Ulasan
Undertone: Analisis Lengkap Horor A24 dengan Desain Suara yang Brilian!
Undertone, film horor supernatural debut sutradara Ian Tuason yang diproduksi oleh A24, merupakan salah satu karya horor audio-visual paling inovatif yang dirilis pada tahun 2026.
Berlatar di rumah masa kecil seorang wanita muda, film ini mengandalkan desain suara yang imersif, penggunaan ruang negatif, dan ketegangan psikologis untuk membangun rasa takut yang mendalam.
Dengan durasi sekitar 94 menit, film ini tayang perdana di festival seperti Fantasia International Film Festival pada Juli 2025 dan rilis teater luas di Amerika Serikat pada 13 Maret 2026.
Ketegangan Psikologis Lewat Rekaman yang Sangat Menyeramkan Sekali

Sinopsis film berpusat pada Evy Babic (diperankan dengan apik oleh Nina Kiri), seorang host podcast paranormal The Undertone yang berperan sebagai skeptis.
Evy kembali ke rumah masa kecilnya untuk merawat ibunya yang koma dan sekarat (Michèle Duquet). Bersama co-host Justin (Adam DiMarco, hanya suara), ia menerima sepuluh file rekaman anonim dari pasangan Mike dan Jessa yang mengalami fenomena aneh di rumah mereka.
Rekaman-rekaman ini, yang awalnya tampak biasa, berubah menjadi pintu gerbang bagi kehadiran demonik yang tak terhindarkan.
Evy, yang sedang hamil, semakin terjerumus ke dalam paranoia saat rekaman tersebut mengungkap pesan tersembunyi melalui lagu anak-anak yang diputar mundur, seperti Baa Baa Black Sheep yang menyembunyikan pesan mengerikan.
Film ini mengeksplorasi tema kesedihan, rasa bersalah Katolik, trauma generasional, dan tanggung jawab sebagai calon orang tua. Pengaruh perawatan orang tua yang sakit oleh sutradara sendiri tercermin kuat dalam narasi, membuat cerita terasa personal dan autentik.
Pendekatan minimalis—hanya Evy dan ibunya yang muncul di layar, sementara karakter lain hanya melalui suara—membuatku sepenuhnya bergantung pada desain suara yang brilian.
Suara tetesan air, hembusan angin, bisikan mundur, dan keheningan yang penuh ancaman menciptakan pengalaman mendengarkan yang mencekam, terutama jika ditonton dengan headphone atau sistem Dolby Atmos.
Review Film Undertone

Secara teknis, Undertone unggul dalam membangun atmosfer. Sinematografi Graham Beasley memanfaatkan wide shot panjang pada ruangan kosong, mendorongku mencari sesuatu di sudut gelap.
Penggunaan cahaya redup, bayangan, dan objek religius seperti patung Bunda Maria menciptakan ketegangan visual yang selaras dengan horor auditori. Akting Nina Kiri menjadi tulang punggung emosional film; ia menyampaikan peralihan dari skeptisisme menjadi ketakutan dan keputusasaan dengan nuansa mendalam.
Skor musik dan sound design Shanika Lewis-Waddell serta timnya menjadi bintang utama, mengubah rekaman sederhana menjadi mimpi buruk sensorik.
Film ini kupuji karena pendekatan slow-burn dan imersi auditori yang jarang ditemui. Meski ritmenya yang terlalu lambat atau akhir yang ambigu, tetapi secara keseluruhan, film ini kuanggap sebagai horor elevated yang efektif. Di box office, film dengan budget rendah ini sukses besar, meraup lebih dari 21 juta dolar AS.
Film ini tersedia untuk streaming di Prime Video mulai sekitar 14 April 2026, bersamaan dengan platform VOD lainnya seperti Apple TV dan Fandango at Home. Saat ini, kamu bisa menontonnya di Prime Video sebagai bagian dari katalog horor A24.
Oh iya, salah satu adegan paling menyeramkan menurutku adalah ketika Evy mendengarkan rekaman di mana pesan tersembunyi terungkap melalui lagu anak yang diputar mundur.
Suara bisikan demonik Abyzou (demon yang terkait keguguran dan pembunuhan anak) yang muncul secara bertahap, disertai distorsi audio yang semakin intens, menciptakan sensasi fisik ketakutan.
Adegan ini tidak mengandalkan jump scare visual berlebihan, melainkan manipulasi suara yang membuatku merasa ada sesuatu yang berbicara langsung ke telinga mereka.
Ketegangan mencapai puncak saat Evy mulai mendengar suara-suara serupa di rumahnya sendiri, seperti hembusan napas atau langkah kaki yang tak terlihat.
Untuk adegan paling kuingat saat nonton filmnya adalah momen di mana Evy melihat ibunya yang seharusnya koma bergerak di rumah, atau saat dinding rumah dipenuhi gambar krayon bayi berdarah menjelang klimaks.
Adegan penutup yang memotong ke hitam, hanya menyisakan suara jeritan Evy, perkelahian, dan suara jatuh di tangga, menjadi momen ikonik. Bahkan aku sendiri pun dibiarkan membayangkan sendiri horornya, membuat efeknya bertahan lama setelah kredit bergulir.
Ending yang ambigu ini memicu diskusi panjang tentang apakah Evy, ibunya, atau keduanya yang menjadi korban demon.
Undertone bukan film horor untuk yang mencari aksi atau gore berlebih. Ia adalah pengalaman mendalam yang menuntut perhatian penuh dan lingkungan gelap.
Untuk kamu penggemar slow-burn seperti Hereditary atau The Babadook, film ini menawarkan kepuasan tinggi melalui inovasi suaranya.
Meski ada elemen familiar seperti rumah berhantu dan demon, menurutku eksekusinya terasa segar dan mengganggu. Sangat kau rekomendasikan untuk ditonton dengan headphone, tapi siapkan mentalmu dulu, karena "the scariest movie you've ever heard" ini memang memenuhi janjinya! Gimana udah siap streaming belum?