Kolom

Saat AI Merasuki Dunia Seni: Sineas dan Seniman di Ambang Kehilangan Diri

Saat AI Merasuki Dunia Seni: Sineas dan Seniman di Ambang Kehilangan Diri
Ilustrasi Cinema (Pexels)

Satu momen ganjil yang perlahan terasa banget bagi sineas maupun seniman, ketika film (karya) yang dulu lahir dari pikiran, kerja keras, luka, dan pengalaman manusia, kini bisa ditiru, bahkan diproduksi massal oleh sesuatu yang nggak bernyawa. Di titik ini banyak yang gelisah, apakah kita masih mampu menciptakan orisinalitas, atau akan terjebak dalam kukungan kecerdasan mesin (AI)?

Keresahan ini bukan cuma datang dari sineas maupun seniman semata, tapi juga pada para penikmatnya. Evangeline Lilly, yang kita kenal lewat perannya sebagai The Wasp, secara terbuka menyuarakan kekhawatiran tentang bagaimana AI mulai mengambil alih ruang-ruang kreatif. Bukan sebatas alat bantu, tapi sesuatu yang berpotensi menggantikan.

Sudah semengerikan itu?

Selama ini, kita percaya, seni adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Lahir dari emosi, pengalaman personal, bahkan dari sesuatu yang seringkali nggak bisa dijelaskan dengan logika. Misalnya , seorang ilustrator nggak hanya menggambar wajah, tapi juga menyelipkan rasa lelah di balik mata, atau harapan kecil di lengkung bibir. Dan penulis nggak sekadar merangkai kata, tapi menyelundupkan kenangan, trauma, atau dari pengalaman cinta menyakitkan. 

Dan ketika AI lahir, dengan kecepatan yang hampir nggak masuk akal, ‘mereka’ belajar dari jutaan, bahkan miliaran, sempel karya yang sudah ada. Yup, AI menyerap gaya, pola, komposisi, bahkan ‘rasa’ yang selama ini dianggap eksklusif milik manusia. Dalam hitungan detik, AI bisa menghasilkan video maupun gambar yang tampak seperti dilukis berhari-hari. AI bisa menulis cerita yang terasa “hidup,” padahal ‘mereka’ sendiri nggak bernyawa. 

Di permukaan, ini merupakan kemajuan. Namun, kalau kita diam lebih lama sedikit, ada yang terasa janggal. Apakah hasil dari semua itu adalah kreativitas? Atau hanya tiruan dari kreativitas manusia yang dikumpulkan, dipelajari, lalu diputar ulang dalam bentuk baru?

Di sinilah banyak sineas maupun seniman mulai merasa nggak nyaman. Karena apa yang dilakukan AI seringkali nggak berdiri di ruang kosong. Iya, AI belajar dari karya manusia, seringnya tanpa izin, kredit, atau kompensasi. Seolah-olah seluruh proses panjang yang dilalui sineas (seniman) dalam hal belajar, gagal, bangkit, mencoba lagi, diringkas menjadi data yang bisa diakses kapan saja.

Dan lebih dari itu, AI nggak punya rasa lelah. Nggak butuh waktu istirahat, pun nggak mengenal yang namanya burnout. AI bisa terus menghasilkan tanpa jeda dan beban hidup.

Ironisnya, industri besar mulai melihat ini sebagai peluang. Marvel Studios misalnya, yang dulu dibangun dari kerja keras ribuan seniman visual, ilustrator, dan desainer, perlahan mulai bersentuhan dengan teknologi AI untuk efisiensi. Di sisi lain, perusahaan induknya, Disney, tentu punya kepentingan besar dalam menekan biaya produksi dan mempercepat proses.

Masuk akal secara bisnis, tapi belum tentu adil secara manusia.Karena di balik setiap visual spektakuler yang kita lihat di layar, ada orang-orang yang pernah begadang, yang mengulang desain puluhan kali, sampai ada yang pernah meragukan dirinya sendiri hanya untuk menghasilkan satu frame autentik. Ketika AI mulai mengambil alih sebagian proses itu, yang hilang bukan cuma pekerjaan, tapi juga ruang bagi manusia untuk mengekspresikan dirinya.

Barangkali sebagian orang akan bilang, ‘Yang penting hasilnya bagus.” Itu nggak sepenuhnya salah sih, tapi seni nggak pernah hanya tentang hasil. Seni juga tentang perjalanan, dan siapa yang membuatnya, kenapa dibuat, dan apa yang ingin disampaikan.

Namun di sisi lain, menolak AI sepenuhnya juga agaknya nggak realistis. Teknologi ini sudah ada, dan akan terus berkembang. Mungkin pertanyaannya bukan lagi ‘apakah kita harus melawan’, tapi ‘bagaimana kita hidup berdampingan tanpa kehilangan esensi kita sebagai manusia?’

Mungkin yang benar-benar harus kita jaga bukanlah dominasi manusia atas mesin, tapi makna dari kreativitas itu sendiri. Okelah, AI bisa belajar membuat seni. Namun, menjadi manusia, dengan segala luka, keraguan, dan harapannya, itu sesuatu yang nggak bisa diunduh. 

Menurut Sobat Yoursay, seberapa penting AI dalam kehidupan sehari-hari kalian? 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda