Ulasan
Sisi Gelap Politik di Balik Budaya Pop Indonesia dalam Buku Ariel Heryanto
Awalnya saya mengambil buku Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia hanya karena ada wajah Choi Si-won di sampulnya.
Saya pikir isinya akan ringan, mungkin sekadar membahas budaya populer dan fenomena hiburan Asia yang sedang digandrungi anak muda Indonesia. Namun dugaan itu ternyata jauh meleset.
Buku karya Ariel Heryanto yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2015 ini justru terasa seperti membaca hasil riset akademik yang sangat serius, padat, tetapi tetap menarik untuk diikuti.
Hampir setiap halaman dipenuhi footnote panjang yang menunjukkan betapa mendalam penelitian yang dilakukan penulis. Meski begitu, buku ini tidak terasa kaku seperti jurnal ilmiah.
Isi Buku
Ariel Heryanto berhasil membahas budaya populer Indonesia dengan cara yang luwes dan relevan. Ia membawa pembaca melihat bagaimana layar. Baik bioskop, televisi, hingga media sosial membentuk identitas masyarakat Indonesia setelah runtuhnya rezim Orde Baru.
Alih-alih memandang hiburan hanya sebagai sesuatu yang dangkal, Ariel justru menunjukkan bahwa apa yang ditonton masyarakat sebenarnya bisa menjelaskan bagaimana sebuah bangsa berpikir, merasa, bahkan mencari identitas dirinya.
Salah satu pembahasan paling menarik dalam buku ini adalah tentang ledakan budaya populer Asia Timur, terutama K-Pop, di Indonesia. Fenomena ini sering dianggap sekadar tren anak muda, tetapi Ariel membacanya lebih dalam sebagai bagian dari pencarian identitas masyarakat Indonesia pasca-Orde Baru.
Menurut buku ini, setelah puluhan tahun hidup di bawah kontrol negara yang ketat, masyarakat Indonesia seperti mengalami “restart” identitas setelah reformasi 1998. Orang-orang mulai mencari bentuk kebebasan baru, termasuk melalui budaya populer yang mereka konsumsi.
Karena itu tidak mengherankan jika budaya Korea, drama Asia Timur, hingga gaya hidup populer Islami berkembang sangat pesat di Indonesia. Semua itu bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari dinamika sosial dan politik masyarakat modern.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah keberaniannya membahas topik-topik sensitif yang jarang disentuh dalam pembicaraan budaya populer Indonesia. Ariel Heryanto membahas isu kekerasan 1965, nasionalisme, premanisme, hingga bagaimana sejarah tertentu sengaja dihapus atau dibelokkan dalam ingatan publik.
Buku ini juga menunjukkan bahwa layar bukan ruang netral.
Film, televisi, dan media massa selalu membawa kepentingan politik, ideologi, dan pasar. Bahkan nasionalisme pun sering dibentuk melalui industri hiburan. Ariel mencontohkan bagaimana film-film Indonesia era 2000-an kembali dipenuhi semangat nasionalisme setelah sebelumnya industri film lokal sempat didominasi tema erotis dan thriller pada dekade 1990-an.
Film seperti Laskar Pelangi, Gie, hingga trilogi Merah Putih menjadi contoh bagaimana layar digunakan untuk membangun rasa bangga sebagai orang Indonesia.
Pembahasan ini terasa sangat menarik karena Ariel tidak hanya menganalisis isi filmnya, tetapi juga bagaimana penonton menikmatinya. Mengapa masyarakat begitu tersentuh oleh cerita tentang perjuangan, pendidikan, dan nasionalisme? Mengapa simbol seperti Garuda atau lagu Indonesia Raya begitu mudah membangkitkan emosi kolektif?
Semua itu dibedah dengan sangat rinci.
Kelebihan dan Kekurangan
Yang saya sukai dari buku ini adalah kemampuannya menghubungkan banyak aspek sekaligus: politik, agama, teknologi, pasar, dan budaya populer. Ariel Heryanto menunjukkan bahwa budaya pop tidak pernah berdiri sendiri.
Apa yang viral, apa yang ditonton, dan apa yang digemari masyarakat selalu berkaitan dengan kondisi sosial-politik zamannya.
Misalnya ketika masyarakat Indonesia marah besar terhadap penggunaan lagu “Rasa Sayange” oleh Malaysia atau pembakaran bendera Merah Putih di luar negeri. Reaksi emosional terhadap simbol budaya ternyata menunjukkan betapa identitas nasional dibentuk dan dipertahankan melalui media.
Buku ini juga menarik karena fokusnya pada kelas menengah perkotaan Indonesia. Kelompok inilah yang menjadi konsumen utama budaya layar sekaligus penentu arah tren populer. Dari sinilah muncul fenomena hijrah Islami, budaya fandom K-Pop, hingga gaya hidup modern yang bercampur dengan konservatisme agama.
Meskipun membahas teori budaya dan politik yang cukup kompleks, bahasa dalam buku ini tetap terasa mudah dicerna. Terjemahannya juga sangat baik sehingga pembaca tidak merasa sedang membaca teks akademik berat.
Pada akhirnya, Identitas dan Kenikmatan bukan sekadar buku tentang hiburan. Buku ini adalah cara membaca Indonesia melalui apa yang ditontonnya. Dan mungkin benar: di Indonesia, layar jauh lebih berpengaruh daripada tulisan dalam membentuk cara masyarakat memahami diri mereka sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia
- Penulis: Ariel Heryanto
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tahun Terbit: 2015
- Tebal: xvi + 350 halaman
- ISBN: 978-979-91-0886-9
- Kategori: Non Fiksi, Budaya, Seni