Ulasan

Petualangan Penuh Makna ke Museum Blambangan dan Pantai Pulau Santen

Petualangan Penuh Makna ke Museum Blambangan dan Pantai Pulau Santen
Kegiatan Outing Class Siswa SD Unggulan Nurul Huda Kalisat di Pantai Pulau Santen Banyuwangi (Dok.Pribadi/Aldi)

Pagi itu, Selasa (5/5/2026) pukul 05.00 WIB, Stasiun Kalisat belum sepenuhnya terjaga dari kantuknya. Namun, di sudut peron, sekelompok anak dengan seragam pramuka rapi sudah memecah sunyi dengan gelak tawa yang jujur dan lepas.

Mereka adalah 55 siswa-siswi kelas 3 SD Unggulan Nurul Huda Kalisat Jember, yang hari itu tidak sekadar berangkat, tetapi sedang menjemput pengalaman belajar yang lebih luas dari sekadar buku pelajaran.

Didampingi empat guru (Mohamad Aldi, Samsul Arifin, Siti Nadzirah, dan Siti Aisyah) serta beberapa wali murid yang tergabung dalam paguyuban, perjalanan ini terasa seperti perpaduan antara ekspedisi kecil dan perayaan kebersamaan.

Berkumpul di Stasiun Kalisat

Para siswa berkumpul di Stasiun Kalisat pukul 05.00 WIB (Dok.Pribadi/Aldi)
Para siswa berkumpul di Stasiun Kalisat pukul 05.00 WIB (Dok.Pribadi/Aldi)

Sebelum kereta berangkat, para guru dengan teliti mengecek kehadiran siswa, memastikan tak ada satu pun yang tertinggal. Di balik keseriusan itu, terselip rasa tanggung jawab yang besar, yaitu membawa pulang pengalaman, bukan sekadar perjalanan.

Ketika kereta api mulai melaju menuju Banyuwangi Kota, suasana berubah menjadi riuh penuh cerita. Candaan bersahutan, tawa pecah tanpa jeda, dan sesekali terdengar lagu anak-anak yang dinyanyikan bersama.

Tiket seharga Rp 8.000 terasa begitu murah dibanding kebahagiaan yang mereka dapatkan. Di dalam gerbong itu, pembelajaran telah dimulai, tentang kebersamaan, keceriaan, dan rasa syukur atas perjalanan sederhana.

Suasana di Gerbong Kereta Api

Suasana siswa-siswi di dalam gerbong kereta api (Dok.Pribadi/Aldi)
Suasana siswa-siswi di dalam gerbong kereta api (Dok.Pribadi/Aldi)

Sesampainya di Stasiun Banyuwangi Kota, rombongan bergerak menuju area parkir angkutan umum. Proses tawar-menawar berlangsung hangat dan penuh pertimbangan hingga akhirnya disepakati harga Rp 300.000 per mobil. Enam mobil pun siap mengantar mereka menjelajahi tujuan, yakni ke Museum Blambangan, Pantai Pulau Santen, pusat oleh-oleh, dan kembali lagi ke stasiun.

Naik Angkutan Umum Menuju Museum Blambangan

Naik angkutan umum menuju Museum Blambangan (Dok.Pribadi/Aldi)
Naik angkutan umum menuju Museum Blambangan (Dok.Pribadi/Aldi)

Destinasi pertama adalah Museum Blambangan yang berlokasi di Jl. Jenderal Ahmad Yani No.78, Taman Baru, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68416. Setibanya di sana, suasana langsung berubah menjadi lebih khidmat. Anak-anak diajak melaksanakan salat sunah Duha di pendopo museum, lalu menikmati sarapan sederhana dari bekal masing-masing. Di situlah nilai kebersamaan kembali terasa. Mereka berbagi tempat duduk, berbagi cerita, dan bahkan berbagi lauk.

Masuk ke Museum Blambangan

Para siswa masuk ke Museum Blambangan (Dok.Pribadi/Aldi)
Para siswa masuk ke Museum Blambangan (Dok.Pribadi/Aldi)

Memasuki ruang museum, mata anak-anak berbinar. Mereka melihat langsung benda-benda bersejarah. Di sana mereka dikenalkan pada guci kuno, arca Wisnu, keris, tombak, uang gobok, hingga naskah kuno yang ditulis dengan tangan.

Mereka tak hanya melihat, tetapi juga membayangkan masa lalu yang pernah hidup melalui benda-benda itu. Di ruang bioskop mini, mereka menyaksikan kisah sejarah Blambangan dan Banyuwangi, menyadari bahwa tanah yang mereka pijak hari ini memiliki jejak panjang yang penuh makna.

Para Siswa Bermain Musik Tradisional

Para siswa dikenalkan dan bermain musik tradisional (Dok.Pribadi/Aldi)
Para siswa dikenalkan dan bermain musik tradisional (Dok.Pribadi/Aldi)

Kegiatan semakin menarik ketika mereka diajak ke ruang musik tradisional. Di sana, mereka tidak hanya dikenalkan alat musik, tetapi juga diberi kesempatan untuk memainkannya. Denting sederhana dari tangan-tangan kecil itu seolah menjadi jembatan antara generasi masa lalu dan masa kini.

Setelah itu, mereka melaksanakan salat jamak takdim Dzuhur dan Asar di pendopo museum, menutup sesi di museum dengan keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas.

Tiba di Pantai Pulau Santen

Para siswa tiba di Pantai Pulau Santen (Dok.Pribadi/Aldi)
Para siswa tiba di Pantai Pulau Santen (Dok.Pribadi/Aldi)

Perjalanan berlanjut ke Pantai Pulau Santen yang terletak di Pantai Pulau Santen, Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68411.

Untuk mencapai pantai ini, mereka harus melewati jembatan kayu yang membentang di atas muara, menghadirkan sensasi seperti memasuki dunia lain yang lebih tenang.

Hamparan pasir gelap, deretan pohon kelapa, dan hembusan angin laut langsung menyambut mereka. Di sini, pembelajaran kembali berlangsung dalam bentuk yang berbeda.

Para siswa dikenalkan pada keanekaragaman hayati pesisir, ekosistem mangrove, serta pentingnya menjaga kebersihan laut. Mereka belajar bahwa alam bukan hanya tempat bermain, tetapi juga warisan yang harus dijaga.

Fasilitas di pantai ini cukup lengkap. Ada musala, kamar mandi, gazebo, warung makan, hingga area bermain. Anak-anak pun menikmati waktu dengan bermain air, berlari di tepi pantai, dan tentu saja mengabadikan momen dengan foto bersama. Setelah puas bermain, mereka mandi dan bersiap melanjutkan perjalanan.

Tawa Riang dan Mandi Bersama di Pantai

Mandi bersama di Pantai Pulau Santen (Dok.Pribadi/Aldi)
Mandi bersama di Pantai Pulau Santen (Dok.Pribadi/Aldi)

Singgah di pusat oleh-oleh menjadi penutup yang manis sebelum kembali ke stasiun. Di sana, anak-anak memilih buah tangan untuk keluarga, seolah ingin membagikan sedikit cerita perjalanan mereka kepada orang-orang tercinta di rumah.

Menjelang senja, mereka tiba kembali di Stasiun Banyuwangi Kota dan melaksanakan salat Magrib bersama. Perjalanan pulang terasa lebih tenang, bukan karena lelah semata, tetapi karena hati mereka telah terisi penuh oleh pengalaman.

Ketika kereta tiba di Stasiun Kalisat, para orang tua telah menunggu dengan wajah penuh harap. Satu per satu anak turun, membawa cerita, membawa pengalaman, dan membawa perubahan kecil dalam cara mereka memandang dunia.

Outing class ini bukan sekadar perjalanan, melainkan proses pembelajaran yang hidup. Di luar kelas, mereka tidak hanya belajar tentang sejarah dan alam, tetapi juga tentang kebersamaan, tanggung jawab, dan cinta terhadap negeri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda