Ulasan
Seorang Tokoh Cerita yang Menderita: Kisah-kisah Kecil dengan Gagasan Besar
Bagi saya, Seorang Tokoh Cerita yang Menderita karya Luigi Pirandello ini termasuk dalam kategori buku yang diam-diam mengubah cara kita memandang manusia.
Setelah duduk santai sambil menyelesaikan beberapa judul cerpen dalam buku ini, saya merasa seperti baru saja diajak berkeliling melihat berbagai wajah kehidupan manusia, dari yang lucu, tragis, absurd, hingga yang menyentuh perasaan paling dalam.
Nama Luigi Pirandello mungkin lebih sering dikenal sebagai dramawan besar Italia yang bahkan menerima Hadiah Nobel Sastra. Namun melalui kumpulan cerpen ini, saya justru menemukan sisi lain dirinya sebagai penulis prosa yang luar biasa.
Cerita-ceritanya terasa sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan makna yang membuat pembaca terus berpikir bahkan setelah halaman terakhir ditutup.
Buku ini berisi enam belas cerpen dengan tema yang beragam. Ada kisah tentang hubungan laki-laki dan perempuan, suami dan istri, orang tua dan anak, pergulatan antara logika dan kepercayaan, hingga konflik antara manusia dengan nasibnya sendiri. Meski berbeda-beda, semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu pergolakan batin manusia saat berhadapan dengan kenyataan hidup.
Yang paling saya sukai dari Pirandello adalah kemampuannya melihat manusia secara utuh. Ia tidak menghadirkan tokoh yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Setiap tokohnya memiliki kelemahan, keinginan, ketakutan, dan kebingungan yang membuat mereka terasa nyata.
Oleh karena itu, ketika membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya sering merasa bahwa kisah-kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang orang lain, tetapi juga tentang diri saya sendiri.
Cerpen yang menjadi judul buku ini, Seorang Tokoh Cerita yang Menderita, merupakan salah satu karya yang paling menarik.
Dalam cerpen tersebut, Pirandello seolah menghapus batas antara penulis dan tokoh ciptaannya. Tokoh-tokoh yang ia ciptakan datang menuntut perhatian, mengeluh, bahkan menuduh sang penulis sebagai sosok yang kejam.
Kutipan berikut sangat menarik perhatian saya:
"Dengan sabar dan lemah lembut aku berusaha membuat mereka melihat dan menyadari kalau pertanyaanku tidak berlebihan. Memang mudah menginginkan menjadi ini itu, namun tetap harus dilihat apakah kita memiliki kemampuan untuk berubah menjadi yang kita inginkan." (Halaman 7).
Bagi saya, kalimat ini tidak hanya ditujukan kepada tokoh-tokoh cerita, tetapi juga kepada manusia secara umum. Kita sering memiliki banyak keinginan, impian, dan ambisi. Namun terkadang kita lupa bertanya kepada diri sendiri apakah kita benar-benar siap menjalani konsekuensi dari keinginan tersebut. Pirandello mengingatkan bahwa keinginan tanpa kesadaran diri dapat berubah menjadi sesuatu yang konyol dan sia-sia.
Kutipan berikutnya bahkan lebih menarik:
"Dan kemudian aku merasa iba pada mereka, karena aku pada dasarnya baik hati. Pada saat yang sama, malapetaka tertentu tidak bisa dikasihani tanpa memancing gelak tawa."
Di sinilah kekuatan khas Pirandello terlihat jelas. Ia mampu menghadirkan tragedi dan komedi dalam waktu yang bersamaan. Kadang-kadang manusia memang begitu menyedihkan hingga terasa lucu. Kita menertawakan kesalahan, kesombongan, atau kebodohan tokoh-tokohnya, tetapi diam-diam kita sadar bahwa kita pun pernah melakukan hal yang sama.
Lalu pada kutipan terakhir:
"Yang aku butuhkan adalah seorang kritikus simpatik yang akan menunjukkan seberapa banyak rasa welas asih di balik tawaku itu."
Kalimat ini terasa seperti pengakuan pribadi sang penulis. Humor dalam karya Pirandello bukanlah humor yang mengejek. Tawa yang ia hadirkan justru lahir dari rasa empati terhadap manusia. Ia memahami bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh, penuh kontradiksi, dan sering kali tersesat dalam keinginannya sendiri.
Selain cerpen utama tersebut, beberapa cerita lain juga sangat berkesan bagi saya. Rumah Angker menghadirkan suasana misterius yang memancing rasa penasaran sekaligus refleksi. Ibu menyuguhkan emosi yang hangat dan menyentuh. Jeruk Sitrun dari Sisilia memberikan kesan sederhana namun membekas. Sementara Perang memperlihatkan sisi kemanusiaan yang getir di tengah konflik dan kehilangan.
Namun cerpen yang paling membekas bagi saya adalah Perjalanan Terakhir. Tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai penutup yang sempurna. Cerita ini menghadirkan kehangatan, kesedihan, dan keharuan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ending-nya membuat saya terdiam cukup lama setelah selesai membaca. Ada perasaan merinding sekaligus hangat yang muncul secara bersamaan.
Dari sisi teknik menulis, buku ini juga layak menjadi bahan belajar bagi para penulis pemula. Pirandello menunjukkan bagaimana cerita yang tampak sederhana dapat menyimpan kedalaman makna. Ia tidak bergantung pada plot yang rumit atau kejutan yang berlebihan. Kekuatan utamanya terletak pada pengamatan yang tajam terhadap manusia dan cara penyampaian yang elegan.
Meski demikian, saya juga memahami mengapa sebagian pembaca merasa beberapa cerpennya sulit dipahami. Ada cerita yang memerlukan konsentrasi lebih karena sarat simbol dan gagasan filosofis. Beberapa bagian memang bisa menimbulkan kebingungan, terutama bagi pembaca yang baru pertama kali berkenalan dengan karya sastra klasik Eropa. Namun menurut saya, justru di situlah daya tariknya. Tidak semua cerita harus langsung dipahami dalam sekali baca.
Dari segi penerjemahan, buku ini terasa nyaman dibaca. Terjemahannya rapi dan mengalir sehingga gagasan-gagasan Pirandello dapat diterima dengan baik. Isi bukunya sendiri sangat berkualitas.
Secara keseluruhan, Seorang Tokoh Cerita yang Menderita adalah kumpulan cerpen yang berhasil menunjukkan bahwa sastra tidak harus rumit untuk menjadi mendalam. Buku ini mengajak pembaca tertawa, merenung, dan memahami manusia dengan cara yang lebih bijaksana.
Setelah menutup halaman terakhir, saya merasa telah memperoleh sesuatu yang berharga, bahwa hidup kerapkali merupakan perpaduan aneh antara tragedi dan komedi, dan mungkin justru di sanalah letak keindahannya.
Identitas Buku
- Judul: Seorang Tokoh Cerita yang Menderita
- Penulis: Luigi Pirandello
- Penerjemah: Afris Irwan
- Penerbit: Basabasi
- Cetakan: I, April 2018
- Tebal: 232 Halaman
- ISBN: 978-602-5783-01-2
- Genre: Fiksi Sastra/Kumpulan Cerpen