Kolom
Menulis sebagai Side Hustle, Sempat Merasa Berdosa karena Lakukan Hal Ini
Ketika malam menjelang, rasa lelah pada tubuh dan pikiran biasanya mulai terasa sebab rutinitas mengajar seharian. Seharusnya lelah itu menuntun pada istirahat, tetapi yang terjadi pada diri saya justru sebaliknya. Pikiran kembali menyala, jemari mulai gelisah, dan hati seperti menagih sesuatu yang belum ditunaikan. Di situlah menulis menemukan tempatnya, di sela sunyi, di antara dengkur anak-anak yang terlelap, dan di tengah keheningan yang justru terasa paling jujur.
Bagi saya, menulis bukan sekadar aktivitas tambahan. Ia telah menjelma menjadi jalan ninja yang saya pilih untuk menjaga dapur tetap menyala. Sebagai guru, penghasilan utama memang ada, tetapi kebutuhan rumah tangga kerapkali tidak bisa menunggu. Maka menulis hadir sebagai penopang, sebagai ruang alternatif yang memberi harapan sekaligus penghidupan.
Dunia kepenulisan digital hari ini memberikan ruang yang luas. Platform yang mengapresiasi tulisan dengan honor, hadiah, atau sekadar pengakuan, menjadi ladang baru yang menggoda. Saya pun belajar membaca arah angin. Menulis dengan tema yang sedang hangat, isu yang sedang viral, atau peristiwa yang mengundang perhatian publik.
Malam hari menjadi waktu paling produktif. Saya menulis banyak, menyimpannya dalam draf, lalu mengantrekannya satu per satu untuk dikirim. Ada sensasi tersendiri saat tulisan akhirnya dipublikasikan. Timbul rasa puas yang sulit dijelaskan.
Namun, di balik produktivitas itu, ada kegelisahan yang tak selalu bisa ditepis. Pertanyaan-pertanyaan sempat muncul tanpa diundang. Apakah saya sedang melakukan sesuatu yang keliru? Apakah saya sedang “menuliskan dosa orang lain”? Bukankah setiap manusia sudah memiliki pencatatnya sendiri? Lalu, di mana posisi saya?
Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Tulisan-tulisan yang saya buat sering bersinggungan dengan sisi gelap kehidupan manusia. Tentang ketimpangan sosial yang menyakitkan, seperti bangunan megah dapur MBG yang berdiri di samping sekolah yang pagarnya nyaris roboh (Dimuat pada Jumat, 8/5/2026, dengan judul "Di Balik Megahnya Dapur MBG, Ada Sekolah yang Dilupakan Negara"). Tentang kejahatan moral yang mencederai kepercayaan, seperti kasus predator seks yang menyalahgunakan posisi (Dimuat pada Selasa, 5/5/2026, dengan judul "Luka Pedih 50 Santriwati di Pati: Menangisi Marwah Pesantren yang Tercabik"). Tentang kemiskinan yang diam-diam membunuh, seperti siswa SMK Negeri di Samarinda yang harus menanggung penderitaan karena keterbatasan ekonomi (Dimuat pada Selasa, 5/5/2026, dengan judul "Tragedi Sepatu Kekecilan di Samarinda: Tamparan Keras untuk Sistem Pendidikan Kita"). Bahkan, kadang saya menulis tentang kehidupan selebritas yang bagi sebagian orang, hanyalah konsumsi sensasi.
Di titik itulah saya merasa seperti berdiri di persimpangan, antara menyuarakan kebenaran atau justru memperpanjang luka. Antara menjadi penyampai fakta atau tanpa sadar berubah menjadi penghakim.
Jawaban atas kegelisahan itu tidak datang dengan cepat. Saya harus merenung, mencarinya, dan bertanya kepada orang yang paham. Hingga akhirnya saya mendapatkan satu prinsip sederhana namun penting, bahwa menulis itu sah selama berpijak pada kebenaran. Tidak dilebih-lebihkan, tidak ditambah-tambahi, tidak digoreng, dan tidak dipelintir untuk kepentingan sensasi. Menulis harus tetap setia pada fakta, bukan pada nafsu untuk menarik perhatian.
"Ingat Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Secara ringkas, beritanya diperbolehkan selama memenuhi kaidah jurnalistik, namun bisa menjadi pelanggaran hukum jika melanggar privasi secara berlebihan, memuat fitnah, atau mencampuradukkan fakta dengan opini pribadi," jawab guru saya itu.
Di situlah akhirnya saya menemukan titik tenang. Bahwa yang saya lakukan bukanlah menghakimi, melainkan menyampaikan. Bukan menciptakan dosa, melainkan mengangkat realitas yang memang ada. Selama tulisan itu jujur, tidak memfitnah, dan tidak melanggar batas kemanusiaan, maka ia justru bisa menjadi bentuk kepedulian.
Menulis kemudian tidak lagi terasa sebagai beban moral, melainkan sebagai tanggung jawab. Ia menjadi cara saya bersuara, sekaligus cara saya bertahan. Ada nilai ekonomi di dalamnya, tetapi juga ada nilai kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan.
Jadi, jalan ninja ini memang tidak selalu mulus. Ada keraguan, ada rasa bersalah, bahkan ada ketakutan. Tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Menulis bukan hanya soal merangkai kata, tetapi juga soal menjaga nurani agar tetap hidup di tengah derasnya arus informasi.
Dan setiap malam, ketika saya kembali duduk di depan layar, saya tahu satu hal, bahwa saya tidak hanya sedang mencari tambahan penghasilan. Tetapi, saya sedang berusaha tetap menjadi manusia yang peduli melalui kata-kata.