks pertempuran udara yang melibatkan Gundam milik Hathaway melawan unit Federation, termasuk Penelope dan Alyzeus. Adegan ini penuh dengan manuver aerial yang memukau, tembakan beam yang spektakuler, dan momen emosional di mana Hathaway menghadapi musuh sambil bergulat dengan ingatan pribadi.
Visual Gundam dalam api atau siluet di langit malam, dikombinasikan dengan musik epik, menciptakan kesan ikonik. Pertarungan ini bukan hanya soal kekuatan fisik, melainkan simbol perjuangan batin Hathaway. Aku pun mengingatnya karena intensitas emosional, resolusi sementara hubungan dengan Gigi, dan cliffhanger yang mengarah ke film ketiga. Adegan ini meninggalkan rasa kagum sekaligus refleksi tentang biaya perang.
Secara keseluruhan, The Sorcery of Nymph Circe berhasil sebagai film tengah trilogi. Ia mendalami karakter tanpa mengorbankan esensi mecha action Gundam. Kelebihannya terletak pada narasi yang padat, animasi berkualitas tinggi, dan eksplorasi tema dewasa. Kekurangannya mungkin terasa pada pacing yang sibuk dan ketergantungan pada pengetahuan film pertama, serta beberapa adegan pertempuran yang gelap.
Bagi penggemar UC, film ini memberikan kepuasan mendalam; bagi penonton baru, disarankan menonton bagian pertama terlebih dahulu. Dengan rating IMDb sekitar 7.2 dan ulasan positif dari komunitas, film ini memperkuat posisi Hathaway sebagai salah satu kisah Gundam paling matang pasca-Char's Counterattack.
Film ini mengingatkan bahwa Gundam bukan hanya tentang robot raksasa bertarung, melainkan tentang manusia di baliknya—penuh kontradiksi, harapan, dan kegagalan. Penayangan di Indonesia memberikan kesempatan bagi komunitas lokal untuk merasakan pengalaman bioskop yang epik. Bagi yang belum menonton, segera saksikan di bioskop sebelum masa tayang berakhir, karena visual dan audio terbaik dirasakan di layar lebar.