Kolom
Di Balik Modal Sarjana: Pendidikan Tinggi dan Racun Bernama Prestise Sosial
Salah satu sisi paling ironis dari pendidikan tinggi hari ini adalah kenyataan bahwa gelar tidak selalu membebaskan seseorang dari kesulitan hidup. Kadang justru sebaliknya.
Gelar berubah menjadi jebakan gengsi yang membuat seseorang takut mengambil pekerjaan apa pun yang dianggap tidak selevel dengan pendidikannya.
Kita hidup di zaman ketika kuliah dijual sebagai tiket menuju kehidupan mapan. Sejak kecil, banyak orang diajarkan pola yang sama. Sekolah yang rajin, masuk universitas, cari kerja kantoran, duduk di ruangan ber-AC, lalu hidup sukses.
Narasi ini begitu kuat sampai-sampai pekerjaan di luar standar tersebut dianggap gagal, bahkan memalukan.
Akibatnya, banyak lulusan sarjana akhirnya terjebak dalam situasi yang aneh. Mereka butuh uang, butuh pengalaman, bahkan butuh aktivitas untuk bertahan hidup, tetapi terlalu malu mengambil pekerjaan yang dianggap rendahan oleh lingkungan sosial.
Menjadi pengemudi ojek online, kasir, pelayan toko, buruh gudang, atau pekerja informal lainnya terasa seperti pengakuan bahwa kuliah bertahun-tahun sia-sia.
Padahal persoalannya bukan pada pekerjaannya, melainkan pada cara masyarakat memandang kerja itu sendiri.
Kita terlalu lama memuliakan profesi berdasarkan citra, bukan nilai kerja. Pekerjaan dianggap bergengsi kalau dilakukan di gedung tinggi, memakai pakaian rapi, dan memiliki jabatan yang terdengar keren di LinkedIn. Sementara pekerjaan yang membuat tangan kotor, kulit terbakar matahari, atau menuntut tenaga fisik sering dipandang sebelah mata, meskipun hasilnya mungkin lebih halal, jujur, dan realistis.
Lebih menyedihkan lagi, tekanan itu tidak datang dari diri sendiri saja. Lingkungan sosial ikut memperparah keadaan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana tetapi sangat menekan. Lulusan mana? Kerja di mana sekarang? Gajinya berapa?
Bahkan biaya kuliah pun sering dijadikan bahan perbandingan dengan penghasilan setelah lulus. Seolah pendidikan harus selalu dihitung seperti investasi bisnis. Kuliah mahal harus dibayar dengan gaji tinggi agar dianggap balik modal.
Cara berpikir seperti ini berbahaya karena mengubah pendidikan menjadi semata alat ekonomi, bukan proses pembentukan manusia. Nilai seseorang akhirnya diukur bukan dari kemampuan bertahan, belajar, atau beradaptasi, melainkan dari seberapa mentereng pekerjaannya setelah wisuda.
Di titik inilah banyak lulusan muda mengalami krisis mental diam-diam. Mereka tidak malas bekerja. Mereka hanya takut dicap gagal.
Ada yang akhirnya memilih menganggur berbulan-bulan sambil menunggu pekerjaan yang sesuai jurusan. Ada yang terus mengejar tes sana-sini demi status pekerjaan tertentu. Ada yang diam-diam kesulitan finansial tetapi tetap mempertahankan citra sukses di media sosial. Sebab dalam masyarakat kita, bekerja apa saja sering dianggap lebih memalukan daripada tidak bekerja sama sekali.
Padahal realitas hidup tidak sesederhana teori motivasi kampus.
Pasar kerja berubah cepat. Lapangan kerja formal terbatas. Persaingan makin padat. Tidak semua orang bisa langsung mendapat pekerjaan ideal setelah lulus. Dan sebenarnya, tidak ada yang hina dari bekerja selama pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain.
Ironinya, banyak orang yang sukses hari ini justru memulai hidup dari pekerjaan yang jauh dari kata prestisius. Ada yang pernah jadi pelayan restoran, kurir, penjaga toko, hingga ojek online sebelum akhirnya menemukan jalan hidupnya. Mereka bertahan bukan karena gengsi, tetapi karena memahami bahwa bekerja adalah soal bertahan hidup dan menjaga martabat diri.
Masalah terbesar pendidikan tinggi kita mungkin bukan sekadar mahalnya biaya kuliah atau sempitnya lapangan kerja, tetapi cara sistem membentuk ekspektasi yang terlalu sempit tentang kesuksesan. Kampus sering mencetak sarjana yang siap mengejar status, tetapi tidak siap menghadapi kenyataan hidup yang keras dan fleksibel.
Kita jarang diajarkan bahwa hidup kadang berjalan tidak lurus. Bahwa seseorang bisa saja menjadi sarjana lalu bekerja apa pun dulu untuk bertahan. Bahwa pekerjaan sementara bukan akhir dunia. Bahwa nilai manusia tidak runtuh hanya karena belum mendapat pekerjaan impian.
Karena sesungguhnya yang lebih berbahaya dari pekerjaan sederhana adalah mentalitas yang terlalu takut terlihat gagal. Sebab rasa gengsi itulah yang diam-diam membuat banyak orang kehilangan kesempatan untuk bergerak, belajar, dan bertahan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang pekerjaan berdasarkan prestise sosial semata. Sebab dunia nyata tidak selalu bertanya apa gelar kita. Kadang hidup hanya bertanya satu hal sederhana: mau bertahan atau tidak.