Ulasan
Review Larung: Gugatan Ayu Utami Terhadap Sejarah dan Tabu Patriarki
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola, dan seorang beriman akan mencari Tuhan." Kutipan ikonik dari Ayu Utami ini menjadi pembuka yang sempurna untuk memahami Larung. Awalnya, Larung dan Saman direncanakan menyatu dalam satu buku berjudul Laila Tak Mampir di New York. Namun, dalam proses kreatifnya, alur cerita berkembang sedemikian rupa hingga lahir dua mahakarya yang saling melengkapi namun memiliki jiwa yang berbeda.
Dalam Larung, Ayu Utami menggunakan eksperimen sudut pandang yang dinamis. Ia membedah isi kepala Larung, Cokorda, Laila, Shakuntala, hingga Yasmin secara bergantian, sebelum akhirnya menutup narasi sebagai narator orang ketiga. Gaya ini membawa pembaca masuk ke dalam labirin psikologis para tokohnya secara intim.
Sosok Larung dan Mitos Calon Arang
Ayu mengenalkan tokoh Larung melalui pintu mistisisme Calon Arang. Larung digambarkan sebagai cucu yang sangat mencintai neneknya, seorang perempuan berusia seabad yang menderita karena usia dan kebencian masyarakat. Dalam tindakan yang kontroversial, Larung memilih melakukan "euthanasia" untuk mengakhiri penderitaan sang nenek. Karakter Larung yang keras, dingin, namun filosofis ini menjadi poros baru dalam cerita.
Melalui sosok nenek Larung, Ayu Utami menyisipkan pesan kuat tentang kekuatan perempuan. Sang nenek adalah simbol pemberontak yang mampu mengusir pengepung hanya dengan berdiri tegak memandang laut. Hal ini sejalan dengan analisis Dra. Yuningtyas Endarwati yang menyebut bahwa Ayu berusaha mengeksplorasi penindasan perempuan oleh tatanan patriarki. Menariknya, nama "Larung" yang secara tradisional identik dengan perempuan, justru dilekatkan pada sosok laki-laki (Larung Lanang), sebuah dekonstruksi identitas yang sangat berani.
Seksualitas dan Gejolak Politik Orde Baru
Ayu Utami dikenal sebagai pelopor yang mendobrak tabu seksualitas dalam sastra Indonesia. Dalam Larung, seks bukan lagi hal terlarang, melainkan realitas yang melekat pada wanita modern kelas atas yang cerdas. Kita melihat transformasi Laila, yang dalam novel sebelumnya sangat menjaga prinsip, kini mulai terjebak dalam hubungan yang kompleks dan perselingkuhan.
Namun, Larung lebih dari sekadar urusan ranjang. Novel ini merekam dengan sangat tajam peristiwa sejarah, seperti penyerangan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996, serta aroma penculikan aktivis oleh tentara Orde Baru. Saman, Larung, dan kawan-kawan digambarkan sebagai pemberontak yang harus berhadapan dengan represi militer yang kejam.
Kekayaan Diksi yang Menantang
Membaca Larung adalah tantangan intelektual. Novel ini kaya akan istilah Jawa, medis, hingga sosiologi, seperti coitus, gerwani, hingga sintagmatik. Bagi pembaca yang langsung melompat ke buku ini tanpa membaca Saman, perpindahan sudut pandang dan diksi yang berat mungkin akan terasa membingungkan. Namun, justru di situlah letak keunikannya. Penggambaran reformasi Mei 1998 di bagian akhir buku ini memberikan kesan yang sangat mendalam dan autentik.
Kesimpulan
Larung adalah karya yang memancing pemikiran dan berani menyentuh isu-isu kontroversial yang dihindari penulis lain. Ayu Utami berhasil membuktikan bahwa sastra bisa menjadi alat untuk menggugat norma sekaligus merekam sejarah. Bagi Anda yang mencari bacaan dengan gaya bahasa berbeda dan penuh keberanian, Larung adalah pilihan yang tak terelakkan. Mari terus dukung dan apresiasi kekayaan sastra Indonesia!
Identitas Buku:
- Judul: Larung
- Pengarang: Ayu Utami
- Bahasa: Indonesia
- Genre: Roman
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tahun terbit: November, 2001
- Tebal buku: 260 halaman