Ulasan
Adam Ma'rifat: Mabuk Ketuhanan dalam Labirin Imajinasi Danarto
Bagi saya, Adam Ma'rifat karya Danarto ini bukan sekadar buku kumpulan cerpen, melainkan sebuah pengalaman spiritual dan estetik yang sulit dicari tandingannya dalam khazanah sastra Indonesia.
Sejak halaman pertama, Danarto sudah mengajak pembaca memasuki dunia yang tidak tunduk pada hukum realitas sehari-hari. Dunia di mana malaikat dapat bermain dengan anak-anak, pohon pisang dapat bersahabat dengan manusia, kota suci dapat lahir dari kesadaran spiritual, dan Tuhan dapat hadir dalam berbagai perwujudan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Cerpen yang menjadi judul buku ini, Adam Ma'rifat, merupakan jantung sekaligus puncak pemikiran Danarto. Kisah dimulai dengan tokoh "aku" yang memperkenalkan dirinya sebagai cahaya yang bergerak dengan kecepatan luar biasa.
Cahaya itu mengatur pagi dan malam, menghidupkan tumbuhan, menggerakkan udara, serta menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk. Ia lalu mengaku sebagai pencipta manusia, pengatur alam semesta, bahkan "Allah yang ngejawantah."
Pengakuan itu tentu mengejutkan. Orang-orang marah dan melemparinya dengan batu. Namun Danarto tidak berhenti pada konflik lahiriah. Batu-batu yang dilemparkan justru berubah menjadi buah mangga yang jatuh ke tangan para pelemparnya. Adegan ini terasa seperti alegori tentang kasih sayang Tuhan yang tetap memberi rezeki kepada manusia, bahkan ketika manusia memusuhi-Nya.
Setelah itu, Adam Ma'rifat membangun bahtera raksasa dari aspal dan bangunan terminal. Bahtera tersebut menjadi lambang perjalanan spiritual manusia menuju keselamatan. Orang-orang diberi kebebasan memilih, yaitu tetap tinggal atau meninggalkan bahtera. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman.
Namun ketika perjalanan mencapai akhirnya, segala sesuatu di luar bahtera hancur. Danarto seolah ingin menyampaikan bahwa keselamatan sejati hanya dapat diraih melalui keimanan, ketakwaan, dan pengenalan yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Tema besar yang mengalir dalam cerpen ini adalah ma'rifat, yakni tingkatan tertinggi dalam tasawuf, keadaan ketika manusia mengenal Tuhan dengan kesadaran yang paling dalam.
Dalam konteks ini, Adam Ma'rifat bukanlah Tuhan secara harfiah, melainkan simbol manusia yang telah mencapai kesadaran spiritual tertinggi hingga seluruh gerak hidupnya dipenuhi kehadiran Ilahi.
Namun kekuatan buku ini tidak hanya terletak pada cerpen utamanya. Cerpen "Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat" juga menjadi karya yang sangat memikat.
Di sini Danarto menghadirkan Malaikat Jibril yang menjelma menjadi angin, daun pisang, hingga jaring permainan anak-anak. Sosok malaikat tidak lagi berada jauh di langit, melainkan hadir dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, "Megatruh" memperlihatkan kepiawaian Danarto mengawinkan sufisme, filsafat, dan surealisme. Persahabatan manusia dengan pohon pisang dan seekor kadal mungkin terdengar absurd, tetapi justru di sanalah letak keindahan Danarto. Ia mengajarkan bahwa seluruh alam adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Yang membuat Adam Ma'rifat semakin istimewa adalah keberanian Danarto melakukan eksperimen bentuk. Salah satu cerpennya bahkan menggunakan judul berupa notasi balok musik. Narasinya dipenuhi bunyi-bunyian seperti "ngung", "cak", dan simbol-simbol yang tampak aneh. Pada titik ini, Danarto seolah ingin membebaskan bahasa dari beban makna yang selama ini mengikatnya.
Tentu saja, buku ini bukan bacaan yang mudah. Saya sendiri berkali-kali merasa tersesat di dalamnya. Banyak simbol yang sukar ditafsirkan, banyak metafora yang terasa kabur. Namun justru di sanalah keistimewaannya. Danarto tidak memberikan jawaban yang pasti. Ia membiarkan pembaca mencari sendiri makna yang sesuai dengan pengalaman batinnya.
Sebagai pembaca, saya merasa Adam Ma'rifat bukan buku yang selesai dibaca dalam satu kali perjumpaan. Buku ini harus direnungkan. Dibaca ulang. Bahkan mungkin diperdebatkan. Sebab setiap kali kembali membuka halamannya, selalu ada pemahaman baru yang muncul.
Dalam konteks zaman sekarang, Adam Ma'rifat justru terasa semakin relevan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, materialistis, dan dipenuhi kegaduhan digital, Danarto mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan hubungan dengan dimensi spiritualnya. Kita boleh maju dalam teknologi, tetapi jangan sampai melupakan hakikat diri dan tujuan kehidupan.
Di samping itu, gagasan tentang Tuhan yang hadir dalam segala sesuatu juga menjadi pengingat agar manusia lebih rendah hati terhadap alam, lebih menghargai kehidupan, dan tidak merasa menjadi pusat semesta.
Kelebihan terbesar buku ini terletak pada kekuatan imajinasi Danarto yang luar biasa. Ia mampu memadukan sufisme, realisme magis, budaya Jawa, dan filsafat ke dalam karya yang unik. Bahasa yang digunakan indah, puitis, sekaligus memikat.
Namun, kekurangan buku ini juga tidak bisa diabaikan. Tingkat simbolisme yang sangat tinggi membuat sebagian pembaca mudah merasa asing. Beberapa cerpen terasa terlalu eksperimental sehingga sulit dipahami tanpa bekal pengetahuan tentang tasawuf dan sastra modern.
Selamat membaca!
Identitas Buku
- Judul: Adam Ma'rifat
- Penulis: Danarto
- Penerbit: Basabasi
- Cetakan: I, November 2017
- Tebal: 112 Halaman
- ISBN: 978-602-665-111-2
- Genre: Fiksi/Cerpen