Ulasan

Emosional, Menyentuh, dan Relatable! Film Ini Bakal Bikin Kamu Ingin Langsung Peluk Orang Tua

Emosional, Menyentuh, dan Relatable! Film Ini Bakal Bikin Kamu Ingin Langsung Peluk Orang Tua
Poster film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (IMDb)

Film drama keluarga Indonesia terbaru, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya?, resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 April 2026. Disutradarai oleh Kuntz Agus dan diproduksi oleh Five Elements Pictures sebagai debut mereka di layar lebar, film ini merupakan adaptasi dari novel mega best seller karya Khoirul Trian. Dengan durasi 103 menit, film ini langsung menyita perhatian penonton yang haus akan cerita keluarga autentik, relatable, dan penuh luka emosional yang sering dipendam.

Mencari Kompas di Tengah Kekosongan Keluarga

Tangkapan layar adegan di film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (instagram/film_ayahiniarahnyakemanaya)
Tangkapan layar adegan di film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (instagram/film_ayahiniarahnyakemanaya)

Sinopsis cerita berfokus pada Dira (Mawar Eva de Jongh) dan adiknya Darin (Rey Bong) yang tumbuh di bawah atap rumah yang sekaligus menjadi warung soto milik ibu mereka, Lia (Unique Priscilla). Ayah mereka, Yudi (Dwi Sasono), secara fisik selalu ada—ia duduk di meja makan, tidur di kamar yang sama, bahkan ikut menjaga warung.

Namun, kehadirannya terasa hampa. Sosok ayah yang seharusnya menjadi kompas hidup anak-anak justru semakin kabur seiring mereka dewasa. Ketika krisis keluarga datang—utang menumpuk, luka lama terbuka, dan beban dewasa jatuh di pundak Dira sebagai anak sulung—semua mulai berubah. Dira harus belajar menavigasi hidup tanpa arahan yang selama ini ia harapkan dari ayahnya. Cerita ini bukan sekadar tentang kehilangan, melainkan tentang kebingungan anak-anak yang melihat ayah ada tapi tidak ada.

Kuntz Agus berhasil menerjemahkan nuansa puitis novel ke dalam bahasa sinematik yang tenang namun menusuk. Sinematografi film ini banyak memanfaatkan pengambilan gambar close-up wajah dan ruang sempit rumah-warung Soto Bu Lia. Kesunyian visual itu justru menjadi kekuatan utama; setiap tatapan kosong Yudi, setiap senyum lelah Lia, dan setiap ekspresi frustrasi Dira berbicara lebih lantang daripada dialog panjang. Warna-warna hangat kuning kecokelatan mendominasi, menciptakan nuansa rumah yang nyaman di permukaan tapi sesak di dalam. Soundtrack minimalis dengan sentuhan piano dan suara ambient memperkuat rasa melankolis tanpa berlebihan.

Ulasan Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?

Tangkapan layar adegan di film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (instagram/film_ayahiniarahnyakemanaya)
Tangkapan layar adegan di film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? (instagram/film_ayahiniarahnyakemanaya)

Akting menjadi nyawa film ini. Dwi Sasono memberikan penampilan paling mendalam sebagai Yudi. Ia bukan ayah antagonis yang kasar atau cuek berlebihan; ia ayah yang berusaha tapi tersesat. Ekspresi wajahnya yang datar tapi penuh gejolak batin membuatku merasa kasihan sekaligus kesal—persis seperti yang dirasakan anak-anaknya.

Mawar Eva de Jongh sebagai Dira juga luar biasa. Ia membawa beban anak sulung dengan sangat natural: marah, sedih, bertanggung jawab, dan akhirnya dewasa sebelum waktunya. Rey Bong sebagai Darin memberikan kontras yang pas dengan energi remaja yang masih lugu, sementara Unique Priscilla sebagai Lia menjadi pilar keluarga yang kuat tapi rapuh di balik senyumnya.

Tema utama film ini sangat relevan dengan realitas masyarakat Indonesia saat ini. Berapa banyak ayah yang bekerja keras secara fisik tapi lupa memberikan kehadiran emosional? Berapa banyak anak yang merasa sendiri meski rumah penuh orang?

Film ini mengajakku melihat perspektif dua sisi: anak yang kehilangan arah dan ayah yang kehilangan peran. Pesan “jadi ayah itu gak ada sekolahnya” yang diungkapkan Dwi Sasono dalam wawancara pers benar-benar terasa di setiap adegan. Film ini tidak menghakimi, tapi mengajak untuk berempati. Ia juga menyentuh isu utang keluarga, pengorbanan ibu, dan dinamika saudara yang saling menopang saat orang tua kelelahan.

Kelebihan terbesar film ini adalah kejujurannya. Tidak ada drama berlebihan yang dibuat-buat untuk memancing tangis. Air mata yang keluar justru karena banyak penonton termasuk aku sendiri merasa “ini mirip keluarga saya”. Beberapa adegan makan malam keluarga atau percakapan singkat di teras rumah begitu sederhana tapi menghantam.

Namun, film ini bukan tanpa kekurangan. Di bagian tengah, kurasa pacingnya agak melambat saat mengeksplorasi konflik internal Yudi. Beberapa subplot sampingan (seperti hubungan Dira dengan teman-temannya) terasa kurang dieksplorasi, sehingga terkesan hanya sebagai pengisi. Meski begitu, hal ini tidak mengurangi kekuatan emosional keseluruhannya kok. Pada intinya, Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? adalah salah satu drama keluarga Indonesia terbaik di tahun 2026.

Sumpah! film ini bikin aku dan penonton yang lain auto nangis sesenggukan sepanjang filmya diputar, dan itu berhasil menyentuh luka yang sering kita abaikan: komunikasi dalam keluarga. Ia mengingatkan bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup; anak butuh ayah yang benar-benar melihat dan mendengarkan mereka.

Bagi yang sedang mencari film yang tidak hanya menghibur tapi juga membuat hati terenyuh dan otak berpikir, wajib ditonton di bioskop. Bawalah tisu ekstra, ajak keluarga, dan siap-siap untuk diskusi panjang setelah film selesai. Karena pertanyaan “Ayah, ini arahnya ke mana, ya?” bukan hanya milik Dira dan Darin—tapi mungkin juga milik kita semua. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda