Ulasan
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
Pertama kali membaca novel ini berawal dari rekomendasi seorang teman. Ia menyarankan saya sebuah buku fiksi. Katanya, ini tidak ada unsur cinta-cintaan. Akan tetapi, anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Novel Kado Terbaik juga memuat unsur romantisme di dalamnya.
Selain karena sarannya, sampul buku ini juga menggelitik akal saya. Di sana, terpampang seorang pemuda yang tengah duduk di tepi atap gedung. Anehnya, langit dalam ilustrasi tersebut justru diganti menjadi pemandangan perkotaan yang terbalik.
Namun, yang paling memikat justru datang dari sinopsis di belakang buku. Rizki, pemeran utama novel Kado Terbaik, memberi penafian tentang isi ceritanya. Alih-alih menjanjikan sesuatu, ia justru berharap akan bercerita kepada orang yang tepat.
Kombinasi ketiga hal itu membuat saya makin tertarik untuk menyentuh tiap halaman di novel ini.
Sinopsis Novel Kado Terbaik
Jika ada nominasi manusia paling nelangsa di hidupnya, saya akan mencalonkan Rizki sebagai salah satu kandidat.
Saat masih kecil, ia hanya anak biasa dari keluarga cemara. Bahagia dengan penuh canda tawa. Namun, kisah manis itu tidak bertahan lama. Sejak ayahnya tewas tepergok mengedarkan obat terlarang, hidup Rizki berubah 180 derajat. Ia ditinggal pergi ayahnya selamanya.
Naasnya lagi, ibunya mengembuskan nafas terakhir setelah melahirkan anak bungsunya. Rizki tidak hidup sendiri, ia ditemani dua adik perempuannya, Rizka dan Khanza—baru berumur beberapa bulan.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, mereka bertiga menetap di panti. Sayangnya, tempat itu tidak gratis. Penghuninya dipaksa untuk menjadi anak jalanan, diminta untuk mengemis, bahkan dididik untuk mencopet. Sadar jika panti tersebut bukanlah tempat aman, Rizki memutuskan untuk pergi dari sana.
Harapannya, langkah tersebut akan menuntun hidupnya ke arah yang lebih baik. Toh, dia juga sudah berjanji pada dua adiknya untuk membelikan mereka baju lebaran.
Namun, siapa sangka keputusan itu justru membawa petualangan yang tak terlupakan. Perjalanan penuh haru sekaligus menegangkan. Mulai dari ‘meminjam’ uang di kotak amal, menjadi kurir obat terlarang, menyusup ke sindikat perdagangan manusia, hingga aksi kejar-kejaran dengan para preman.
Kelebihan dan kekurangan
Salah satu kelebihan menonjol yang saya rasakan yaitu penyajian konflik di dalam cerita. JS. Khairen, penulis novel ini, mengemas adegan dengan nuansa dramatis. Terutama saat aksi kejar-kejaran antara preman suruhan Pak Tono dengan Rizki. Deru motor dan detak jantung seakan ikut saya rasakan.
Tidak hanya itu, tema yang dipilih juga terasa tidak neko-neko. Kehidupan anak jalanan yang bermimpi membelikan adiknya baju lebaran. Saya sampai ikut merasakan bagaimana perjuangan dan pengorbanan Rizki untuk menggapai cita-cita itu.
Kado Terbaik juga menunjukkan betapa kerasnya kehidupan anak jalanan. Bagaimana mereka dieksploitasi hanya untuk keuntungan segelintir pihak. Bahkan, ada pula yang berakhir di tangan sindikat perdagangan manusia.
Meski begitu, novel ini juga memiliki kekurangan. Sebagai pembaca, rasanya seperti ada yang mengganjal setelah membaca bab terakhir novel Kado Terbaik.
Saya sampai bingung harus menyebut novel ini good ending atau bad ending. Kisah ditutup dengan cerita bahagia. Sayangnya, Rizki justru seolah tidak ikut kecipratan senyuman ini.
Selain itu, beberapa tokoh juga dibiarkan menghilang begitu saja. Baik yang tidak dimunculkan lagi tanpa alasan yang jelas maupun kematian yang terasa dipaksakan, tidak dijelaskan penyebab pastinya.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Kado Terbaik membuka hati saya tentang makna sebuah keluarga. Bahwa itu bukan hanya soal ikatan darah, melainkan juga tentang saling mengasihi, melindungi, dan mendukung satu sama lain.
Mirisnya, tidak semua anak mendapat perhatian ini. Beberapa terpaksa berjuang lebih awal untuk menghadapi kerasnya dunia. Masa-masa yang seharusnya penuh canda tawa, justru diisi dengan perjuangan agar dapat bertahan hidup.
Karya ini seolah meminta saya untuk lebih menghargai kehadiran orang lain, terutama orang tua. Dan, juga hadir di kehidupan mereka untuk menciptakan serangkaian senyuman.
Identitas Buku
- Judul: Kado Terbaik
- Penulis: Jombang Santani Khairen
- Penerbit: Grasindo, 2024
- Dimensi: 245 halaman, 13 × 20 cm
- Genre: Kehidupan sehari-hari (Slice of Life)