Ulasan

Belajar dari The Story of My Life: Menyerah Tak Akan Mengubah Keadaan

Belajar dari The Story of My Life: Menyerah Tak Akan Mengubah Keadaan
The Story of My Life (Dok.Pribadi/Oktavia)

Pertama kali aku mengenal nama The Story of My Life justru bukan dari buku Helen Keller secara langsung, melainkan dari novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye. Di bagian belakang novel itu memang dijelaskan bahwa kisahnya merupakan retelling dari perjalanan hidup Helen Keller.

Sejak saat itu, aku penasaran seperti apa sosok asli perempuan luar biasa tersebut. Dan akhirnya, ketika bertemu langsung dengan buku autobiografi Helen Keller, aku sadar bahwa buku ini jauh lebih besar daripada sekadar kisah inspiratif biasa.

Menurutku, The Story of My Life bukan hanya autobiografi. Buku ini adalah catatan penting tentang pendidikan, psikologi, komunikasi, bahkan sejarah perkembangan metode pembelajaran bagi penyandang disabilitas.

Di masa ketika dunia masih kebingungan memahami cara berkomunikasi dengan orang tuli dan buta, kisah Helen Keller hadir seperti cahaya yang membuka jalan baru.

Sinopsis Buku

Helen Keller lahir sebagai bayi normal pada tahun 1880. Namun ketika usianya baru 19 bulan, penyakit misterius merenggut penglihatan dan pendengarannya secara permanen. Bayangkan seorang anak kecil yang tiba-tiba terperangkap dalam dunia gelap dan sunyi tanpa kemampuan memahami bahasa.

Kondisi itu membuat Helen kecil tumbuh frustrasi, mudah marah, agresif, dan sulit mengendalikan emosi.

Dalam buku ini, Helen menggambarkan betapa mengerikannya hidup tanpa komunikasi. Ia tahu ada sesuatu di luar dirinya, tetapi tidak mampu memahami atau menjelaskan apa yang dirasakannya. Salah satu kutipan paling menyentuh adalah ketika ia menulis:

“Semakin hari, isyarat yang kugunakan semakin tak memadai, dan kegagalanku untuk membuat orang lain memahamiku selalu diiringi ledakan kemarahan.”

Titik balik kehidupan Helen dimulai saat hadirnya Anne Sullivan, guru muda yang kemudian mengubah hidupnya selamanya. Anne bukan hanya pengajar, melainkan jembatan antara Helen dan dunia.

Dengan kesabaran luar biasa, ia mengajarkan kata demi kata melalui sentuhan tangan. Prosesnya sangat panjang dan melelahkan, tetapi dari sanalah Helen mulai memahami bahwa setiap benda memiliki nama dan makna.

Bagian inilah yang menurutku paling menakjubkan. Anne Sullivan bukan sekadar guru biasa. Ia adalah bukti bahwa pendidikan yang penuh empati mampu mengubah hidup seseorang secara total.

Apa yang dilakukan Anne pada Helen pada masa itu bahkan terasa revolusioner. Ia membantu Helen memahami konsep bahasa melalui metode sentuhan, sesuatu yang kini menjadi dasar penting dalam pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Helen juga menceritakan bagaimana ia belajar “mendengar” melalui perabaan. Ia menyentuh tenggorokan, bibir, dan wajah lawan bicara untuk memahami ucapan mereka.

“Dalam membaca bibir guruku, aku sepenuhnya mengandalkan jari-jariku.”

Membaca kisah ini membuat kita sadar betapa sering manusia menyia-nyiakan kemampuan yang sebenarnya sudah dimiliki sejak lahir. Helen Keller yang hidup dalam kegelapan dan kesunyian justru memiliki rasa haus terhadap ilmu yang begitu besar.

Semangat belajar Helen membawanya hingga ke Radcliffe College. Ia menjadi salah satu penyandang tunanetra-tunarungu pertama yang berhasil meraih pendidikan tinggi. Tentu perjuangannya tidak mudah. Materi kuliah pada masa itu belum ramah terhadap disabilitas. Helen bahkan harus “mendengarkan” perkuliahan menggunakan tangannya.

“Aku tak bisa mencatat pada waktu kuliah, karena tanganku sibuk mendengarkan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi begitu menghantam. Sesuatu yang bagi kebanyakan orang terasa biasa, bagi Helen adalah perjuangan luar biasa.

Kelebihan dan Kekurangan

Menariknya lagi, buku ini tidak hanya berisi kisah perjuangan, tetapi juga pemikiran Helen tentang pendidikan, sastra, kehidupan, dan kebebasan berpikir. Ada satu bagian ketika Helen merasa kehidupan kampus ternyata tidak seromantis bayangannya.

“Orang-orang pergi ke kampus untuk belajar, bukan untuk berpikir.”

Kutipan tersebut terasa relevan bahkan hingga hari ini.

Tak heran jika kisah Helen Keller kemudian diadaptasi ke berbagai karya besar, termasuk drama dan film terkenal. Sosoknya menjadi simbol bahwa keterbatasan fisik tidak pernah mampu membatasi kekuatan jiwa manusia.

Pada akhirnya, The Story of My Life bukan hanya buku tentang perempuan buta dan tuli. Buku ini adalah pengingat bahwa manusia mampu melampaui keterbatasannya ketika memiliki keberanian, pendidikan, dan orang-orang yang percaya padanya.

Dan mungkin, setelah membaca kisah Helen Keller, kita akan merasa sedikit malu. Sebab dengan tubuh yang lengkap dan akses yang jauh lebih mudah, sering kali kita justru menyerah lebih cepat daripada seseorang yang hidup dalam gelap dan sunyi, tetapi tetap memilih berjalan maju.

Identitas Buku

  • Judul Asli: The Story of My Life
  • Penulis: Helen Keller
  • Penerbit: Javanica 
  • Tahun Terbit: Des 2017
  • ISBN: 9786026799319 
  • Tebal: 372 halaman
  • Genre: Otobiografi, Memoar, Biografi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda