Ulasan

Lagu Gala Bunga Matahari: Merefleksikan Kehilangan dan Kerinduan Mendalam

Lagu Gala Bunga Matahari: Merefleksikan Kehilangan dan Kerinduan Mendalam
Official Music Video Gala Bunga Matahari (Youtube/Sal Priadi)

Lagu Gala Bunga Matahari yang dirilis pada 2024 terasa lebih emosional ketika saya mendengarnya setelah kehilangan seorang teman dekat. Melalui lagu ini, saya merasa seolah sedang berbincang dengan sahabat saya yang sudah pergi untuk selamanya. Namun sayangnya, percakapan itu tak pernah selesai.

Sal Priadi membuka lagu ini dengan sebuah pertanyaan, “Mungkinkah kau mampir hari ini?” lalu dilanjutkan dengan, “Bila tidak mirip kau, jadilah bunga matahari.” Bait tersebut menggambarkan kerinduan mendalam pada seseorang yang telah tiada. Ada harapan sederhana, bahwa sosok yang dirindukan masih bisa hadir, meskipun bukan lagi dalam wujud yang sama.

Kedalaman makna kalimat tersebut semakin terasa di lirik berikutnya, “Yang tiba-tiba mekar di taman, meski bicara dengan bahasa tumbuhan.” Bait ini seolah menunjukkan bahwa orang-orang yang telah pergi mungkin masih “mampir” dan menyapa kita di dunia, meskipun dengan cara yang berbeda—melalui kenangan, perasaan, atau hal-hal kecil yang tiba-tiba mengingatkan.

Bunga matahari sendiri sering dimaknai sebagai simbol kehangatan dan kesetiaan. Ia selalu menghadap cahaya, seakan mengajarkan bahwa meskipun ada perpisahan, selalu ada hal-hal yang tetap bisa dikenang dengan hangat. Dalam konteks lagu ini, bunga matahari terasa seperti metafora tentang seseorang yang telah pergi, tetapi masih meninggalkan cahaya dalam hidup yang ditinggalkan.

Kemudian di lirik berikutnya, Sal menuliskan, “Ceritakan padaku, bagaimana tempat tinggalmu yang baru?” Bait ini seolah mengajak pendengar membayangkan bahwa orang yang telah pergi kini berada di tempat lain yang baru. Tempat tersebut kemudian digambarkan menyerupai visualisasi surga dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi. Sal Priadi sebagai penyanyi dan penulis lagu ini juga pernah mengakui bahwa beberapa liriknya memang terinspirasi dari kitab, meskipun tidak disebutkan secara spesifik.

“Adakah sungai-sungai itu benar-benar dilintasi dengan air susu?” Kalimat ini selaras dengan gambaran surga dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 15 yang menjelaskan adanya sungai-sungai dengan air yang tidak berubah, sungai susu, sungai madu, dan kenikmatan lainnya bagi orang-orang bertakwa.

Selanjutnya lirik “Juga badanmu tak sakit-sakit lagi, kau dan orang-orang di sana muda lagi” mengingatkan pada hadis riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa penghuni surga akan merasakan kebahagiaan abadi tanpa rasa sakit dan tanpa penuaan. Gambaran ini menghadirkan harapan bahwa orang-orang yang telah pergi kini berada dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Lirik “Semua pertanyaan, temukan jawaban” juga selaras dengan gambaran kenikmatan penghuni surga dalam Al-Qur’an Surah Fushshilat ayat 31, bahwa para penghuni surga akan memperoleh apa pun yang mereka inginkan dan minta. Seolah segala hal yang belum terjawab di dunia, kelak akan menemukan kepastian di tempat yang baru.

Kemudian lirik “Hati yang gembira, sering kau tertawa” pun mengingatkan pada gambaran kebahagiaan penghuni surga sebagaimana disebutkan dalam Surah Yasin ayat 55, bahwa mereka berada dalam kesibukan yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa keadaan tersebut menunjukkan kenikmatan yang membuat mereka bersenang-senang tanpa kesedihan.

Melalui rangkaian lirik tersebut, Gala Bunga Matahari tidak hanya berbicara tentang kerinduan, tetapi juga tentang harapan. Harapan bahwa seseorang yang telah pergi kini menemukan kebahagiaan, terbebas dari rasa sakit, dan hidup dalam keadaan yang lebih baik.

Lagu ini juga menggambarkan bahwa rasa rindu tidak selalu hadir dengan tangisan yang keras. Kadang ia muncul pelan, melalui ingatan sederhana, percakapan yang ingin dilanjutkan, atau pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah mendapat jawaban. Namun justru dalam ruang itulah kenangan tetap hidup.

Di akhir lagu, Sal menuliskan, “Bila tidak sekarang, janji kita pasti 'kan bertemu lagi,” yang menyiratkan harapan bahwa suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kita cintai. Sebuah penutup yang lembut, namun menguatkan—bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan jeda sebelum pertemuan kembali di tempat yang lebih abadi.

Setiap kehilangan selalu diiringi kerinduan. Itulah yang saya rasakan setelah mendengar kabar kepergian teman dekat saya. Setiap kebersamaan dan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa kini berubah menjadi kenangan yang berharga. Melalui Gala Bunga Matahari, saya seperti menemukan ruang untuk menyampaikan perasaan—tentang rindu yang tidak lagi mencari pertemuan, tetapi tetap hidup dalam kenangan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda