Ulasan

Perjalanan Hidup Pangeran Tinju di Atas Ring dalam Film Giant

Perjalanan Hidup Pangeran Tinju di Atas Ring dalam Film Giant
Film Giant [imdb.com]

Film "Giant" bergenre olahraga paling emosional dan penuh gaya. Film ini tidak hanya bercerita tentang tinju, ini adalah sebuah motivasi untuk kegigihan, identitas, dan hubungan mentor-murid yang rumit.

Disutradarai oleh Rowan Athale dan diproduseri secara eksekutif oleh legenda film tinju, Sylvester Stallone, Giant membawa kita menyelami kehidupan "Sang Pangeran" ring tinju yang pernah mengguncang dunia.

"Giant" mengangkat kisah nyata yang luar biasa dari Naseem Hamed (diperankan dengan penuh karisma oleh Amir El-Masry), seorang pemuda Inggris keturunan Yaman yang tumbuh di lingkungan kelas pekerja di Sheffield.

Sejak kecil, Naseem atau yang akrab disapa "Naz", harus menghadapi kerasnya jalanan dan rasisme yang merajalela di Inggris tahun 1980-an.

Takdir mempertemukannya dengan Brendan Ingle (Pierce Brosnan), seorang pekerja baja yang juga mengelola tempat tinju sederhana di ruang bawah tanah gereja. Brendan bukan sekadar pelatih, ia adalah filsuf bagi Naz. Ia mengajarkan gaya tinju yang tidak ortodoks, tangan di bawah, gerakan kaki seperti menari, dan kepercayaan diri yang hampir terlihat sombong untuk menaklukkan lawan yang secara fisik lebih kuat.

Sinopsis

Film ini mengikuti perjalanan kilat Naz dari seorang anak imigran yang di-bully hingga menjadi juara dunia kelas yang ikonik. Kita dibawa melihat bagaimana Naz mengubah kebencian dan rasisme yang ia terima menjadi bahan bakar di atas ring.

Namun, seiring dengan popularitasnya yang meroket dan kekayaan yang melimpah, hubungan erat antara Naz dan Brendan mulai mengalami keretakan. Keangkuhan Naz dan pengaruh industri promotor besar mulai menguji kesetiaannya kepada sang guru yang telah membentuknya dari nol.

Bintang utama film ini jelas adalah Amir El-Masry. Ia berhasil menangkap esensi Prince Naseem Hamed dengan sempurna, mulai dari gaya berjalan yang sombong, gerakan backflip ikonik saat masuk ring, hingga rapuhnya seorang pemuda yang mencoba mencari jati diri di tengah dua budaya.

Visual "Giant" patut diacungi jempol. Sutradara Rowan Athale berhasil menghidupkan kembali suasana Sheffield tahun 80-an yang kelabu dan penuh tekanan sosial. Kontras antara gym tua yang kumuh dengan gemerlapnya Madison Square Garden di New York digambarkan secara dramatis.

Adegan pertarungannya pun tidak terasa seperti film aksi biasa. Sinematografinya membuat kita merasa berada di pojok ring, merasakan setiap hembusan napas dan keringat yang bercucuran. Penggunaan musik dan ritme dalam adegan tinju mencerminkan karakter Naz yang memang menganggap tinju adalah sebuah pertunjukan seni.

Yang membuat Giant berbeda dari film tinju seperti Rocky atau Creed adalah fokusnya pada isu identitas. Film ini dengan berani mengeksplorasi bagaimana rasanya menjadi "orang asing" di negeri sendiri. Bagi Naz, tinju bukan hanya soal menang kalah, tapi soal membuktikan bahwa seorang anak Yaman-Inggris bisa berdiri tegak di atas dunia.

Film ini juga memberikan pelajaran berharga tentang kerendahan hati. Kita melihat bagaimana kesuksesan bisa menjadi pedang bermata dua. Saat Naz berada di puncak, ia mulai melupakan akar dan sosok yang membantunya mendaki. Bagian akhir film ini sangat emosional dan kemungkinan besar akan membuat mata penonton berkaca-kaca.

"Giant" adalah sebuah perjalanan sinematik yang memukau. Ringan untuk dinikmati karena alurnya yang dinamis, namun cukup berat untuk direnungkan karena pesan yang dibawanya. Ini bukan hanya film untuk penggemar olahraga, tapi untuk siapa saja yang pernah merasa diremehkan atau sedang berjuang mengejar mimpi besar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda