Ulasan

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
Foto Film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)

Film anak seringkali ditempatkan dalam kotak yang terlalu sempit. Ceritanya harus ringan, konfliknya sederhana, tokohnya polos, dan kalau bisa selalu berakhir dengan pesan moral yang gampang ditebak. Seolah-olah ketika film dibuat untuk anak-anak, maka persoalan yang boleh dibicarakan juga harus dibatasi pada persahabatan, sekolah, keluarga, atau petualangan yang aman-aman saja.

Nah, Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula mencoba keluar dari kotak tersebut. Film produksi Panen Entertainment bersama Wokcop Pictures dan Bluesheep Entertainment ini membawa anak-anak dan remaja masuk ke dalam persoalan yang jauh lebih serius: hilangnya sahabat, perundungan, bahaya narkoba, dan jaringan kejahatan yang mengincar anak-anak. 

Film berdurasi ±98 menit ini disutradarai Franklin Darmadi, dengan skenario ditulis Dedey Natalia CFW dan diproduseri Silvia Yunita. Film ini juga mendapat dukungan BNN serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dalam konteks edukasi pencegahan narkoba dan penguatan karakter generasi muda.

Pemainnya memadukan aktor muda dengan nama-nama yang sudah lebih dikenal. Ada Princeza Leticia sebagai Kirana, Bebe Gracia sebagai Hanna, Axandro Juliano sebagai Gerald, Aradhana Rahadi sebagai Bagas, serta Alby Ersani sebagai Adit. Sementara itu, Bukie B. Mansyur tampil sebagai Pak Wira, Unang Bagito sebagai Pak Kades, Sarah Sechan sebagai Bu Kades, disusul Ridwan Roull Rohaz dan Eka Tioda.

Film ini tayang di bioskop Indonesia pada 6 Agustus 2026 dan mendapat klasifikasi Semua Umur. Bahkan sebelum beredar luas di Indonesia, film ini sudah diputar di Moscow International Children's Film Festival dan meraih penghargaan Best Feature Film. Film ini juga tercatat sebagai nomine di Canada International Children Film Festival. Keren banget, ya?

Ceritanya terkait empat sahabat: Kirana, Hanna, Gerald, dan Bagas. Mereka pergi bersama Pak Wira, guru sekaligus pembina pramuka yang disiplin, untuk melakukan survei lokasi kegiatan Jambore di Desa Segosari.

Awalnya semua itu kegiatan sekolah biasa. Anak-anak pergi bersama guru, bercanda, dan menjalankan tugas yang harus mereka lakukan sebelum kegiatan Jambore berlangsung. Namun, Bagas belakangan menunjukkan perilaku yang agak aneh. Ketika rombongan pergi mengunjungi rumah kepala desa, Bagas memilih tetap berada di dalam mobil karena merasa kurang enak badan. Masalahnya, ketika Pak Wira dan teman-temannya kembali, Bagas sudah menghilang.

Pencarian pun dimulai. Yang tersisa hanyalah potongan kembang gula yang merupakan makanan kesukaan Bagas. Benda kecil itu kemudian menjadi semacam jejak yang membawa teman-temannya masuk semakin jauh ke dalam misteri hilangnya Bagas. Mereka bukan lagi sebatas anak-anak yang mencari teman yang tersesat. Perlahan, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Kembang gula yang menjadi bagian penting dari cerita ternyata berkaitan dengan persoalan peredaran narkoba yang menyasar anak-anak sekolah. Di sinilah petualangan mereka berubah menjadi konflik yang lebih serius.

Dalam pencarian itu, mereka juga bertemu Adit, anak desa yang sering menjadi korban perundungan. Eh, anak yang sering dipandang sebelah mata ini menjadi bagian penting dalam upaya menemukan Bagas.

Di manakah keberadaan Bagas? Bikin penasaran, deh!

Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan

Foto Film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula (Instagram/ filmmaju)
Foto Film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula (Instagram/filmmaju)

Aku tertarik pada keputusan film ini untuk membawa persoalan narkoba ke dalam cerita anak. Sebab dunia anak-anak hari ini sudah nggak sesederhana dunia yang kita bayangkan. Anak-anak tumbuh bersama internet, media sosial, berbagai informasi, dan persoalan sosial yang bahkan kadang terlalu rumit untuk dijelaskan ke orang dewasa sekalipun.

Kerennya, film ini nggak menjadikan anak-anak sebagai penonton pasif yang hanya diberi ceramah tentang ‘jangan menggunakan narkoba’. Sebaliknya, informasi mengenai bahaya tersebut ditempatkan di dalam sebuah petualangan. Anak-anak dalam cerita harus mencari petunjuk, berpikir, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

Pesan moral akhirnya muncul melalui pengalaman karakter, bukan sekadar melalui kalimat-kalimat nasihat. Itu pendekatan yang menurutku jauh lebih menarik.

By the way, kembang gula dalam film menjadi pilihan properti yang menarik. Permen identik dengan sesuatu yang manis, menyenangkan, bahkan sangat dekat dengan dunia anak-anak. Di film ini, sesuatu yang terlihat biasa menjadi bagian dari jejak menuju persoalan yang pahit.

Judulnya pun akhirnya jadi lebih masuk akal. Kembang gulanya manis, tapi jejak yang ditinggalkannya pahit. Dan mungkin memang begitu cara terbaik menjelaskan bahaya kepada anak-anak: bukan dengan membuat dunia terlihat mengerikan, tapi dengan menunjukkan sesuatu yang terlihat menyenangkan pun bisa menyimpan bahaya ketika digunakan oleh orang yang salah.

Aku juga tertarik dengan keberadaan Adit. Karakter seperti ini penting karena film anak seringnya terlalu sibuk menghadirkan tokoh utama yang semuanya pemberani, pintar, dan kompak. Padahal kehidupan anak-anak nggak sesederhana itu.

Ada anak yang percaya diri, pemalu, dianggap aneh, ada juga yang menjadi korban bullying. Adit berada di posisi tersebut. Dia adalah anak desa yang sering mengalami perundungan, tapi memiliki peran penting dalam pencarian Bagas.

Pesan seperti ini sebenarnya jauh lebih penting ketimbang cuma ngomong, “Jangan bully temanmu!”

Film ini nunjukin, seseorang yang sering diremehkan bukan berarti nggak punya kemampuan. Anak yang dianggap lemah pun bisa memiliki informasi, keberanian, atau kemampuan yang sangat dibutuhkan orang lain.

Begitulah, Sobat Yoursay. Di tengah banyaknya film Indonesia yang menawarkan horor sebagai menu utama bioskop, film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula ibarat alternatif yang cukup menyegarkan dan layak Sobat Yoursay tonton. Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda