Ulasan
Membaca Buku Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi:Cinta Tak Harus Memiliki
Sebelum membaca buku Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi karya Maman Suherman ini, saya sempat mengira isinya akan dipenuhi puisi patah hati, kisah cinta yang kandas, dan kalimat-kalimat galau yang membuat pembacanya ikut tenggelam dalam kenangan.
Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya benar (jika tidak mau disebut salah). Buku ini memang berbicara tentang patah hati, kesepian, perpisahan, dan kehilangan, tetapi cakupannya jauh lebih luas.
Kang Maman mengajak pembaca untuk melihat cinta dari berbagai sisi. Seperti cinta ketika seseorang tengah kasmaran, cinta yang sedang diuji, cinta yang kandas, cinta yang harus direlakan, sampai cinta dalam kehidupan pernikahan dan rumah tangga. Makanya, buku ini menurut saya bukan sekadar kumpulan puisi cinta, melainkan semacam teman ngobrol bagi siapa saja yang sedang berusaha memahami perkara hati.
Buku ini tersusun atas Prolog, Bab 1 Cinta Adalah Jawabannya, Bab 2 Problema Cinta, Bab 3 Kandas dan Terhempas, Epilog, serta Lampiran Cinta. Tiga bagian awal banyak diisi puisi-puisi pendek dengan bahasa yang ringan, permainan kata yang menarik, serta ilustrasi warna-warni. Sementara itu, Lampiran Cinta terasa lebih reflektif karena berisi tulisan-tulisan yang lebih panjang tentang cinta, hubungan, pernikahan, dan kehidupan.
Saya justru cukup menikmati bagian Lampiran Cinta. Bagian ini seperti penjelasan lebih jauh atas sajak-sajak sebelumnya. Kalau pada bagian awal saya diajak tersenyum, tersipu, atau sedikit bernostalgia, pada bagian akhir saya seperti diajak duduk lebih tenang untuk membicarakan cinta secara lebih dewasa.
“Prinsip dasar. Jatuh cinta seutuhnya. Putus cinta secukupnya. Siapkan tisu yang sama untuk air mata bahagia. Juga untuk air mata luka dalam jumlah yang sama.”
Kutipan ini sederhana, tetapi terasa menampar. Kita boleh mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tetapi ketika hubungan itu berakhir, kita tidak perlu menjadikan perpisahan sebagai alasan untuk menghancurkan seluruh hidup sendiri. Ada batas antara bersedih dan terus-menerus tinggal di dalam kesedihan.
Kang Maman juga bermain dengan kata secara kreatif.
“... di dalam c(i)nt(a), di dalam set(ia), cuma ada kata satu: ia. Dan jika lebih dari satu, maka cinta itu s(ia)-s(ia).”
Permainan kata tersebut menunjukkan bagaimana Kang Maman tidak hanya menyampaikan pesan cinta secara langsung. Ia juga mengolah bahasa menjadi sesuatu yang menghibur sekaligus mengajak pembaca berpikir.
“Cinta menyatukan ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi kita, tanpa mematikan ‘aku’ juga ‘kamu’.”
Bagi saya, ini salah satu gagasan penting dalam buku tersebut. Hubungan yang sehat bukan berarti dua orang harus kehilangan identitas masing-masing. Justru cinta semestinya membuat dua orang dapat berjalan bersama tanpa harus saling menghapus diri.
Hal lain yang saya sukai adalah cara buku ini membicarakan perpisahan. Kita sering menganggap bahwa ketika seseorang pergi, semuanya selesai. Padahal, tidak selalu begitu. Terdapat orang yang sudah tidak lagi bersama kita, tetapi namanya tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup. Ada kenangan yang tidak perlu dihapus, cukup ditempatkan dengan tenang di ruang masa lalu.
Kang Maman seperti ingin mengatakan bahwa tidak semua cinta harus berakhir dengan pernikahan. Ada cinta yang tugasnya memang hanya menemani satu fase kehidupan. Ada pertemuan yang tidak harus berujung kepemilikan. Dan ada perpisahan yang justru mengajarkan seseorang tentang dirinya sendiri.
“Teman sejiwa persis sepasang sepatu. Tidak sama satu sama lain, tetapi saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama. Jika satu hilang, yang satu tak berfungsi sempurna.”
Metafora tersebut sederhana, tetapi mudah dipahami. Dalam hubungan, kesamaan bukan satu-satunya ukuran. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk saling melengkapi dan berjalan menuju tujuan yang sama.
Di bagian lain, Kang Maman menulis:
“Dan sesekalilah
merendah:
Bahagia itu sederhana
Bukan menjadi luar biasa
Tapi menemukan hal biasa
dan mensyukurinya
Cinta
Demikian adanya.”
Bait tersebut bagi saya menjadi salah satu pengingat bahwa cinta tidak selalu membutuhkan sesuatu yang spektakuler. Kadang cinta justru tumbuh dari hal-hal sederhana, yaitu perhatian kecil, rasa syukur, kesediaan mendengarkan, dan kemampuan menghargai pasangan.
Secara gaya bahasa, buku ini terasa ringan dan santai. Diksinya sederhana, tetapi sering memiliki lapisan makna. Puisi-puisinya juga tidak terasa berat. Beberapa bahkan seperti kalimat yang biasa kita temukan dalam percakapan sehari-hari, hanya saja dirangkai dengan lebih puitis.
Rima dalam sejumlah puisinya juga membuat buku ini enak dinikmati. Saya bisa membacanya dalam sekali duduk, terutama ketika suasana sedang santai. Buku ini cocok dibawa ke coffee shop, dibaca sebelum tidur, atau sekadar dibuka secara acak ketika pikiran sedang penuh.
Dari segi visual, desain bukunya menurut saya cukup menarik. Permainan warna, font yang terasa seperti tulisan kapur, dan ilustrasi sederhana membuat tampilannya kekinian. Meski begitu, saya pribadi merasa beberapa ilustrasinya masih terasa nanggung. Ada bagian tertentu yang sebenarnya mungkin akan terasa lebih elegan jika dibiarkan sederhana dengan permainan tipografi saja.
Saya juga menyadari bahwa tidak semua bagian buku ini akan terasa sama kuatnya bagi setiap pembaca. Ada bagian tertentu, khususnya yang masuk ke pembahasan relasi dan rumah tangga, yang mungkin terasa kurang relate bagi pembaca yang belum berada dalam fase tersebut.
Bagi generasi sekarang, buku ini masih sangat relevan. Anak muda hidup di tengah budaya hubungan yang serba cepat. Pertemuan bisa terjadi melalui media sosial, pendekatan bisa berlangsung melalui pesan singkat, dan perpisahan terkadang cukup dilakukan melalui satu pesan.
Dalam situasi seperti itu, kemampuan memahami emosi, menghargai batas diri, menerima kehilangan, dan belajar melepaskan menjadi semakin penting.
Buku ini juga mengingatkan bahwa cinta bukan sekadar tentang “siapa yang menjadi milik saya”, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan seseorang ketika bersama maupun ketika harus berpisah. Cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harga diri. Hubungan juga tidak semestinya menjadi ruang untuk saling menggiring dan menguasai.
“Cinta itu setara dalam kebersamaan. Cinta itu senada dalam kesatuan. Saling seiring, bukan saling menggiring.”
Kalimat ini terasa penting untuk generasi sekarang yang sedang belajar membangun hubungan. Cinta membutuhkan kesetaraan, komunikasi, penghargaan, dan kemauan untuk tumbuh bersama. Bukan sekadar rasa memiliki.
Akhirnya, Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi bukan buku yang mengajari saya bagaimana cara melupakan seseorang. Buku ini justru mengajari saya bahwa tidak semua hal harus dilupakan. Ada sesuatu yang cukup diterima, dikenang, lalu diletakkan pada tempatnya.
Buku ini cocok untuk kalian yang sedang jatuh cinta, pernah patah hati, sedang belajar merelakan, atau bahkan sedang mempersiapkan diri memasuki kehidupan pernikahan.
Identitas Buku
- Judul: Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi
- Penulis: Maman Suherman
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
- Cetakan: I, April 2020
- Tebal: 170 Halaman
- ISBN: 978-602-05-2404-7
- Genre: Fiksi/Puisi