Ulasan

Kritik yang Menyentil Keserakahan Manusia dalam Kokokan Mencari Arumbawangi

Kritik yang Menyentil Keserakahan Manusia dalam Kokokan Mencari Arumbawangi
Kokokan Mencari Arumbawangi (Dok. Pribadi/Oktavia)

Di tengah derasnya novel fantasi modern yang penuh dunia megah dan sihir rumit, Kokokan Mencari Arumbawangi karya Cyntha Hariadi menghantam emosi pembaca secara perlahan dengan isu realitasnya.

Novel yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama ini bukan sekadar dongeng tentang anak dari langit, melainkan kisah tentang manusia, alam, dan luka yang lahir dari keserakahan.

Novel setebal 348 halaman ini mengisahkan kehidupan Nanamama bersama kedua anaknya, Kakaputu dan Arumbawangi, di sebuah desa agraris di Bali. Kehidupan mereka sederhana, dekat dengan tanah, sawah, dan alam. Namun ketenangan itu perlahan retak ketika pembangunan mulai masuk ke desa mereka.

Sinopsis Novel

Arumbawangi sendiri bukan anak biasa. Ia ditemukan jatuh dari langit, dibawa oleh burung kokokan burung kuntul putih yang bermigrasi dan dipercaya masyarakat sebagai pertanda tertentu. Tubuhnya jatuh di kebun bawang milik Nanamama. Karena itulah ia diberi nama Arumbawangi.

Premisnya terdengar seperti dongeng klasik. Namun justru di sanalah kekuatan novel ini. Cyntha Hariadi membangun dunia yang surealis tetapi terasa sangat dekat dengan kenyataan Indonesia hari ini.

Sejak kecil, Arumbawangi dianggap berbeda. Banyak warga desa memandangnya sebagai pembawa sial, anak aneh, bahkan sosok yang dirasuki roh jahat. Padahal ia hanyalah anak kecil yang ingin dicintai. Kalimat, “Arumbawangi tidak terlahir sedih, orang lain yang membuatnya,” menjadi inti emosional novel ini. Kesedihan lahir bukan semata dari takdir, melainkan dari cara manusia memperlakukan sesamanya.

Di sisi lain, Kakaputu sebagai kakak digambarkan begitu manusiawi. Ia melindungi Arumbawangi dengan cinta yang sederhana tetapi kuat. Hubungan kakak-adik dalam novel ini terasa hangat sekaligus memilukan. Cyntha tidak membuat tokoh-tokohnya hitam-putih. Semua memiliki sisi baik dan buruk yang saling bertabrakan.

Konflik utama muncul ketika seorang pengusaha datang dengan rencana pembangunan hotel dan vila di desa mereka. Sebagian warga tergiur janji kemakmuran. Tanah-tanah mulai dijual. Sawah yang dulu menjadi sumber hidup perlahan berubah menjadi komoditas.

Namun Nanamama menolak.

Baginya, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Tanah adalah kehidupan itu sendiri. Ada satu kutipan yang terasa sangat kuat: Tanah ini akan mati. Kami semua.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi kritik tajam terhadap pembangunanisme yang kerap mengorbankan alam demi keuntungan jangka pendek.

Kelebihan dan Kekurangan

Novel ini seperti sedang bercermin pada realitas Indonesia hari ini, ketika sawah berubah menjadi resort, hutan dibabat demi vila, dan masyarakat lokal perlahan tersingkir dari ruang hidupnya sendiri.

Menariknya, Cyntha Hariadi tidak menyampaikan kritik sosial dengan cara menggurui. Ia membungkus semuanya lewat metafora dan simbol. Burung kokokan melambangkan sesuatu yang asing tetapi membawa kehidupan. Burung pipit menjadi simbol parasit yang merusak perlahan. Sementara drone yang muncul di cerita terasa seperti lambang modernitas yang dingin dan mengawasi.

Karena itulah novel ini terasa sangat kreatif. Ia menghadirkan kritik tak langsung namun tetap tajam tanpa kehilangan marwah akan pesan yang ingin disampaikan. 

Hal lain yang membuat novel ini begitu menonjol adalah gaya bahasanya. Cyntha Hariadi menulis dengan diksi yang puitis tanpa terasa berlebihan. Banyak kalimat yang terasa seperti puisi. Bahkan ketika menggambarkan kesedihan, narasinya tetap lembut dan indah.

Meski dikategorikan sebagai dongeng, novel ini jauh dari kesan kekanak-kanakan. Justru ia berbicara tentang isu yang sangat dewasa: eksploitasi alam, ketimpangan kuasa, prasangka sosial, hingga trauma kehilangan. Dongeng di tangan Cyntha berubah menjadi medium kritik sosial yang tajam.

Hal yang paling menarik, novel ini tidak menawarkan kemenangan mutlak. Tidak semua perjuangan berhasil. Tidak semua orang baik menang. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia terasa jujur terhadap kenyataan hidup.

Kokokan Mencari Arumbawangi adalah pengingat bahwa kerusakan alam sering kali berawal dari keserakahan manusia sendiri. Bahwa modernisasi tidak selalu berarti kemajuan. Dan bahwa anak-anak kadang mampu melihat kemanusiaan lebih jernih daripada orang dewasa.

Novel ini bukan hanya bacaan yang indah, tetapi juga penting. Sebuah dongeng yang diam-diam sedang menegur kita semua.

Identitas Buku

  • Judul: Kokokan Mencari Arumbawangi
  • Penulis: Cyntha Hariadi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
  • Tahun Terbit: 2025
  • ISBN: 978-602-06-4025-9
  • Tebal: 348 halaman
  • Kategori: Novel Sastra, Fiksi Anak, Dongeng

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda