Ulasan
Ulasan Buku Peter Pan: Ketika Kita Terlalu Takut untuk Menjadi Dewasa
Tentu sudah bisa ditebak kalau Peter Pan merupakan salah satu cerita anak-anak paling populer yang pernah ada. Sosok anak laki-laki yang tidak pernah bertambah dewasa, tinggal di Neverland, bisa terbang, dan mengajak Wendy serta kedua adiknya berpetualang ini tentu sudah tidak asing lagi bagi kita.
Namun, setelah membaca karya J.M. Barrie ini, saya justru merasa bahwa Peter Pan bukan sekadar cerita tentang dunia fantasi dan petualangan anak-anak. Di balik Neverland yang penuh keajaiban, ada sebuah pertanyaan sederhana yang cukup mengganggu pikiran saya, "sebenarnya, apa yang membuat kita begitu takut untuk menjadi dewasa?"
Peter Pan adalah gambaran dari seseorang yang menolak tumbuh dewasa. Ia ingin selamanya menjadi anak-anak, bebas melakukan apa pun yang ia inginkan tanpa harus memikirkan tanggung jawab, kehilangan, ataupun konsekuensi dari pilihannya.
Sekilas terdengar menyenangkan, bukan?
Siapa yang tidak ingin hidup tanpa memikirkan tagihan, pekerjaan, masa depan, atau berbagai tuntutan kehidupan? Bisa terbang ke tempat yang kita inginkan, bertemu peri, melawan bajak laut, dan menjalani hari hanya dengan bermain.
Tapi semakin jauh saya membaca ceritanya, semakin saya menyadari bahwa menjadi anak-anak selamanya ternyata tidak sesederhana itu. Peter memang memiliki kebebasan. Namun, ia juga kehilangan banyak hal yang hanya bisa dipahami ketika seseorang tumbuh dewasa.
Menurut saya, salah satu hal yang menarik dari Peter Pan adalah bagaimana Barrie menggambarkan masa kanak-kanak dan kedewasaan sebagai dua dunia yang bertolak belakang. Wendy, misalnya, berada di antara keduanya. Ia masih ingin bermain dan berpetualang, tetapi perlahan mulai menyadari bahwa dirinya akan tumbuh dewasa. Dan mungkin, di situlah cerita ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Bukankah kita semua pernah berada di posisi Wendy?
Ada masa ketika kita begitu ingin cepat dewasa. Ingin bebas menentukan pilihan sendiri, ingin memiliki pekerjaan, mendapatkan uang, pergi ke mana pun tanpa harus meminta izin, dan merasa bahwa kehidupan orang dewasa pasti jauh lebih menyenangkan. Sampai akhirnya kita benar-benar tumbuh dan menyadari bahwa menjadi dewasa ternyata tidak semudah yang dibayangkan saat kita masih kecil.
Ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ada keputusan yang harus dibuat sendiri. Ada hubungan yang berubah. Ada orang-orang yang perlahan pergi. Bahkan ada mimpi masa kecil yang harus kita relakan karena kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda.
Klise memang. Tapi kita sering kali lupa bahwa tumbuh dewasa berarti belajar kehilangan. Dan menurut saya, Peter Pan justru menjadi menarik karena tidak sepenuhnya menggambarkan masa kanak-kanak sebagai sesuatu yang sempurna.
Peter yang tidak mau tumbuh juga menjadi seseorang yang sulit memahami perasaan orang lain. Ia begitu mencintai kebebasan sampai tidak benar-benar memahami arti keterikatan. Ia bisa tertawa, bermain, dan melupakan sesuatu dengan begitu cepat. Sementara itu, Wendy mulai memahami bahwa hidup tidak hanya tentang petualangan. Ada keluarga yang harus ditinggalkan, ada rumah yang harus dirindukan, dan ada masa lalu yang tidak bisa terus-menerus dipertahankan.
Lalu saya berpikir, jangan-jangan keinginan untuk tetap menjadi "Peter Pan" sebenarnya ada dalam diri banyak orang dewasa. Bukan berarti kita benar-benar ingin kembali menjadi anak-anak. Mungkin kita hanya ingin kembali ke masa ketika hidup terasa lebih sederhana. Namun, apakah benar menjadi dewasa adalah sesuatu yang harus kita takuti?
Menurut saya, tidak.
Menjadi dewasa memang berarti kehilangan sebagian dari kepolosan masa kecil. Tetapi menjadi dewasa juga berarti memiliki kesempatan untuk memahami diri sendiri dengan lebih baik, menentukan jalan hidup sendiri, mencintai seseorang dengan lebih sadar, serta belajar bertanggung jawab atas pilihan yang kita buat. Karena pada akhirnya, menjadi dewasa bukan berarti harus membunuh anak kecil yang pernah tinggal di dalam diri kita.
Kita hanya perlu belajar hidup bersamanya. Dan mungkin itulah alasan mengapa Peter Pan masih terasa relevan meskipun ceritanya telah berusia lebih dari satu abad. Karena pada suatu titik dalam hidup, kita semua mungkin pernah ingin pergi ke Neverland. Bukan karena ingin menjadi anak-anak selamanya, tetapi karena kita ingin sejenak beristirahat dari dunia yang memaksa kita untuk tumbuh terlalu cepat.
Jadi, kalau suatu hari kamu merasa lelah menjadi dewasa, mungkin tidak ada salahnya mengingat cerita legendaris yang satu ini. Sudahkah kamu membaca Peter Pan di masa kecilmu?