Ulasan
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
Semua orang pasti akan setuju kalau novel Jane Austen, Pride and Prejudice, adalah salah satu kisah cinta klasik yang tak lekang oleh waktu. Bagaimana tidak, hubungan romantis Darcy dan Elizabeth harus melewati berbagai lika liku rintangan yang tak mudah sebelum akhirnya bersatu.
Ternyata, novel klasik ini tidak hanya membicarakan kisah manis keduanya. Lewat Pride and Prejudice, Austen menggambarkan isu sosial yang dialami oleh para karakternya, seperti perbedaan kelas hingga pernikahan dini.
1. Perbedaan Kelas Sosial

Di abad 19, era novel Pride and Prejudice berlangsung, kekayaan harta dan kelas sosial menentukan bagaimana orang tersebut akan dipandang. Ketimpangan inilah yang menghalangi hubungan Darcy yang berasal dari kelas atas dan Elizabeth yang datang dari kelas bawah.
Keluarga Darcy memandang rendah keluarga Bennet yang memiliki status sosial lebih rendah dan menganggap tidak setara. Perbedaan ini sangat berpengaruh hampir di semua aspek kehidupan, salah satunya percintaan.
2. Isu Kesetaraan Gender

Keluarga Bennet merupakan keluarga menengah ke bawah dengan 5 anak perempuan. Di zaman itu, perempuan belum cukup bebas untuk menentukan hidup mereka. Agar finansial aman, kebanyakan anak perempuan akan dinikahkan dengan laki-laki dari keluarga terpandang. Perempuan masa itu hanya bisa bergantung pada laki-laki. Pernikahan tidak lagi didasari oleh cinta, tapi kebutuhan bertahan hidup secara ekonomi dan sosial.
Hal tersebut terlihat dari keputusan Charlotte Lucas yang menerima lamaran Mr. Collins. Meski tidak benar-benar mencintainya, Charlotte memilih menikah karena melihat pernikahan tersebut sebagai kesempatan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih stabil.
3. Tekanan untuk Memenuhi Ekspektasi Masyarakat

Tokoh-tokoh dalam Pride and Prejudice hidup di tengah berbagai aturan tidak tertulis tentang bagaimana seseorang, terutama perempuan, seharusnya bersikap. Perempuan diharapkan bisa menjaga nama baik keluarga, bersikap sopan, dan mengikuti standar masyarakat yang berlaku.
Sebagai tokoh utama, Elizabeth Bennet justru merusak ekspektasi ini. Ia berani bersuara bahkan menolak lamaran Darcy yang dianggap tabu karena menyia-nyiakan kesempatan bagus. Sikapnya dianggap terlalu berani atau tidak mengikuti aturan sosial yang berlaku.
4. Pernikahan Dini

Novel Pride and Prejudice tidak hanya membahas kisah cinta Darcy dan Elizabeth, tapi juga adik bungsu Elizabeth, Lydia Bennet. Ia jatuh cinta dan menikah dengan George Wickham. Sayangnya, Lydia menikah dengan Wickham di usianya yang masih sangat belia, 15 tahun.
Keputusan Lydia banyak dipengaruhi oleh perasaannya dan ketertarikannya pada Wickham, sementara ia belum sepenuhnya memahami konsekuensi dari pilihan tersebut. Sikapnya yang impulsif juga menunjukkan bagaimana kurangnya kematangan dapat membuat seseorang mengambil keputusan besar tanpa mempertimbangkan kehidupan jangka panjang. Akibatnya, hubungan yang belum matang ini malah menimbulkan masalah besar untuk keluarga Bennet.
Poin yang membuat novel klasik Pride and Prejudice menarik adalah penggambaran situasi yang nyata hingga masalah-masalah sosial yang timbul di masa itu. Isu perbedaan kasta sosial, gender, hingga kebiasaan yang hidup dalam novel ini membuat Pride and Prejudice tidak monoton membual tentang cinta. Menurutmu, mana isu sosial dalam novel ini yang masih terasa hingga sekarang?