Ulasan
Menyembuhkan Rasa, Kerentanan dan Mimpi dalam Buku Puisi Pelesir Mimpi
Sudahkah kita menanamkan nilai-nilai kehidupan untuk menyembuhkan rasa, kerentanan serta mimpi? Pasti kita merasa lelah setiap hari nya setelah bekerja, sekolah, berkegiatan, lalu tanpa sengaja menemukan satu bait puisi yang seperti tahu kesembuhan ini yang bisa dilakukan secara perlahan.
Buku Pelesir Mimpi awalnya Saya hanya berniat membaca sebentar. Tapi satu bait demi satu bait, saya seperti diajak berjalan-jalan di dalam mimpi orang lain, namun anehnya semua rasanya sangat dekat dengan diri saya sendiri.
Sejak malam itu, saya tahu buku ini bukan sekadar kumpulan puisi. Ia adalah cermin sekaligus pelukan di lelahnya hari berganti hari, memaknai bahwa puisi bisa sebagai penyembuh, meski tidak langsung seutuhnya tetap ada progres untuk menanamkan nilai dan pola pikir untuk berdamai pada diri sendiri.
Perlu kita ketahui 'Pelesir Mimpi' adalah buku antologi puisi tunggal karya Adimas Immanuel, seorang penyair kelahiran Solo, 8 Juli 1991. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2013 oleh Katabergerak.
Buku dengan 143 halaman ini memuat 101 puisi yang terbagi menjadi empat bab, yaitu:
- Setelah Mengajariku Menulis, Aku Berterima Kasih dengan Menuliskan Mereka
- Cinta yang Lugu Itu Pulang Juga
- Yang Terpotret dari Matakata
- Penyair di Atas Segala Penyair
Menariknya, pada bab pertama, Adimas secara khusus mendekasikan 11 puisi untuk ayah dan ibunya. Bagi yang pernah kehilangan atau merindukan sosok orang tua, bab ini akan terasa seperti percakapan panjang yang tak pernah sempat terjadi.
Karya Adimas Immanuel meraih penghargaan di tahun 2014, Pelesir Mimpi masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa, salah satu penghargaan sastra tertinggi di Indonesia. Buku ini juga terpilih dalam 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa ke-14 untuk kategori puisi.
Tentu karya ini menjadi luar biasa, karena pendakatan pada gaya bahasa yang personifikasi. Perlu kita ketahui personifikasi merupakan gaya bahasa yang memberikan sifat manusia pada benda mati atau abstrak. Dalam puisi Adimas, kesedihan bisa berjalan, rindu bisa berbicara, dan mimpi bisa memeluk.
Selain dominan nya gaya bahasa personifikasi ada juga majas hiperbola, penggunaan metafora. Perbedaan ini membuat larik setiap puisi terasa bernyawa dan bisa kita jadikan inspirasi saat menulis karya puisi sendiri, lalu bermanfaat untuk kesehatan mental pada diri sendiri.
Melihat setiap puisi nya terdapat perbedaan dengan karya lain, perbedaan nya berada di kosa kata yang kaya, kemudian kemampuannya merangkai kata-kata sederhana menjadi makna yang kompleks.
Terdapat salah satu bait puisi nya berjudul "Kinanthi," bait nya seperti ini, "Bagaimana bisa kita saling memuridkan diri jika cinta masing-masing masih menggurui?" Sederhana bukan? puisi adimas dengan kata-kata nya mendapatkan sisi ekspresif, makna nya dalam. Adimas cukup jujur dan kejujuran itulah yang membuat pembaca merasa "dikenali".
Sekarang berada di era tekanan psikologis semakin tinggi, buku pelesir mimpir menjadi harapan untuk dijadikan teman baca kita yang membentuk pola pikir kalau sastra menyembuhkan jiwa serta saat kita membaca atau menulis berfungsi sebagai katarsis emosional.
Pelepasan emosi pada diri sendiri yang intens melalui ekspresi kreatif. Puisi menjadi wadah yang menampung segala emosi yang sulit diucapkan, sehingga kita tidak perlu memendamnya sendiri.
Bagi saya sendiri di salah satu puisi Adimas berjudul "Rantau," membuat saya berdialog dengan sisi paling dalam pada diri sendiri, bait nya seperti, "Sesungguhnya inginku sederhana. Di waktu aku pergi, ada yang menunggu kabar kepulanganku. Tak ada yang harus disembunyikan, karena rindu semestinya dialamatkan, kenang-kenangan diulamkan."
Puisi tersebut seolah Saya seperti merasakan rindu tanpa malu. Puisi Adimas tidak menghakimi. Ia hanya mengamini bahwa perasaan-perasaan rumit itu sah untuk dirasakan. Inilah buku cocok untuk kesehatan mental pembaca nya. Bukan dengan nasihat menggurui, melainkan dengan pengakuan halus bahwa kita semua pernah lelah, pernah ragu, dan pernah ingin "berpelesir" dari kenyataan untuk sementara waktu.
Setelah membaca buku puisi ini, merasakan dan memahami makna puisi yang halus, adanya metafora, di dominasi kata personifikasi. Buku ini sangat cocok untuk pembaca awam yang ingin mulai mengenal puisi, karena bahasanya mudah dicerna tetapi tidak kehilangan kedalaman.
Selain itu, buku ini juga penting dibaca karena, menawarkan perspektif baru tentang cinta, keluarga, dan kerinduan. Puisi-puisi Adimas tidak terjebak dalam romantisme berlebihan. Ia justru sering membahas sisi rapuh dari hubungan antarmanusia.
Kemudian membuka ruang untuk introspeksi. Setelah membaca, kita diajak bertanya, "Apakah aku selama ini cukup menghargai orang-orang di sekitarku?" Buku ini juga membuktikan bahwa sastra Indonesia muda berkualitas. Adimas adalah bukti bahwa penyair di bawah 40 tahun mampu menghasilkan karya yang diakui hingga tingkat nasional.
Judul Pelesir Mimpi sendiri sudah sarat makna. "Pelesir" berarti berjalan-jalan tanpa tujuan pasti, sekadar melepas penat. Dan itulah yang ditawarkan buku ini yakni sebuah pelesiran ke dalam mimpi, baik mimpi penulisnya maupun mimpi kita sebagai pembaca.
Saat kita membaca puisi Adimas, kita seperti diajak melupakan sejenak hiruk-pikuk dunia. Tapi bukan berarti lari dari kenyataan. Justru, dengan "berpelesir" lebih dulu, kita bisa kembali ke realitas dengan hati yang lebih tenang dan kepala yang lebih jernih. Inilah ironi indah dari buku ini untuk menanamkan sisi kehidupan untuk bisa bertahan, kadang kita perlu berhenti sejenak.
Identitas Buku:
Judul: Pelesir Mimpi
Judul Asli: Pelesir Mimpi
Penulis: Adimas Immanuel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2019
Tebal: 143 halaman
ISBN: 9786020635811
Genre: Sastra Puisi