Ulasan
Mengatur Kembali Arah Hidup dari Buku Tiada Ojek di Paris
Buku Tiada Ojek di Paris karya Seno Gumira Ajidarma, diterbitkan oleh Mizan pada tahun 2015. Lewat kumpulan esai yang tajam sekaligus menghibur, Seno Gumira Ajidarma mengajak pembaca menyusuri wajah kota metropolitan Jakarta dengan segala absurditas, kemacetan, kegelisahan, dan ironi kehidupan modernnya.
“Kota bukanlah hutan beton, kota adalah kebun binatang manusia.”
Kutipan dari Desmond Morris dalam The Human Zoo itu terasa sangat cocok untuk menggambarkan isi buku Tiada Ojek di Paris. Buku ini adalah kumpulan esai yang sebelumnya pernah dimuat dalam Affair (2004), Kentut Kosmopolitan (2008), serta berbagai tulisan di Djakarta! free-mag hingga tahun 2013.
Setiap tulisan seperti potongan kecil kehidupan kota yang tampak biasa, tetapi menyimpan kritik sosial yang dalam.
Isi Buku
Judulnya sendiri sudah menarik perhatian: Tiada Ojek di Paris. Kalimat itu terdengar lucu, tetapi sekaligus menyentil. Sebab hanya di Jakarta kita bisa menemukan fenomena unik seperti eksekutif berdasi yang terburu-buru naik ojek demi mengejar rapat di gedung pencakar langit.
Ojek bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol adaptasi manusia urban terhadap kota yang bergerak terlalu cepat.
Di tangan Seno Gumira Ajidarma, Jakarta tidak hanya dipotret sebagai ibu kota dengan gedung tinggi dan jalan macet. Jakarta tampil sebagai laboratorium sosial tempat manusia modern mempertaruhkan kewarasan mereka setiap hari. Kota memaksa manusia berpikir cepat, bergerak cepat, bahkan merasa cepat tua. Waktu menjadi sesuatu yang sangat mahal, sementara ruang semakin sempit dan sesak.
Yang menarik, Seno tidak mengkritik kota dengan nada marah atau menggurui. Ia justru memakai gaya yang ringan, satire, kadang jenaka, tetapi diam-diam menusuk. Pembaca bisa tertawa pada satu paragraf, lalu tiba-tiba terdiam pada paragraf berikutnya karena merasa sedang menertawakan diri sendiri.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kemampuannya menangkap perubahan perilaku manusia akibat modernitas. Kota metropolitan membuat manusia hidup dalam ritme yang melelahkan: terburu-buru, individualistis, dan sering kali kehilangan kepekaan.
Orang-orang hidup berdampingan secara fisik, tetapi saling asing secara emosional. Ironisnya, semakin modern kehidupan manusia, semakin besar pula rasa kesepian yang mereka rasakan.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana manusia urban sering kali terjebak dalam ilusi kemodernan. Kita merasa maju karena dikelilingi teknologi, pusat perbelanjaan, dan gedung mewah, tetapi diam-diam kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak dan menikmati hidup. Kota seolah mengajarkan bahwa manusia harus terus bergerak. Diam sedikit saja terasa seperti kegagalan.
Di sinilah esai-esai dalam buku ini terasa relevan bahkan hari ini. Meski sebagian tulisan lahir lebih dari satu dekade lalu, kegelisahan yang dibahas masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat perkotaan sekarang. Kemacetan, budaya konsumtif, tuntutan produktivitas, hingga hubungan sosial yang semakin dangkal masih menjadi wajah kota modern.
Yang membuat Tiada Ojek di Paris berbeda dari buku-buku urban lainnya adalah sudut pandangnya yang sangat manusiawi. Seno tidak hanya berbicara tentang kota sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai ruang psikologis yang membentuk cara manusia berpikir dan hidup.
Kota bukan sekadar kumpulan beton dan lampu jalan, melainkan arena tempat manusia bertarung dengan ambisi, ketakutan, dan kesepiannya sendiri.
Bahasa yang digunakan pun terasa cair dan akrab. Tidak berat seperti tulisan akademik, tetapi tetap cerdas dan bernas. Pembaca tidak perlu menjadi pengamat sosial untuk menikmati buku ini. Bahkan justru orang-orang yang setiap hari hidup di tengah hiruk-pikuk kota akan merasa paling dekat dengan apa yang dituliskan.
Pesan Moral
Pada akhirnya, Tiada Ojek di Paris bukan hanya buku tentang Jakarta. Ia adalah refleksi tentang manusia modern yang hidup dalam dunia serbacepat, tetapi diam-diam kehilangan arah.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat ulang kehidupan urban yang selama ini dianggap biasa. Tentang bagaimana kita berlari setiap hari, mengejar waktu, terjebak rutinitas, dan lupa bertanya: sebenarnya untuk apa semua ini?
Dan mungkin, setelah menutup buku ini, pembaca akan menyadari satu hal sederhana: modernitas memang membuat hidup lebih cepat, tetapi belum tentu membuat manusia lebih bahagia.
Identitas Buku
- Judul Buku: Tiada Ojek di Paris
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Mizan
- Tahun Terbit: Cetakan I, April 2015
- Tebal: 207 Halaman
- ISBN: 978-979-433-846-9