Ulasan

Review The Eyes: Drama Thriller Mencekam tentang Misteri Kematian si Kembar

Review The Eyes: Drama Thriller Mencekam tentang Misteri Kematian si Kembar
Poster film The Eyes (IMDb)

The Eyes (judul asli Korea: Nundongja) adalah film thriller misteri horor asal Korea Selatan yang dirilis pada tahun 2026. Disutradarai oleh Yeom Ji-ho, film ini merupakan remake dari film Spanyol Julia's Eyes (2010). Dibintangi oleh Shin Min-a dalam peran ganda sebagai saudara kembar Seo-jin dan Seo-in, film ini mengeksplorasi tema kehilangan penglihatan, obsesi, dan rahasia kelam yang mengintai di balik kehidupan sehari-hari. Dengan durasi sekitar 105 menit, The Eyes menggabungkan elemen suspense klasik ala Alfred Hitchcock dan Stanley Kubrick dengan sentuhan visual modern yang memanfaatkan ketakutan akan kebutaan.

Eksplorasi Teror Sensorik yang Bikin Jantung Berdebar

Salah satu adegan di film The Eyes (IMDb)
Salah satu adegan di film The Eyes (IMDb)

Cerita berpusat pada Seo-jin, seorang fotografer yang mulai mengalami degenerasi penglihatan akibat penyakit keturunan. Ia memiliki saudara kembar, Seo-in, seorang seniman keramik yang lebih dulu kehilangan penglihatannya namun justru menemukan inspirasi dalam keterbatasannya. Hubungan keduanya penuh kompleksitas: kasih sayang, iri hati, dan rasa bersalah saling bercampur. Ketika Seo-jin menemukan Seo-in meninggal di rumahnya di pedesaan, yang diduga bunuh diri, ia menolak kesimpulan polisi. Bersama detektif setempat Do-hyeok (Kim Nam-hee), Seo-jin menyelidiki kematian saudaranya sambil menghadapi stalker Hyun-min (Lee Seung-ryong) yang terus mengganggunya. Semakin dalam penyelidikan, semakin kabur pula penglihatannya, menciptakan ketegangan yang luar biasa.

Review Film The Eyes

Salah satu adegan di film The Eyes (IMDb)
Salah satu adegan di film The Eyes (IMDb)

Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Juli 2026, hanya selisih beberapa minggu setelah perilisan di Korea Selatan pada 24 Juni 2026. Di Indonesia, film ini didistribusikan melalui jaringan seperti CGV, XXI, dan FLIX Cinema, dengan subtitle bahasa Indonesia. Film ini menekankan atmosfer horor psikologis dengan visual buram yang merepresentasikan hilangnya penglihatan, berhasil menarik perhatian pecinta genre thriller Asia.

Overall, The Eyes berhasil membangun atmosfer mencekam melalui sinematografi yang cerdas. Sutradara Yeom Ji-ho menggunakan teknik blurring, pencahayaan redup, dan suara ambient untuk membuat penonton merasakan ketakutan Seo-jin. Penggunaan warna gelap diatur pedesaan kontras dengan kehidupan urban Seoul, memperkuat kesan isolasi dan paranoia. Shin Min-a memberikan penampilan solid, membedakan dua karakter kembar dengan nuansa emosional yang halus—dari ketegasan Seo-jin hingga kerapuhan Seo-in. Kim Nam-hee sebagai detektif membawa dinamika yang menarik, sementara Lee Seung-ryong menciptakan ancaman stalker yang mengganggu.

Kelebihan utama film ini terletak pada eksplorasi psikologis. Kehilangan penglihatan bukan hanya plot device, melainkan metafor untuk ketakutan akan ketidakpastian, kehilangan kontrol, dan rahasia keluarga. Film ini juga menyentuh isu obsesi dalam dunia seni dan hubungan saudara kembar yang penuh rivalitas tersembunyi. Homage kepada thriller klasik terasa kuat, dengan twist yang dibangun perlahan namun memuaskan bagi penggemar genre. Akan tetapi, kalau menurutku sih transisi dari thriller kriminal ke horor psikologis mungkin terasa sedikit teatrikal di akhir, dan beberapa elemen melodrama di awal bisa terasa lambat.

Salah satu adegan paling mencekam terjadi saat Seo-jin, dengan penglihatannya yang semakin kabur, berjalan sendirian di rumah pedesaan pada malam hari. Suara langkah kaki samar dan bayangan samar-samar yang muncul di pinggir layar menciptakan ketegangan tanpa jump scare murahan. Aku pun diajak merasakan disorientasi visual, di mana setiap sudut gelap bisa menyembunyikan ancaman. Adegan ini memanfaatkan sound design yang brilian—napas berat, creaking lantai kayu, dan hembusan angin—sehingga aku dan penonton yang lian merinding seolah berada di posisi karakter. Kombinasi antara ketakutan literal akan kebutaan dan ancaman fisik membuatnya sulit dilupakan. Kurasa adegan ini berhasil membuatku tidak berkedip, seolah mataku sendiri ikut terancam.

Tanpa membocorkan detail besar, adegan klimaks pengungkapan pelaku mengejutkan karena memanfaatkan elemen psikologis yang telah dibangun sejak awal. Twist ini mengubah persepsiku terhadap seluruh hubungan antar karakter, dengan pengungkapan yang mirip vibe Psycho dalam hal identitas dan motivasi. Kejutan ini datang setelah serangkaian petunjuk halus, jujur hal ini membuatku merasa tertipu secara cerdas sih, guys. Jadinya makin penasaran dan pengin rewatching untuk menangkap foreshadowing yang tersembunyi. Efeknya bertahan lama, meninggalkan pertanyaan tentang persepsi realitas dan kepercayaan antar saudara.

Dari segi teknis, musik latar yang minimalis namun efektif mendukung ketegangan, sementara editing visual yang tajam memperkuat tema penglihatan. The Eyes bukan horor jump scare berlebihan, melainkan thriller intelektual yang mengandalkan imajinasi penonton. Menurutku film ini bagus karena performa Shin Min-a dan atmosfirnya, meski tidak revolusioner. Cocok untuk penonton yang menyukai The Invisible Guest atau Oldboy dalam nuansa yang lebih intim.

Secara kesimpulan, The Eyes adalah tontonan yang solid untuk pecinta thriller psikologis. Ia mengingatkan kita betapa rapuhnya indera penglihatan dan betapa gelapnya rahasia manusia. Dengan tayangan di bioskop Indonesia sejak 22 Juli 2026, film ini layak ditonton di layar lebar untuk merasakan ketegangan visual secara maksimal. Rating prbadi: 8/10. Jangan lewatkan kalau kamu siap merasakan ketakutan yang merayap pelan namun mendalam!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda