Ulasan

Membaca Realitas Pekerja Kota Besar dari Lagu Hatchu!! Karya Salma Salsabil

Membaca Realitas Pekerja Kota Besar dari Lagu Hatchu!! Karya Salma Salsabil
Official Music Video Hatchu!! (YouTube/Salma Salsabil)

Sejujurnya, sejak Salma merilis preview lagu ini pada 1 Mei kemarin, saya sudah sangat menyukai potongan liriknya. Selain dinyanyikan dengan tempo upbeat yang asyik didengar, setiap kalimat dalam lagu Hatchu!! juga terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat—terutama bagi para "budak korporat". Yang membuatnya semakin menarik, preview lagu ini dirilis tepat bersamaan dengan peringatan Hari Buruh.

Setelah mendengarkan versi utuhnya yang baru dirilis tanggal 8 kemarin, rasanya saya semakin menyukai lagu ini. Di balik musiknya yang terdengar ringan dan menyenangkan, Hatchu!! justru menyimpan potret kehidupan para pekerja kota yang lelah, tetapi tetap bertahan menjalani rutinitas setiap hari.

“Terbangun dari tidurku, siapkan kopi diseduh.” Salma mengawali lagunya dengan bait yang terasa sangat realistis. Kalimat tersebut menggambarkan rutinitas pagi para pekerja kota yang sederhana, tetapi terus diulang setiap hari. Bangun tidur, menyeduh kopi sebentar, lalu terburu-buru berangkat bekerja. Mereka memulai hari bukan dengan semangat besar, melainkan sekadar menjalani tanggung jawab yang memang harus dijalani.

“Lalu berangkat menerjang panas dan hujan dan debu. Oke, alright, oh damn Hatchu!!" Dalam kondisi apa pun, mereka tetap berangkat bekerja. Menerjang panas, hujan, jalanan berdebu, kemacetan, hingga memaksa diri tetap berangkat meski tubuh sedang tidak baik-baik saja. Di sini, Salma seolah menunjukkan bahwa para pekerja kota sering kali tidak memiliki banyak pilihan selain terus bertahan dengan rutinitas yang sama setiap harinya.

Bait selanjutnya mulai memperlihatkan gambaran dunia kerja yang mereka jalani.

“Sampailah di kantor daku, bekerja seperti babu.” Di bagian ini, saya merasa ada kritik sosial yang cukup tajam. Kata “babu” menunjukkan posisi seseorang yang terus dituntut bekerja tanpa benar-benar dipedulikan kondisinya. Rasa lelah akibat pekerjaan yang menguras tenaga perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Kemudian lirik “Pak bos yapping babibu, dalam hati menggerutu” menjadi bagian yang terasa sangat relate dengan realitas banyak pekerja. Ada atasan yang terus berbicara, memberi tuntutan, target, atau omelan, sementara bawahan hanya bisa diam dan memendam keluh kesah sendiri. Ada rasa jengkel yang tidak bisa diungkapkan secara bebas.

Di bagian berikutnya, Salma bercerita tentang rutinitas yang terus berulang. “Lalu jam dinding menyuruhku pulang, tapi ku tak peduli." Saat jam kerja selesai, beban pekerjaan justru sering kali masih menumpuk. Banyak orang akhirnya terbiasa lembur di kantor atau bahkan membawa tekanan pekerjaan itu sampai ke rumah.

Lirik berlanjut dengan kalimat, “Pagi dikejar target, malam ditagih kembali.” Bagian ini terasa sangat kuat karena menggambarkan hidup yang hanya berkutat pada siklus tanpa akhir. Siang dikejar tuntutan pekerjaan, malam masih dibebani tugas yang belum selesai. Rasanya seperti tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berhenti.

“Jadi mesin disetel begini." Kalimat ini terasa seperti potret manusia yang perlahan kehilangan sisi dirinya karena hidup berjalan terlalu mekanis. Bangun, bekerja, lelah, tidur, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

“Tarik napas sebentar, besok diulangi lagi.” Istirahat  hanya terasa seperti jeda singkat sebelum kembali menghadapi rutinitas yang sama. Ada rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Masuk ke bagian reff, Salma menghadirkan lirik yang terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kota. “Kota tak janji apa-apa (hanya mimpiku yang tinggi).” Kota besar sering dijadikan tempat menggantungkan harapan. Banyak orang datang membawa mimpi besar, tetapi kenyataannya hidup di kota tidak selalu seindah yang dibayangkan.

“Kami tetap datang bekerja (pagi hingga pagi lagi).” Meski lelah, jenuh, atau kehilangan semangat, hidup tetap harus dijalani. Hari-hari terasa seperti hanya berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban lain.

“Tenaga bertukar dengan angka (kadang kurang kadang lebih). Dan bersyukur seperlunya." Menurut saya, lirik ini terasa begitu pahit karena menggambarkan hubungan manusia dengan pekerjaan yang akhirnya hanya menjadi pertukaran tenaga dengan uang. Ironisnya, hasil yang diperoleh pun kadang masih terasa belum cukup.

Kemudian alih-alih menggunakan kalimat “bersyukur sebanyak-banyaknya,” Salma justru memilih diksi “seperlunya.” Ada gambaran yang terasa lebih realistis di sana. Seolah seseorang sedang berusaha tetap bertahan dan tetap bersyukur, meskipun hidup tidak selalu berjalan baik.

Lirik “Di jalan wajah saling lewat, membawa beban masing-masing berat." seperti potret kerasnya kehidupan di kota besar. Banyak orang berjalan berdampingan, tetapi tetap merasa sepi.

“Ada yang senyum karena atasan, selebihnya diam males menjelaskan.” Orang-orang tersenyum bukan karena benar-benar bahagia, melainkan tuntutan profesionalisme. Di antara mereka, ada yang memilih diam karena sudah terlalu lelah untuk menjelaskan apa pun.

“Klakson jadi bahasa harian. Langkah dipercepat, emosi ditahan.” Kota dipenuhi suara klakson dan langkah yang terburu-buru. Orang-orang terus bergerak cepat demi mengejar hidup sambil menahan emosi dan tekanan yang terus menumpuk.

Dan menurut saya, bagian paling menyentuh dari bait ini adalah kalimat “tak semua ingin jadi juara, sebagian ingin aman sampai rumah.” Sebab pada kenyataannya, tidak semua orang bekerja demi menjadi yang paling sukses. Banyak di antara mereka yang hanya ingin hidup cukup, pulang dengan selamat, lalu kembali kuat menjalani hari esok.

Sebelum menutup lagu dengan pengulangan reff, Salma menghadirkan bait yang terasa lebih dalam.

“Jika besok roda berhenti, adalah mimpi yang pertama kami cari.” Ketika rutinitas berhenti, yang sebenarnya dicari manusia bukan selalu uang atau jabatan, melainkan mimpi dan ketenangan yang selama ini tertunda.

“Kami belajar cukup hari ini. Tak kalah, tak menang, masih berdiri.” Hidup tidak selalu soal menang atau sukses besar. Kadang, bertahan hidup saja sudah menjadi pencapaian.

“Lampu kota tetap menyala. Entah siapa yang pulang lebih lega." Kehidupan di kota akan terus berjalan tanpa peduli siapa yang lelah hari itu. Ada orang yang pulang dengan hati lega, ada juga yang pulang sambil membawa beban.

“Kami bukan cerita besar dunia. Tapi bukti bahwa hari ini pernah ada.” Menurut saya, lirik ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Tentang orang-orang biasa yang mungkin tidak terkenal dan tidak dianggap penting, tetapi tetap menjalani hidup dan berjuang setiap hari. Mereka mungkin bukan tokoh besar, tetapi keberadaan mereka nyata.

Hatchu!! bukan sekadar lagu tentang pekerja kantoran atau rutinitas kota yang melelahkan. Lagu ini terasa seperti potret banyak orang yang setiap hari berusaha bertahan di tengah hidup yang berjalan terlalu cepat. Tentang mereka yang tetap bangun pagi meski lelah, tetap bekerja meski kehilangan semangat, dan tetap melanjutkan hidup meski kadang tidak tahu sedang mengejar apa. Mungkin itulah alasan mengapa lagu ini terasa begitu dekat—sebab di dalamnya, ada kehidupan banyak orang yang selama ini jarang benar-benar didengar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda