Ulasan

Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas

Puisi Pahlawan dan Tikus: Menyelami Kritik Sosial yang Sarat Spiritualitas
Buku Pahlawan dan Tikus karya A. Mustofa Bisri (Divapress Online)

Sebelum membuka halaman pertama buku Pahlawan dan Tikus, saya lebih dulu disambut oleh tiga testimoni yang terpampang di sampul belakang. Ketiganya berasal dari nama-nama besar dalam dunia sastra Indonesia.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono menilai bahwa keunikan puisi Mustofa Bisri terletak pada kemampuannya mengungkap persoalan sosial dan spiritual melalui bahasa sehari-hari. Taufiq Ismail melihat kuatnya kepedulian sosial, kesalehan, kerendahan hati, sekaligus humor Gus Mus yang membayang dalam setiap puisinya.  Sementara Danarto mengatakan bahwa melalui puisi, Kiai Mustofa Bisri membuat ayat-ayat suci menjadi operasional bagi perjuangan keadilan, kemakmuran, dan kebenaran.

Setelah selesai membaca buku Pahlawan dan Tikus, saya merasa ketiga pendapat tersebut bukanlah pujian yang berlebihan. Justru saya menemukan sendiri bagaimana puisi-puisi Gus Mus bekerja dengan cara yang unik. Tidak menggurui, tidak pula memamerkan kepiawaian bermain kata. Beliau memilih bahasa yang sederhana, tetapi mampu menghantam kesadaran pembacanya. Kata-kata yang tampak ringan ternyata menyimpan kedalaman makna yang sulit dilupakan.

Pahlawan dan Tikus merupakan kumpulan puisi karya KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, seorang kiai, penyair, budayawan, sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Dalam buku ini, Gus Mus tidak hanya menghadirkan puisi sebagai karya sastra yang indah dibaca, melainkan juga sebagai ruang perenungan tentang keadaan manusia. Buku ini berbicara mengenai kepahlawanan, kemunafikan, agama, kekuasaan, cinta, ibu, hingga kesunyian. Semua dibingkai dengan bahasa yang lembut, tetapi mengandung kritik yang tajam.

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah keberanian Gus Mus menyentil berbagai penyakit sosial tanpa harus berteriak. Sindirannya terasa elegan. Ia tidak menunjuk siapa pun secara langsung, tetapi siapa pun yang membaca akan merasa sedang diajak bercermin.

Puisi yang paling singkat sekaligus paling menggelitik perhatian saya adalah "TIKUS".

"Memanen tanpa menanam
merompak tanpa jejak
kabur tanpa buntut
bau tanpa kentut." (Halaman 22).

Hanya empat baris, tetapi rasanya cukup untuk menggambarkan begitu banyak wajah ketidakjujuran yang masih hidup di sekitar kita. Saya menangkap bahwa "tikus" dalam puisi ini bukan sekadar binatang, melainkan simbol manusia yang mengambil hak orang lain tanpa rasa malu. Gus Mus tidak menyebut korupsi secara gamblang, namun pembaca akan segera memahami ke mana arah sindiran tersebut. Inilah kekuatan puisi beliau. Sedikit kata, tetapi luas maknanya.

Puisi berikutnya yang membuat saya berhenti cukup lama adalah "KAUKAH SEPI ITU?" (halaman 24). Puisi ini seperti aliran sungai yang tenang. Gus Mus menggambarkan hubungan sungai dengan laut, laut dengan langit, langit dengan mega, hingga angin dengan manusia. Semuanya seolah tidak pernah saling mengucapkan rasa rindu, cinta, atau benci, tetapi mereka terus saling menemukan.

Saya sangat menyukai bagian penutupnya.

"aku tak pernah berkata kepada sepi jangan menggangguku
sepi tak pernah berkata kepadaku aku ingin menungguimu
tapi aku dan sepi terus saling terpaku
kaukah sepi itu?"

Puisi ini mengingatkan saya bahwa banyak hubungan tidak selalu membutuhkan kata-kata. Ada perasaan yang hanya dapat dipahami oleh hati. Kesepian bukan semata-mata keadaan tanpa teman, melainkan ruang sunyi tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri.

Puisi "REINKARNASI" (halaman 30) menurut saya menjadi salah satu puisi paling berani dalam buku ini. Gus Mus menghadirkan tokoh-tokoh sejarah seperti Abrahah, Abu Jahal, Fir'aun, Qarun, dan Musa sebagai simbol yang hidup kembali dalam berbagai bentuk pada masa sekarang.

"abrahah-abrahah tak lagi datang membawa gajah
dari jauh mereka mengirim burung-burung bagai ababil
mengobrak-abrik batok kepala dan perut bumi."

Saya memaknai puisi ini sebagai kritik terhadap manusia modern yang mengulang kesombongan tokoh-tokoh masa lampau. Kejahatan hari ini mungkin tidak lagi datang dengan pasukan bergajah, tetapi hadir melalui kekuasaan, propaganda, keserakahan, bahkan penyalahgunaan agama.

Bagian yang paling menghentak bagi saya ialah penutupnya.

"di tempat-tempat ibadah yang indah
tuhan tersalib dalam upacara sakral yang meriah
dan mereka pun bebas leluasa bertuhan-tuhan ria seenaknya." (Halaman 30).

Baris-baris tersebut terasa sangat menyakitkan sekaligus menyadarkan. Gus Mus mengingatkan bahwa agama bisa kehilangan ruhnya ketika hanya berhenti pada simbol dan seremoni, sementara nilai-nilai kemanusiaan justru ditinggalkan.

Di antara berbagai puisi kritik sosial yang keras, Gus Mus juga menghadirkan kelembutan melalui puisi "IBU" (halaman 43). Puisi ini membuat saya membaca perlahan, seolah setiap baitnya merupakan doa.

"Kaulah, ibu, langit dan laut
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku."

Perumpamaan yang digunakan begitu sederhana namun indah. Ibu digambarkan sebagai gua, bumi, gunung, telaga, langit, laut, matahari, dan rembulan. Semua menjadi simbol tempat manusia bertumbuh. Bagian penutupnya membuat hati saya benar-benar tersentuh.

"Tuhan
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanatMu...
maka kasihilah ibuku..." (Halaman 43).

Saya rasa siapa pun yang masih memiliki ibu akan teringat untuk lebih menghargainya. Sementara mereka yang telah kehilangan ibu mungkin akan membacanya sambil mengenang segala kasih sayang yang pernah diterima.

Secara keseluruhan, membaca Pahlawan dan Tikus bukan sekadar menikmati puisi, tetapi juga mengikuti perjalanan batin. Saya merasa diajak menengok kembali nilai-nilai yang perlahan mulai pudar, yakni kejujuran, ketulusan, kasih sayang, kepedulian sosial, dan keberanian menjaga nurani.

Bahasa Gus Mus sangat mudah dipahami. Ia tidak membangun puisi dengan metafora yang rumit, tetapi justru menghidupkan makna melalui pengalaman sehari-hari. Di balik kesederhanaan itu tersimpan lapisan-lapisan tafsir yang membuat saya ingin membaca ulang beberapa puisinya.

Buku ini juga membuktikan bahwa puisi tidak selalu berbicara tentang cinta romantis. Puisi dapat menjadi kritik sosial, doa, pengingat, bahkan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Gus Mus berhasil menunjukkan bahwa sastra mampu berjalan berdampingan dengan spiritualitas tanpa kehilangan keindahan estetikanya.

Identitas Buku

  • Judul: Pahlawan dan Tikus
  • Penulis: A. Mustofa Bisri
  • Penerbit: DIVA Press
  • Cetakan: I, 2019
  • Tebal: 120 Halaman
  • ISBN: 978-602-391-728-0
  • Genre: Fiksi/Puisi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda