Ulasan

Tuhan Maha Asyik: Menggugat Cara Beragama yang Kaku dan Dangkal

Tuhan Maha Asyik: Menggugat Cara Beragama yang Kaku dan Dangkal
Tuhan Maha Asyik karya Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Kehadiran buku Tuhan Maha Asyik seolah menjadi oase di tengah gersangnya cara pandang masyarakat yang sering kali memenjarakan konsep ketuhanan dalam definisi yang kaku dan menakutkan. Terbit pertama kali pada November 2016, buku setebal 245 halaman ini menawarkan pengalaman literasi yang unik. Tidak hanya melalui tulisan, pembaca bahkan diajak masuk ke dalam atmosfer "asyik" sejak awal melalui lagu tema yang dinyanyikan langsung oleh Sujiwo Tejo. Dengan meminjam kacamata dunia anak-anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu, penulis berhasil membedah tema kebertuhanan yang fundamental menjadi narasi yang cair namun tetap sarat makna.

Melampaui Definisi dan Nama yang Sempit

Inti dari buku ini adalah sebuah pengingat bahwa Tuhan menjadi sangat menarik justru ketika kita berhenti membatasi-Nya dengan nama-nama dan pemahaman yang sempit. Sebagaimana yang tertulis di sampul belakangnya, Tuhan ada sebelum istilah dan arti diciptakan oleh manusia. Ia melampaui logika, namun sangat dekat untuk direnungkan. Dengan bahasa yang sederhana dan ilustrasi gambar orisinal karya Sujiwo Tejo di hampir setiap bab, buku ini mengajak kita menanggalkan kesombongan intelektual. Pesannya jelas: di mana pun matamu memandang, di situ ada jejak-jejak Tuhan. Namun, untuk menangkap pesan ini, pembaca dituntut memiliki pikiran yang terbuka serta tidak terjebak dalam fanatisme mazhab, ideologi, atau pandangan agama yang tunggal.

Ironi Bahasa dan Kedalaman Firman

Salah satu fragmen cerita yang paling menggugah berjudul "Bahasa (1)". Melalui pertanyaan polos tokoh Pangestu mengenai perasaan kepada kekasihnya, penulis mengajak kita merenungi keterbatasan bahasa manusia. Ketika perasaan yang tak terhingga mulai diungkapkan dalam kata-kata, saat itulah makna aslinya menjadi terikat dan terbatas.

Analogi ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi dengan Kitab Suci. Penulis menekankan bahwa firman Tuhan memiliki kedalaman makna yang tak bertepi, sementara bahasa manusia terikat oleh aturan tata bahasa yang berpotensi mereduksi esensi firman tersebut. Oleh karena itu, beragama bukan sekadar membaca teks, melainkan meleburkan setiap makna ketuhanan ke dalam karakter dan mengekspresikannya melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya berbuah pada kemaslahatan sosial, bukan sekadar perdebatan istilah.

Refleksi: Mengenal Tuhan atau Sekadar Mengoleksi Ritual?

Buku ini hadir bukan untuk memberikan pembenaran atas praktik keagamaan yang dangkal, melainkan sebagai cermin besar bagi kita semua. Ia melontarkan pertanyaan reflektif yang tajam: apakah selama ini kita benar-benar sudah mengenal Tuhan, ataukah kita hanya sekadar sibuk mengoleksi buku agama, menghitung jumlah rakaat salat, serta menumpuk jumlah juz Al-Qur'an yang dibaca setiap hari tanpa meresapi maknanya ke dalam jiwa?

Tuhan Maha Asyik adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang merindukan cara beragama yang lebih humanis dan penuh cinta. Ia mengembalikan esensi mengenal Tuhan ke akar yang paling murni: kejujuran batin. Lewat kolaborasi epik ini, Sujiwo Tejo dan Dr. M.N. Kamba berhasil membuktikan bahwa beragama itu tidak harus selalu tegang dan penuh amarah; beragama itu bisa, dan seharusnya, menjadi sangat asyik.

Identitas Buku:

  • Judul: Tuhan Maha Asyik
  • Penulis: Sujiwo Tejo & Dr. M.N. Kamba (Nur Samad Kamba)
  • Penerbit: Imania / Iiman (Imprint Mizan)
  • Tahun Terbit: Pertama kali terbit Desember 2016, cetakan ke-IV tahun 2017
  • ISBN: 9786027926295
  • Jumlah Halaman: 245 halaman
  • Ukuran Buku: 13 cm x 20.5 cm (estimasi)
  • Bahasa: Indonesia 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda