Ulasan

Noah Kahan: Out of Body, Bukan Soal Tenar, tapi Tentang Bertahan Setelahnya

Noah Kahan: Out of Body, Bukan Soal Tenar, tapi Tentang Bertahan Setelahnya
Poster Film Noah Kahan: Out of Body (Netflix)

Pernah nggak sih membayangkan bagaimana rasanya ketika mimpi terbesar akhirnya tercapai, tapi kebahagiaan yang dibayangkan ternyata nggak datang sepenuhnya? Banyak orang mengira ketenaran adalah garis akhir dari perjuangan. Setelah terkenal, kaya, punya jutaan penggemar, hidup seolah-olah otomatis sempurna. Namun, kenyataannya nggak sesederhana itu. Di balik sorotan lampu panggung, ada tekanan, rasa takut, kecemasan, bahkan pergulatan batin yang mungkin nggak pernah terlihat publik.

Hal itulah yang coba diangkat Film Noah Kahan: Out of Body, dokumenter musik yang nggak sekadar menampilkan perjalanan penyanyi menuju puncak popularitas. Film ini pun membedah sisi paling pribadi dari sosok yang sedang berada di fase hidup terombang-ambing. Bukan tentang ‘lihat betapa suksesnya aku’, melainkan ‘apa yang terjadi setelah semua impian itu tercapai?’

Disutradarai Nick Sweeney, film dokumenter ini diproduksi dan didistribusikan Netflix. Dokumenter yang rilis pada 13 April 2026 ini berdurasi ±94 menit dengan rating R. Dalam dokumenter, Noah Kahan sebagai dirinya sendiri. Karena formatnya dokumenter personal, film ini juga menghadirkan keluarga serta orang-orang terdekat Noah yang ikut memberi gambaran tentang kehidupan sang musisi di balik panggung.

Penasaran? Kepoin bareng, yuk!

Sekilas Kisah Film Noah Kahan: Out of Body

Foto Noah Kahan dalam dokumenter (Netflix)
Foto Noah Kahan dalam dokumenter (Netflix)

Film ini mengajak penonton mengikuti perjalanan Noah Kahan dari anak yang tumbuh di Strafford, Vermont, kota kecil yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk dunia hiburan.

Sejak kecil Noah sudah dekat dengan musik. Dia menulis lagu dan mulai menciptakan karya sejak remaja. Namun, titik balik besar dalam hidupnya datang saat pandemi melanda dunia.

Ketika sebagian orang terjebak di rumah dan merasa kehilangan arah, Noah mengalami situasi yang sama. Dia kembali tinggal di rumah masa kecilnya bersama keluarga. Dalam keterasingan dan kebingungan itu, lahirlah proses kreatif yang nantinya berubah menjadi album Stick Season.

Melalui TikTok, Noah mulai mengunggah potongan lagu yang sedang dia tulis. Tanpa disangka, karya-karya itu berkembang menjadi fenomena besar. Sedikit demi sedikit namanya melesat, hingga akhirnya dia berubah dari musisi yang menulis lagu di ruang tamu menjadi bintang yang tampil di panggung-panggung raksasa.

Namun film ini nggak berhenti pada kisah sukses tersebut. Di tengah popularitas besar, Noah mulai bergulat dengan pertanyaan yang lebih rumit: bagaimana cara membuat karya hebat lagi setelah sukses luar biasa? Apakah dirinya masih orang yang sama? Dan apakah ketenaran membawa kebahagiaan?

Pertanyaan itu menjadi benang merah sepanjang dokumenter. Dan Sobat Yoursay perlu banget meresapi perjalanan hidup nyata sang penyanyi langsung di Netflix deh!

Review Film Noah Kahan: Out of Body

Bagian dari Poster Film Noah Kahan: Out of Body (Netflix)
Bagian dari Poster Film Noah Kahan: Out of Body (Netflix)

Saat nonton ‘Noah Kahan: Out of Body’, aku langsung merasa dokumenter ini punya pendekatan yang berbeda dibanding dokumenter musik pada umumnya.

Biasanya film seperti ini sering terasa kayak rangkaian penghargaan panjang untuk sang artis. Kita diperlihatkan perjuangan, potongan konser megah, lalu kisah sukses besar yang dibuat seindah mungkin. Semuanya terlihat sempurna. Namun, dokumenter ini malah melakukan kebalikannya.

Alih-alih sibuk membangun citra Noah sebagai sosok luar biasa tanpa cela, film justru memperlihatkan sisi yang mungkin selama ini disembunyikan banyak figur publik. Dan menurutku, itu keputusan yang sangat menarik.

Aku cukup terkejut ketika film mulai membahas rasa nggak aman Noah terhadap dirinya sendiri. Di tengah ketenarannya, Noah ternyata menyimpan banyak kecemasan. Dia terbuka soal depresi, rasa gelisah berlebihan, sampai body dysmorphia (kondisi ketika seseorang memiliki persepsi negatif terhadap bentuk tubuhnya sendiri). 

Lebih suka lagi, karena semuanya disampaikan tanpa kesan dibuat-buat. Yup, nggak ada adegan dramatis berlebihan, sampai usaha memancing air mata secara paksa. Noah hanya bercerita sebagai manusia biasa yang kebetulan hidup di bawah sorotan jutaan orang.

Aku juga suka bagaimana film ini mengangkat konflik yang mungkin jarang dipikirkan orang: rasa takut setelah sukses.

Biasanya orang bermimpi mencapai puncak. Namun, bagaimana kalau seseorang sudah sampai di sana saat usia masih sangat muda? Film ini berulang kali memperlihatkan keresahan Noah terhadap karya berikutnya. 

Dia mempertanyakan apakah dirinya masih mampu menulis lagu sehebat sebelumnya. Dulu Noah menulis Stick Season ketika hidupnya dipenuhi ketidakpastian, tinggal di rumah orang tuanya, dan merasa terjebak dalam situasi pandemi. Sekarang kehidupannya berubah total. Punya uang, ketenaran, jutaan penggemar, dan jadwal konser besar.

Menurutku, konflik seperti ini membuat dokumenter terasa jauh lebih manusiawi. Ada pula bagian keluarga yang cukup hangat. Hubungan Noah dengan orang tua serta saudara-saudaranya terasa dekat dan alami. Dokumenter menunjukkan bagaimana pengalaman keluarga ikut membentuk dirinya sebagai musisi.

Film juga membahas trauma keluarga, kecelakaan ayahnya, hingga perceraian orang tuanya yang ternyata ikut memengaruhi proses kreatif Noah. Menariknya, semua kisah itu nggak dibuat menjadi drama murahan.

Setelah selesai nonton, aku nggak merasa sedang melihat perjalanan selebritas. Aku kayak baru mendengar seseorang berbicara dengan sangat jujur tentang hidupnya. Percaya nggak percaya, coba tonton sendiri. Selamat nonton ya. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda