Kolom
Ketika Rupiah Melemah, Kelas Menengah Dipaksa Bertahan Lebih Keras
Kabar tentang melemahnya nilai mata uang rupiah dibandingkan dengan mata uang lain sudah menyebar luas. Masyarakat dari berbagai kalangan pun mulai merasa cemas. Namun, di tengah berita yang kini jadi mimpi buruk warga, ada satu kelompok yang sering kali dianggap baik-baik saja, yaitu: orang-orang yang berada di kelas menengah.
Orang-orang yang berada di kelas menengah ini sering kali dianggap lebih terjamin hidupnya dibandingkan dengan orang lain. Mereka memiliki pekerjaan, gaji tetap, punya rumah atau kendaraan, terlihat produktif, bahkan sesekali masih bisa nongkrong atau belanja di mall.
Semua hal itu membuat mereka seolah terlihat memiliki kondisi finansial yang baik. Padahal di balik kehidupan mereka yang terlihat "baik-baik saja" dari luar, masih banyak kelas menengah yang hidup dalam kecemasan finansial yang jarang sekali dibicarakan secara terbuka.
Banyak di antara mereka yang sebenarnya hidup pas-pasan. Gaji habis untuk bayar cicilan rumah dan kendaraan, biaya pendidikan anak, kebutuhan keluarga, transportasi, hingga tagihan bulanan. Bagi mereka, penghasilan bukan sekadar uang yang digunakan untuk memenuhi gaya hidup, tetapi juga penyangga finansial agar keluarga tetap menjalani kehidupan dengan baik.
Dalam situasi seperti itu, satu masalah yang cukup besar bisa menggoyahkan kondisi finansial secara signifikan. Misalnya, saat harus kehilangan pekerjaan, sakit mendadak, bisnis sepi, juga ketika biaya hidup semakin tinggi seperti yang kita rasakan hari ini.
Melemahnya rupiah bukan hanya persoalan nilai tukar dengan mata uang asing. Dampaknya bahkan terasa sampai ke meja makan di rumah kita. Indonesia saat ini masih cukup bergantung pada barang-barang impor. Itulah mengapa saat nilai rupiah turun, harga kebutuhan dan biaya hidup terasa semakin mahal. Daya beli masyarakat pun ikut menurun.
Kelas menengah yang dipandang memiliki hidup stabil juga merasakan hal yang sama. Kekhawatiran yang mereka rasakan bukan semata takut menjadi miskin hari ini, tetapi takut jika perlahan tidak mampu mempertahankan hidup yang sekarang mereka jalani.
Masalahnya ketakutan seperti ini justru jarang sekali terlihat dan dibicarakan. Banyak orang yang terlihat ceria dan baik-baik saja dari luar, tapi diam-diam menghitung saldo dengan penuh kecemasan di hatinya. Takut jika tabungan semakin menipis, rekening tiba-tiba kosong, tidak memiliki dana darurat, dan tidak bisa mempertahankan standar hidupnya selama ini. Bahkan mereka yang tetap terlihat tenang pun, diam-diam overthinking soal uang.
Di tengah kondisi inilah, banyak masyarakat kemudian mulai sadar bahwa satu sumber penghasilan saja masih belum cukup untuk bertahan. Side hustle kini bukan lagi sekadar tren produktif untuk mencari pengalaman, mengisi waktu luang, ataupun menyalurkan hobi. Banyak orang sudah melakukannya demi rasa aman finansial.
Affiliator dan content creator menjamur, sebagian ada yang memulai jualan online, investasi kecil-kecilan, hingga menjadi pekerja lepas di malam hari. Semua itu dilakukan bukan semata-mata agar terlihat sukses di depan orang lain, melainkan demi mengurangi rasa takut terhadap masa depan finansial mereka.
Selain mulai melakoni pekerjaan sampingan, banyak di antara kelas menengah juga mengalami perubahan perilaku yang cukup signifikan. Mereka mulai lebih mempertimbangkan banyak hal saat akan membeli sesuatu dan memikirkan tabungan darurat. Hidup hemat pun kini menjadi bentuk antisipasi terhadap kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Namun, seolah belum cukup dengan tekanan finansial yang dirasakan, kelas menengah juga sering kali dituntut untuk tetap terlihat baik-baik saja. Mereka dituntut tetap terlihat stabil, produktif, dan mampu menjalani hidup dengan baik. Meski sebenarnya, mereka juga memiliki rasa cemas, takut, dan lelah secara finansial. Keberadaan media sosial turut memperbesar tekanan ini. Ketika semua orang seolah terlihat sukses dan mapan, ada banyak orang yang semakin takut dianggap gagal.
Melemahnya rupiah yang mungkin hanya terlihat seperti angka dalam berita, kini menjadi alarm bahwa kehidupan bisa berubah kapan saja. Kecemasan yang dirasakan oleh kelas menengah ini bukan sekadar tentang nilai mata uang, tetapi lebih pada kemungkinan kehilangan rasa aman yang selama ini diupayakan. Sebab di tengah biaya hidup yang terus meningkat, mereka sebenarnya sedang berjuang keras agar hidup yang selama ini dibangun tidak runtuh begitu saja.