Ulasan
Parable karya Brian Khrisna: Menertawakan Nasib Buruk dengan Cara Berkelas
Ada waktu untuk menertawakan nasib meski keadaan sedang tidak berpihak. Ada saatnya kita merindukan kemenangan yang berkilau di tengah hidup yang penuh kesulitan. Inilah "perayaan orang-orang sedih" yang dilukiskan dengan apik dalam novel Parable.
Brian Khrisna tidak sedang menyuguhkan dongeng tentang sepasang manusia rupawan dengan kehidupan sempurna. Ini bukan tentang jatuh cinta lalu hidup bahagia selamanya. Parable adalah tentang bagaimana kita tetap "bermain" meski kartu yang kita pegang sangatlah buruk.
Dewa yang Jauh dari Sifat "Dewa"
Berlatar di Kota Bandung yang sejuk namun dinamis, kita diperkenalkan pada Sadewa Sagara. Nama "Dewa" yang ia sandang seolah menjadi ironi bagi hidupnya sendiri.
Dewa adalah sosok yang tak pernah punya pacar karena penampilan fisik yang dianggap kurang menarik oleh standar sosial, tak pernah meraih peringkat karena kurang pintar, dan tak pernah berwisata karena kendala finansial. Satu-satunya aset berharga miliknya adalah keceriaan dan hati yang selalu terbuka.
Dewa jatuh hati pada Chia, teman masa kecilnya yang manis dan lembut. Chia adalah satu-satunya perempuan yang mampu menerima Dewa apa adanya. Namun, dunia Dewa terguncang saat ia harus bersaing dengan sahabatnya sendiri, Edo.
Berbeda dengan Dewa, Edo adalah representasi "dewa" yang sesungguhnya: tampan, cerdas, kaya raya, dan dipuja banyak wanita. Persahabatan mereka yang semula harmonis berubah menjadi konflik batin yang menyakitkan ketika keduanya mencintai gadis yang sama.
Di sisi lain, muncul Kuku, adik Edo yang sempurna namun sangat membenci Chia. Ia menolak keras hubungan kakaknya dengan "musuh bebuyutannya" itu. Selamat datang di Parable, sebuah kisah tentang seseorang yang merasa tidak pernah menjadi tokoh utama, bahkan dalam ceritanya sendiri.
Kejujuran Kata yang Bersahaja
Brian Khrisna adalah penulis yang dicari oleh mereka yang baru ingin mulai mendaki gunung literasi. Berbeda dengan penulis lain yang mungkin terjebak dalam diksi-diksi rumit, Brian memilih kekuatan kata yang sangat sederhana. Bahasanya adalah bahasa sehari-hari yang lugas, jujur, dan langsung pada intinya. Ia tidak memoles kalimat dengan metafora yang berlebihan; ia berbicara apa adanya.
Gaya bercerita Brian penuh dengan humor satir yang sanggup membuat kita tertawa di tengah situasi dramatis. Meski ada beberapa karakter pendukung (seperti orang tua tokoh utama) yang kurang digali secara mendalam, hal itu tidak mengganggu alur utama. Karakter setiap tokoh justru terbangun kuat melalui dialog-dialog yang terasa sangat nyata.
Alur yang Melambat untuk Meresapi Emosi
Meskipun minim kalimat puitis dan mudah diikuti, saya merasa ada beberapa bagian di mana Brian menggambarkan adegan dengan deskripsi dan dialog yang terasa terlalu panjang. Hal ini membuat ritme cerita di beberapa bagian terasa lambat.
Namun, mungkin itulah tujuannya: untuk memberikan ruang bagi pembaca agar emosinya keluar secara bebas tanpa terburu-buru. Membaca novel ini rasanya seperti menonton film dengan sinematografi yang lambat namun penuh makna.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Parable menjadi melodi yang manis di tengah maraknya novel remaja yang polanya itu-itu saja. Brian berhasil mendobrak paradigma tentang pahlawan dalam cerita fiksi.
Buku ini sangat cocok bagi pembaca pemula atau Anda yang ingin membaca dengan santai tanpa harus mengerutkan kening. Ia menawarkan perspektif baru tentang cara memandang permasalahan dunia. Temukan makna "parabel" sesungguhnya dalam lembar-lembar buku ini. Selamat membaca!
Identitas Buku:
- Judul Buku: Parable
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: Mediakita
- Tahun Terbit: Maret 2021
- ISBN: 9789797946234