Ulasan
Review Film The Eyes (2026), Kupas Akting Shin Min-ah Jadi 2 Karakter
Sensasi mencekam ketika indera penglihatan perlahan padam sedangkan ada bahaya yang mulai merasuki di sekitar menjadi fokus utama yang coba untuk dijual film The Eyes. Film ini membahas mengenai kepanikan kala seseorang perlahan kehilangan indra utamanya dan tersadar bahwa dirinya tak bisa bergantung pada siapa pun.
Menjadi proyek daur ulang dari psikologis thriller Spanyol Julia's Eyes (2010), tim produksi bisa dibilang cukup berani dalam membongkar fondasi ceritanya.
Keputusan itu begitu tepat. Latar belakang karakter, deretan tokoh pendukung, hingga keputusan akhir di babak penutup yang diubah lantas menghasilkan alurnya lebih masuk akal, gampang diikuti, hingga atmosfer mencekamnya yang jauh lebih seram.
Ketangguhan Shin Min-ah yang keluar dari zona nyaman drama cukup patut diacungi jempol. Dia membuat dua karakter sekaligus, Park Seo-jin dan Park Seo-in.
Ia mengeksekusi dengan perbedaan gestur dan tatapan dua saudara yang rapi, membuat penonton paham siapa yang tengah beraksi berada di layar, lengkap dengan raut wajah panik yang jarak penglihatannya makin terbatas.
Dari kisah saudara kembar ini juga, film turut membahas soal ego, self-less, dan menghabiskan lebih banyak lagi waktu bersama orang-orang yang kita sayangi.
Tensi cerita kian naik atas jajaran pemeran pria di sekitar Park Seo-jin yang tampil begitu mengancam.
Apresiasi jelas patut diberikan kepada Lee Seung-ryong sebagai Hyun-min, karakter yang sengaja dihadirkan untuk versi ini. Tatapan matanya begitu tajam ditambah gerak-gerik sukses menjadikan penonton ikut frustrasi tiap kali dirinya muncul di layar.
Terlebih untuk Kim Nam-hee yang tampil luar biasa sebagai Do-hyuk, peran yang begitu polos akan susah dilupakan.
Ia membawa performa sempurna yang mengimbangi ketidakmampuan jiwa karakter di sekelilingnya, dan menjadikan proses penyelidikan psikologis ini ada pijakan cerita yang masuk di akal.
Selain itu, film ini begitu cerdik karena mampu mengolah indra penglihatan tokoh utamanya. Efek buram dan pencahayaan yang artsy membuat penonton ikut sesak kala dunia Seo-jin perlahan menggelap.
Tata suara serta tata artistik lokasinya juga dibuat sempurna tanpa perlu begitu dalam menjelaskan masa lalu dari karakter secara bertele-tele.
Sebagai catatan, bagi penonton yang begitu sensitif akan efek kilatan cahaya atau adegan buram yang intens, beberapa adegan film ini akan terasa kurang nyaman di mata.
Meski kuat secara akting dan teknis, The Eyes memiliki catatan untuk naskah.
Naskah film ini mendadak kelewatan begitu masuk bagian tengah. Padahal di awal film sudah menanjak dengan mengenalkan penyakit mata genetik keluarga Seo-jin, teror penguntit, hingga para warga kota kecil yang misterius.
Ritme yang tadinya sempat menaik justru berputar-putar dan menjadi hambar di pertengahan. Cerita begitu sering mengandalkan adegan halusinasi dan mimpi buruk yang berulang-ulang dibanding penyelidikan atau aksi detektif yang jelas.
Keseruan dan tensi naik lagi ketika masuk babak akhir. Perubahan cerita di babak ketiga ini menghasilkan sebuah penutup yang lebih memuaskan dibanding versi aslinya.
Namun, untuk penonton yang begitu terbiasa menonton thriller serupa, tebakan mengenai siapa dalang di balik semua teror ini cukup gampang ditebak sejak pertengahan film.
Meski alur sempat hilang di tengah dan teka-tekinya gampang ditebak, The Eyes masih tetap berhasil memberikan rasa frustrasi bagi seorang korban obsesi yang dipaksa bertahan sendirian pada keterbatasan.
Performa jajaran pemainnya juga cukup kuat untuk membuat film ini tidak menjadi tontonan yang membosankan.