Ulasan
Mempelajari Sastra dan Budaya dalam Buku Puisi Karya Itaru Ogasawara
Pernahkah kita merasakan sensasi aneh saat membaca sepenggal puisi? Bukan sekadar paham dengan arti katanya, tetapi ikut merasakan jatuh bangunnya cinta yang disembunyikan di balik sampiran-sampiran sederhana. Sensasi itulah yang saya rasakan pertama kali ketika menyelesaikan buku berjudul "Puisi Cinta dari Negeri Selatan", karya Itaru Ogasawara. Di tengah gemuruh dunia modern yang sering melukai perasaan, buku ini hadir sebagai pelarian paling elegan.
Buku karya Itaru Ogasawara ibarat sebuah peti harta karun yang membawa kita menjelajahi keindahan Pantun Melayu. Diterbitkan pada tahun 2020 sebanyak 217 halaman. Namun jangan salah, meski mengusung format puisi klasik, buku ini terasa sangat relevan di tahun 2026.
Keunikan tersendiri pada buku ini adalah sosok di baliknya yakni Itaru Ogasawara. Pria kelahiran Provinsi Akita, Jepang, 4 April 1955, adalah seorang warga Jepang yang jatuh cinta pada Inspirasi dari tanah selatan.
Mengenal Ogasawara yang sudah mempelajari sastra dan pantun Melayu sejak berkuliah di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) pada 1974. Ia bahkan belajar langsung di bawah bimbingan Profesor Anas Maaruf asal Minangkabau. Selama puluhan tahun berkarier di NHK Tokyo, hatinya tak pernah lepas dari irama Pantun Melayu. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan hasil riset antropologis yang dikemas dengan cinta.
Kemudian pendekatan yang digunakan "Puisi Cinta dari Negeri Selatan", karya Itaru Ogasawara ditulis berdasarkan kumpulan pantun berjudul Pantun Melayu yang disusun oleh R.J. Wilkinson (Inggris) dan R.O. Winstedt (Belanda), yang pertama kali diterbitkan pada 1955.
Pendekatan yang digunakan sangat cerdas. Ogasawara menyajikan puisi dalam bahasa Melayu asli masa lalu, lalu melengkapinya dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia modern. Struktur pantun dijelaskan secara gamblang yakni dua baris pertama adalah sampiran (pembuka) yang biasanya “tak bermakna”, tetapi berfungsi sebagai pengantar rima, sementara dua baris terakhir adalah inti pesan (isi).
Dalam buku ini, tema utama yang diangkat adalah percintaan. Meskipun pembuka puisi atau pantunnya sering kali berupa penggambaran alam atau hal-hal “nonsense”, rima yang tercipta seolah memeluk isi hati yang terdalam. Pendekatan ini membuat pembaca diajak menikmati puisi tidak hanya dari segi makna, tetapi juga dari segi permainan bunyi yang membuat hati berdesir.
Saat ini, banyak orang mencari cara untuk menjaga kesehatan mental. Data dari World Health Organization (WHO) 2025 menunjukkan bahwa angka gangguan kecemasan di kalangan usia produktif meningkat hingga 25% pasca-pandemi. Kebutuhan akan media healing yang terjangkau menjadi sangat penting.
Di sinilah peran buku sangat kuat dan tepat. Membaca pantun-pantun di buku ini terasa seperti melakukan meditasi. Bunyi-bunyi akhir yang berirama (a-b-a-b) menciptakan ritme yang menenangkan sistem saraf. Keindahan pantun terdapat pada ketukan bunyi yang mengalun teratur, memberikan rasa kepastian di tengah kekalutan zaman.
Lebih dari itu, tema cinta yang diangkat mulai dari rindu yang tertahan hingga bahagia yang meluap, tujuan buku ini untuk mengajarkan pembaca untuk mengakui dan memberi ruang pada emosi. Tidak perlu meledak-ledak. Cukup dengan merangkainya dalam empat baris.
Bagi kita yang sedang belajar menulis puisi atau pemula di dunia sastra, buku ini adalah ladang ilmu yang subur. Buku ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa untuk menghasilkan karya yang indah, seorang penulis perlu memahami rima, irama, dan struktur tradisional. Melihat bagaimana orang non-Melayu seperti Ogasawara begitu mendalami Pantun Melayu menjadi suntikan semangat bahwa tidak ada kata terlambat untuk berkarya.
Jika diamati lebih rinci, Buku berjudul "Puisi Cinta dari Negeri Selatan", karya Itaru Ogasawara menyimpan pesan bahwa cinta bukanlah hal yang asing-asing amat. Cinta adalah pengikat, pelipur, dan penyemangat. Lewat bait-bait pantun yang terangkai, kita diingatkan bahwa manusia, dari masa ke masa, merasakan hal yang sama seperti jatuh cinta, terluka, berharap, dan merindu.
Saat ini penulis buku "Puisi Cinta dari Negeri Selatan", masih aktif masih aktif sebagai tenaga lepas di NHK Tokyo untuk siaran bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia di tahun 2026. Melalui buku ini, penulis mengajarkan bahwa jati diri sebuah bangsa bisa hidup dalam karya yang dirawat dengan tulus.
Apa yang terasa setelah menamatkan Ulsan buku ini? Jujur, saya merasakan semacam kepuasan batin yang hangat, seperti:
- Pantun dan puisi yang energik: Kita akan merasa semangat bahwa bentuk puisi lama yang begitu sophisticated dapat meningkatkan kesehatan mental.
- Lebih Peka: Setelah membaca, mata dan telinga kita akan lebih peka pada diksi sehari-hari, serta bagaimana merangkai kata menjadi lebih indah.
- Inspirasi Menulis: Banyak pembaca yang langsung tergerak untuk mencoba membuat satu bait pantun setelah membaca buku ini.
Puisi Cinta dari Negeri Selatan adalah bukti bahwa sastra bisa menjadi jembatan antar generasi dan bangsa. Buku berjudul Puisi Cinta dari Negeri Selatan karya Itaru Ogasawara layak untuk dimiliki, bukan hanya sebagai koleksi, tetapi sebagai teman di kala hati sedang sendiri.
Identitas Buku:
Judul: Puisi Cinta dari Negeri Selatan
Penulis: Itaru Ogasawara
Tahun terbit: 2020
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 9786230015199
Jenis: Sastra Puisi