Ulasan

Remarkably Bright Creatures, Nggak Semua Luka Butuh Ditangisi

Remarkably Bright Creatures, Nggak Semua Luka Butuh Ditangisi
Scene Film Remarkably Bright Creatures (IMDb)

Banyak film mencoba berbicara soal kehilangan dengan cara yang besar dan dramatis. Film menampilkan adegan tangis panjang, musik yang memaksa hati ikut patah, atau konflik keluarga yang sengaja dibuat meledak-ledak demi memancing air mata. Namun, nggak semua film sadar kalau kesedihan bisa terasa paling menyakitkan bila ditampilkan dengan nggak berlebihan. Seperti halnya dengan Film Remarkably Bright Creatures yang saking pasnya jadi begitu spesial.

Film garapan Olivia Newman ini diadaptasi dari novel best seller karya Shelby Van Pelt yang sempat viral sejak rilis tahun 2022. Naskahnya ditulis Olivia Newman bersama John Whittington dan diproduksi untuk Netflix sebagai drama keluarga yang hangat, sentimental, tetapi tetap ringan untuk dinikmati. 

Film ini sudah tayang sejak 8 Mei 2026 dan dibintangi Sally Field, Lewis Pullman, Alfred Molina, Colm Meaney, Joan Chen, Kathy Baker, sampai Beth Grant.

Penasaran dengan kisahnya? Kepoin lebih lanjut, ya!

Sekilas Kisah Film Remarkably Bright Creature

Poster Film Remarkably Bright Creatures (Netflix)
Poster Film Remarkably Bright Creatures (Netflix)

Ceritanya sendiri mengikuti Tovah, perempuan lanjut usia yang bekerja sebagai petugas kebersihan di akuarium kecil di kota pesisir. Bertahun-tahun setelah kehilangan suami dan anaknya, hidup Tovah terasa seperti rutinitas tanpa tujuan. Dia bangun, bekerja, pulang, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Hidupnya sunyi, bahkan mungkin terlalu sunyi.

Sampai akhirnya dia mulai menjalin ‘hubungan pertemanan’ aneh dengan Marcellus, seekor gurita tua penghuni akuarium yang diam-diam jauh lebih cerdas daripada manusia di sekitarnya. Di saat yang sama, hadir Cameron, pria muda yang datang ke kota untuk mencari ayah kandung yang belum pernah dia kenal. Perlahan, hidup mereka bertiga saling terhubung, membuka luka lama, sekaligus membawa kemungkinan baru untuk sembuh.

Menarik, ya?

Film Remarkably Bright Creature yang Nggak Sibuk Berkonflik

Poster Film Remarkably Bright Creatures (Netflix)
Poster Film Remarkably Bright Creatures (Netflix)

Dan jujur saja, premis soal gurita yang bisa memahami manusia itu awalnya terdengar absurd banget. Aku bahkan sempat takut film ini bakal jatuh jadi drama quirky yang terlalu memaksa dirinya terlihat unik. Tapi ternyata nggak. Justru Marcellus menjadi jantung utama film ini. Ia bukan hewan lucu untuk gimmick emosional, melainkan karakter yang benar-benar punya peran penting dalam menyatukan semua kesepian di film ini.

Hal paling aku suka dari ‘Remarkably Bright Creatures’ adalah cara film ini memilih untuk tenang. Film ini nggak sibuk menciptakan konflik besar tiap lima menit. Ritmenya lambat, santai, bahkan kadang terasa kayak lagi duduk diam di tepi laut sambil memikirkan hidup. Dan anehnya, itu yang membuat film ini terasa hangat.

Olivia Newman berhasil membangun atmosfer kota kecil yang nyaman banget untuk dilihat. Tone warnanya lembut, pencahayaan hangat, dan suasana pesisirnya terasa damai sekaligus melankolis. Ada rasa sepi yang terus mengendap di balik visual cantiknya. Kota dalam film ini terasa hidup, tapi juga ibarat tempat di mana banyak orang diam-diam menyimpan luka masing-masing.

Dan tentu saja, penampilan Sally Field sebagai Tovah, luar biasa deh, tanpa perlu terlalu teatrikal. Dia memainkan karakter perempuan tua yang rapuh dengan sangat natural. Bahkan saat karakter Tovah hanya diam atau berjalan sendirian di lorong akuarium, aku tetap bisa merasakan berat kehilangan yang dia bawa selama bertahun-tahun.

Film ini juga pintar karena nggak mencoba membuat Tovah terlihat menyedihkan secara berlebihan. Dia tetap keras kepala, kadang dingin, kadang lucu tanpa sadar. Karakternya hidup, yang nggak sebatas nenek sedih yang dibuat untuk memancing simpati penonton.

Aku juga cukup menikmati chemistry antara Tovah dan Cameron. Lewis Pullman berhasil memainkan Cameron sebagai pria muda yang hidupnya berantakan tapi masih mencoba terlihat baik-baik saja. Dia bukan karakter sempurna, dan itu yang membuatnya terasa manusiawi. Ada rasa kosong dalam dirinya yang pelan-pelan mulai menemukan tempat pulang.

Lalu ada Marcellus. Dan serius, aku nggak nyangka bakal sesayang itu sama seekor gurita CGI. Suara Alfred Molina membuat karakter ini terasa bijak, sinis, lucu, sekaligus menyentuh. Narasinya kadang terdengar kayak komentar sarkastik tentang manusia, tapi di balik itu ada rasa kesepian yang besar. Marcellus mungkin bukan manusia, tapi dia karakter yang paling memahami rasa kehilangan di film ini. Asli!

CGI guritanya juga surprisingly detail. Gerakannya terasa hidup dan ekspresif tanpa terlihat kartun berlebihan. Aku jadi percaya kalau Marcellus punya emosi sendiri.

Meski begitu, menurutku film ini tetap punya beberapa kelemahan. Ceritanya sebenarnya cukup mudah ditebak. Banyak twist yang sudah terasa arahnya bahkan sejak pertengahan film. Penyelesaian konfliknya juga cenderung terlalu rapi dan nyaman, seperti drama keluarga khas Hallmark yang memang sengaja dibuat agar semua penonton merasa hangat setelah selesai menonton.

Selain itu, ada beberapa momen ketika musik latarnya terasa terlalu manipulatif. Film ini kadang terlalu takut membiarkan penontonnya merasakan emosi secara natural. Padahal beberapa adegan sebenarnya akan jauh lebih kuat kalau dibiarkan hening tanpa musik sedih yang terus mengarahkan perasaan penonton. Anehnya, aku sulit membenci film ini.

Karena di balik semua kesederhanaannya, Remarkably Bright Creatures punya hati yang besar. Film ini nggak berbicara tentang kesedihan dengan cara yang gelap atau depresif. Film ini lebih tertarik membahas bagaimana manusia mencoba tetap hidup setelah kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup mereka.

Film ini memang bukan drama keluarga paling kompleks atau paling berani tahun ini. Pun bukan tipe film yang akan meninggalkan trauma emosional besar setelah credit title selesai. Ini tipe film yang cocok ditonton malam-malam saat kepala sedang penuh. Film yang nggak berusaha mengubah hidupmu secara dramatis, tapi pelan-pelan membuat hati terasa sedikit lebih ringan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda