Ulasan
Review Dukun Magang: Komedi Absurd yang Sukses Bikin Merinding Sekaligus Ngakak!
Film Dukun Magang, disutradarai oleh Chiska Doppert, merupakan karya terbaru dalam genre komedi horor Indonesia yang tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Juni 2026. Diproduksi oleh Dens Vision Multimedia dan Wahana Pictures, film berdurasi sekitar 100 menit ini menggabungkan elemen horor, komedi, dan misteri dengan proporsi yang dominan pada komedi (sekitar 80 persen) dan horor (20 persen). Melalui pendekatan segar yang memadukan skeptisisme mahasiswa modern dengan tradisi perdukunan desa, film ini menawarkan hiburan ringan sekaligus refleksi tentang benturan antara logika rasional dan kepercayaan supranatural.
Kisah Mahasiswa Magang yang Berubah Jadi Teror Kuntilanak

Sinopsis film berpusat pada Raka Mahardika (diperankan Jefan Nathanio), seorang mahasiswa tingkat akhir yang galau dan skeptis terhadap hal-hal mistis. Demi menyelesaikan skripsinya yang berulang kali ditolak dosen pembimbing, Raka terpaksa memilih topik penelitian tentang praktik perdukunan di Desa Kalimati. Ia kemudian magang di bawah bimbingan Mbah Djambrong (Adi Sudirja), seorang dukun legendaris di desa tersebut. Di sana, Raka bertemu kembali dengan Sekar (Hana Saraswati), mahasiswi cerdas dan berani asal desa yang menjadi pewaris tradisi keluarganya. Bersama sahabatnya, Boiman yang penakut, perjalanan Raka berubah menjadi kekacauan ketika ia dan Sekar tanpa sengaja membebaskan Kuntilanak Hitam, makhluk gaib berdaya tinggi yang telah dikurung selama 12 tahun. Raka pun dipaksa mempercepat pembelajaran ilmu dukun untuk menyelamatkan desa dari teror yang makin intens.
Secara keseluruhan, Dukun Magang berhasil memanfaatkan formula komedi horor dengan baik. Sutradara Chiska Doppert, yang sebelumnya dikenal dengan karya-karya seperti Maju Seram Mundur Horor, menyajikan narasi yang dinamis. Visual Desa Kalimati yang atmosferik, pencahayaan gelap untuk adegan horor, dan timing komedi yang tepat menjadi kekuatan utama. Akting Jefan Nathanio sebagai Raka yang skeptis, tetapi kewalahan, sangat natural, sementara Hana Saraswati membawa energi kuat sebagai Sekar. Adi Sudirja sebagai Mbah Djambrong memberikan nuansa autentik pada karakter dukun senior, didukung para komika seperti Dodit Mulyanto dan Mamang Osa yang memperkaya elemen humor.
Ulasan Film Dukun Magang

Film ini menonjol dalam penggambaran absurditas situasi. Konflik utama muncul dari benturan antara rasionalitas Raka sebagai mahasiswa kota dengan ritual-ritual tradisional yang tak terduga. Adegan-adegan komedi sering kali lahir dari ketidakmampuan Raka menguasai ilmu dukun secara instan, menghasilkan momen-momen slapstick yang menghibur tanpa mengurangi ketegangan horor. Elemen misteri seputar Kuntilanak Hitam dan intrik kekuatan baru Raka menambah lapisan cerita yang membuatku tetap terlibat hingga akhir.
Salah satu adegan paling absurd dan paling kuingat adalah ketika Raka, dalam upaya pertamanya menjalankan ritual sederhana di bawah bimbingan Mbah Djambrong, justru menciptakan kekacauan tak terduga. Alih-alih mengusir gangguan kecil, ia malah memanggil elemen-elemen supranatural yang salah sasaran, menyebabkan objek sehari-hari di desa berperilaku aneh secara massal. Adegan ini dikemas dengan efek visual komikal, dialog sarkastik Raka yang mempertanyakan logika ilmiahnya sendiri, serta reaksi panik warga desa yang kontras dengan ketenangan Mbah Djambrong. Kombinasi horor ringan dengan humor fisik di sini begitu efektif, hingga penonton sulit menahan tawa sekaligus merasakan sensasi merinding. Adegan tersebut menjadi representasi sempurna tema film: betapa absurdnya ketika logika modern dipaksa beradaptasi dengan dunia yang tak kasat mata. Bisa dibilang momen ini sebagai highlight yang akan melekat lama setelah meninggalkan bioskop.
Selain itu, film ini juga menyentuh isu-isu ringan seperti tekanan akademik, pewarisan budaya, dan pentingnya menghargai pengetahuan lokal. Meski tidak mendalam, pesan-pesan ini disampaikan melalui humor sehingga tidak terasa menggurui. Kelemahannya terletak pada beberapa plot point yang dapat diprediksi, khas genre komedi horor, serta penggunaan trope kuntilanak yang sudah familier. Akan tetapi, pendekatan segar melalui karakter mahasiswa magang berhasil memberikan nuansa baru.
Secara teknis, sinematografi mendukung suasana dualitas film dengan baik, yakni cerah dan hidup di adegan komedi sehari-hari, kontras dengan nuansa gelap dan mencekam pada bagian horor. Desain suara (sound design), termasuk jumpscare yang tidak berlebihan, serta musik latar yang menyatu dengan komedi, makin memperkuat pengalaman menontonku. Durasi film yang ringkas membuatnya tidak membosankan, cocok untuk kamu yang mencari hiburan di akhir pekan.
Dukun Magang adalah pilihan tepat buat kamu pencinta film Indonesia yang ingin sesuatu yang berbeda dari horor murni yang sering kali mengandalkan ketakutan semata. Film ini membuktikan bahwa komedi dan horor dapat berpadu harmonis, menghasilkan tawa sekaligus sensasi tegang yang menyenangkan. Dengan rilis pada 18 Juni 2026, film ini berpotensi menjadi salah satu tontonan ramai di bioskop Indonesia tahun ini, terutama bagi generasi muda yang dapat relate dengan perjuangan Raka.
Jadi kesimpulannya, Dukun Magang berhasil menyajikan pengalaman sinematik yang menghibur, absurd, dan memorable. Buat kamu yang menyukai perpaduan tawa dan teror, film ini layak ditonton di layar lebar untuk merasakan efek penuhnya. Sangat aku rekomendasikan untuk penonton berusia remaja hingga dewasa yang mencari hiburan berkualitas lokal.
Rating pribadi: 8/10.