Ulasan
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
Kita sebenarnya sudah tahu bagaimana film tentang serangan hiu bekerja. Orang-orang terjebak di tempat yang nggak seharusnya, lalu muncul predator. Seseorang mengambil keputusan bodoh, ada yang masuk ke air, kamera mulai memperlihatkan permukaan laut yang tenang, kemudian ada bayangan bergerak di bawahnya. Musik menegang. Semua orang panik. Lalu ... hap!
Lucunya, meskipun formula seperti ini sudah digunakan berkali-kali, kita tetap saja menonton. Kita bahkan sering bisa menebak siapa yang akan menjadi korban berikutnya, tapi tetap duduk menunggu sampai hiu muncul dari bawah permukaan.
Hal tersebut juga yang membuat Film Deep Water menarik untuk dibicarakan. Film ini membawa formula film serangan hiu ke situasi yang sedikit lebih gila. Bukan kapal yang terjebak di tengah laut, bukan penyelam yang kehilangan arah, dan bukan pula sekelompok wisatawan yang sedang berenang. Kali ini pesawat jatuh ke tengah Samudra Pasifik, lalu para penumpangnya harus bertahan hidup karena dikelilingi hiu.
Film Deep Water mulai tayang di bioskop Indonesia pada 5 Agustus 2026. Film ini disutradarai Renny Harlin. Produksinya melibatkan Magenta Light Studios, Arclight Films, Simmons/Hamilton Productions, Nostromo Pictures, Aristos Films, dan DW Film Holdings, dengan durasi sekitar 107 menit.
Pemerannya juga cukup menarik karena menghadirkan Aaron Eckhart sebagai Ben dan Ben Kingsley sebagai Rich, bersama Angus Sampson sebagai Dan, Molly Belle Wright sebagai Cora, Richard Crouchley sebagai Matt, Kelly Gale sebagai Jaya, Lucy Barrett sebagai Penny, serta Wenhan Li, Rosie Simei Zhao, Madeleine West, Rob Kipa-Williams, Lakota Johnson, dan sejumlah pemeran lainnya.
Cerita bermula dari penerbangan yang membawa penumpang dari Los Angeles menuju Shanghai. Seperti penerbangan pada umumnya, setiap orang memiliki urusan masing-masing. Ada yang bepergian sendiri, bersama pasangan, ada kru pesawat, dan ada pula penumpang dengan kepribadian yang sangat berbeda. Di kokpit, Rich dan Ben bertugas membawa pesawat menuju tujuan.
Semua terlihat normal sampai masalah serius terjadi di dalam pesawat. Kebakaran dan ledakan kemudian memicu kekacauan. Pesawat mengalami kerusakan parah dan akhirnya jatuh ke Samudra Pasifik. Sebagian penumpang berhasil bertahan hidup, tapi keselamatan mereka ternyata hanya bertahan sebentar.
Mereka berada jauh dari daratan. Pesawat yang seharusnya membawa mereka ke Shanghai berubah menjadi reruntuhan yang perlahan tenggelam. Persediaan terbatas, kondisi semakin kacau, dan nggak ada jaminan bantuan akan datang tepat waktu. Mereka harus mencari cara untuk bertahan hidup sekaligus keluar dari pesawat yang rusak.
Kemudian masalah berikutnya muncul. Mereka nggak sendirian. Hiu-hiu mulai mengitari lokasi kecelakaan. Laut yang sebelumnya cuma tampak luas dan kosong kini berubah menjadi jebakan. Setiap orang yang tercebur ke air berisiko menjadi sasaran. Setiap gerakan bisa menarik perhatian predator. Bahkan sebatas melihat permukaan laut pun, rasanya menakutkan karena nggak ada yang tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Seseru itu memang!
Alasan Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton Meskipun Klise

Kita tahu seseorang akan terpisah dari kelompoknya. Kita tahu akan ada karakter yang merasa dirinya paling berani lalu melakukan sesuatu yang seharusnya nggak dilakukan. Kita tahu ketika suasana tiba-tiba terlalu tenang, kemungkinan besar sesuatu sedang bergerak di bawah air. Kita tahu kamera akan memperlihatkan kaki seseorang di dalam air sebelum sesuatu datang dari belakang. Kita tahu semuanya, deh!
Namun, kita tetap penasaran. Kenapa? Karena film tentang serangan hiu sebenarnya menawarkan permainan yang sangat sederhana kepada penonton: tebak siapa yang akan mati berikutnya.
Itulah yang membuat film sejenis ini: ‘Jaws, Deep Blue Sea, The Shallows, sampai 47 Meters Down’ tetap memiliki daya tarik. Masing-masing mungkin memiliki kualitas yang berbeda, tapi semuanya memahami satu hal penting: hiu adalah predator yang sangat efektif menciptakan ketegangan dalam film karena kita jarang bisa melihatnya dengan jelas.
Bayangkan kalau monster film selalu berdiri tepat di depan kita. Kita bisa melihat bentuknya, mengetahui arahnya, lalu mencari jalan untuk kabur. Hiu berbeda. Sebagian besar tubuhnya berada di bawah permukaan air. Kita hanya melihat laut yang tenang. Kemudian muncul sedikit gerakan, bayangan, kemudian tampak bentuk sirip. Setelah itu kita berharap para karakternya nggak melakukan tindakan bodoh. Sayangnya, kebodohan yang ditunjukkan dalam film macam ini sudah lumrah.
Tentu saja, karakter dalam film akan melakukan hal bodoh sesuai kebutuhan skrip. Kalau mereka semua mengambil keputusan yang masuk akal, filmnya mungkin selesai dalam waktu dua puluh menit.
Di situlah kesenangan film tentang hiu sebenarnya muncul. Kita bukan hanya menonton karakter berusaha bertahan hidup, tapi juga menunggu momen ketika mereka membuat keputusan yang akan membawa mereka menuju kematian.
Film Deep Water memahami permainan tersebut dengan cukup baik. Film ini memang nggak menawarkan pendekatan yang baru. Dialognya klise, karakter-karakternya nggak semuanya mendapatkan pengembangan emosional yang kuat, dan beberapa situasi meminta penonton untuk sedikit menurunkan standar logika.
Namun apakah itu otomatis membuat Film Deep Water nggak menyenangkan ditonton? Menurutku, nggak juga. Ada sesuatu yang menyenangkan dari film yang tahu dirinya sendiri bukan mahakarya. Ups.
Film Deep Water bukanlah Film Jaws. Dan menurutku, film ini juga nggak perlu dipaksa menjadi ‘Jaws’ berikutnya.
‘Jaws’ memiliki karakterisasi, atmosfer, dan pembangunan ketegangan yang jauh lebih kuat. Sedangkan Film Deep Water berada di zona berbeda. Lebih dekat dengan film B-movie masa kini yang mencampurkan disaster movie dengan shark movie. Tujuannya bukan membuat kita merenungkan hubungan manusia dengan alam, tapi membuat kita duduk sambil menunggu siapa yang akan dimakan berikutnya.
Dan untuk tujuan tersebut, film ini cukup berhasil. Toh, nggak semua penonton mau nonton film dengan cerita yang rumit. Kadang, cuma ingin melihat sekelompok manusia berada dalam situasi yang semakin lama semakin buruk, kemudian mencoba bertahan hidup sementara sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat sedang menunggu di bawah mereka.
Dan Film Deep Water menawarkan kesenangan itu. Film ini klise? Jelas. Apakah karakternya kuat? Nggak. Apakah dialognya bagus? Jauh dari itu. Namun, apakah layak ditonton? Tentu saja buat Sobat Yoursay yang rindu film-film tentang serangan hiu. Selamat menonton, ya.