Ulasan

The Island of the Blue Dolphins: 18 Tahun Sendirian di Pulau Terpencil?

The Island of the Blue Dolphins: 18 Tahun Sendirian di Pulau Terpencil?
Cover Buku The Island of the Blue Dolphins (Goodreads)

Coba bayangkan ada anak perempuan tinggal sendirian di sebuah pulau terpencil selama bertahun-tahun. Masuk akal? Agak sulit memang. Tapi, ini dialami oleh Karana, gadis 12 tahun yang tinggal di pulau terpencil di kawasan California bernama Ghalas-at.

The Island of the Blue Dolphin karya Scott O'Dell mengikuti kisah keberanian dan kemandirian Karana si gadis cilik. Buku yang terbit pada 1960 ini juga sudah mendapat penghargaan Newbery Medal 1961.

Setelah pulaunya ditaklukkan orang kulit putih, orang-orang di pulau tersebut terpaksa pergi. Karena suatu hal, Karana tertinggal bersama adiknya, Ramo, di Ghalas-at. Mau tak mau, mereka harus belajar cara bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya di sekitar pulau.

Tak terasa, sampailah ia tinggal di Pulau Ghalas-at selama 18 tahun. Penasaran dengan petualangan Karana? Simak ulasannya berikut!

Sinopsis The Island of the Blue Sea

Ilustrasi Tumpukan Buku (unsplash/Rey Seven)
Ilustrasi Tumpukan Buku (unsplash/Rey Seven)

The Island of the Blue Dolphin menceritakan Karana, seorang gadis yang hidup bahagia bersama orang tua dan sekelompok sukunya di Pulau Ghalas-at. Namun, kehidupannya berubah ketika Kapten Orlov dari Rusia bersama pemburu Aleut datang ke Ghalas-at.

Setelah gagal bernegosiasi terkait hasil perburuan berang-berang laut dengan Chowig, kepala suku sekaligus ayah Karana, mereka mencoba menaklukkan orang-orang suku tersebut. Konflik meledak dan menyebabkan banyak orang gugur, termasuk Chowig, ayah Karana.

Karena kejadian itu, Kimki, kepala suku yang baru, memutuskan agar masyarakat pulau Ghalas-at meninggalkan pulau tersebut. Setelah semua bersiap di dalam kapal, ternyata adik Karana, Ramo, masih tertinggal sendirian di belakang. Karana yang menyadarinya segera melompat dan berenang kembali menuju pulau. Ini yang menjadi titik awal petualangan solo Karana di Ghalas-at.

Tak lama setelah itu, Ramo dibunuh oleh kawanan anjing liar. Karana yang murka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan pulau hingga ia membakar rumahnya. Namun, usahanya sia-sia, ia tak bisa pergi dari tempat itu.

Karana kini benar-benar sendirian dan harus belajar bertahan hidup di pulau yang pernah menjadi rumahnya. Ia membangun lagi tempat tinggalnya, mencari makanan, membuat senjata, dan perlahan beradaptasi dengan alam.

Ia bahkan berteman dengan anjing liar yang membunuh adiknya yang ia beri nama Rontu. Selama 18 tahun hidup sendirian di dalam pulau, Karana mulai mengerti arti dari keberanian, kesepian, dan kehilangan.

Terisolasi Total dari Manusia, Karana Berteman dengan Satwa

Ilustrasi Seorang Anak dan Seekor Anjing (unsplash/Vitaliy Zalishchyker)
Ilustrasi Seorang Anak dan Seekor Anjing (unsplash/Vitaliy Zalishchyker)

Setelah Ramo dibunuh oleh anjing liar, Karana menaruh dendam dan akan mencari lalu membunuh si anjing itu. Ketika akhirnya ia bisa memanah tubuh pemimpin kawanan anjing itu, ia justru memutuskan untuk merawat dan memberinya nama Rontu. Sepeninggal Ramo, Rontulah yang menemani hari-hari Karana di pulau itu. Hubungan Karana dan Rontu perlahan berkembang menjadi persahabatan.

Saat Rontu memua dan mati, Karana mencari teman baru, yaitu anak Rontu yang ia beri nama Rontu-Aru. Tak hanya itu, Karana juga berteman baik dengan hewan-hewan lain di Ghalas-at, seperti burung dan berang-berang laut. Anjing-anjing liar yang awalnya menyerangnya pun kini lebih jinak kepada Karana.

Kemauan Karana untuk Kembali ke 'Dunia' Manusia

Ilustrasi Dua Anak Bergandengan Tangan (unsplash/Josue Michel)
Ilustrasi Dua Anak Bergandengan Tangan (unsplash/Josue Michel)

Pada suatu hari, Karana melihat kapal Aleut mendekati pulaunya lagi. Takut dengan kejadian sebelumnya, ia bersembunyi di goa dan membuat rumahnya terlihat tak berpenghuni. Karana melihat pasukan Aleut datang dengan seorang gadis kecil. Meski begitu, Karana tak langsung memercayainya.

Beberapa hari berlalu dan Karana terterik dengan kalung yang dipakai gadis itu. Karana memberanikan diri keluar dari goa dan berkenalan dengan gadis yang bernama Tutok itu. Lambat laun, mereka semakin dekat dan menjalin persahabatan.

Namun, sayangnya pasukan Aleut harus pergi karena perburuannya sudah selesai. Persahabatan mereka pun ikut usai. Dalam hati, ia merasa lega tak ada hal besar yang terjadi lagi. Di sisi lain, ia sedih sahabatnya harus pergi.

Kejadian ini yang menyadarkan Karana bahwa ia harus tetap berinteraksi dengan manusia. Pertemuannya dengan Tutok ini juga mendorongnya untuk setuju pergi dari Ghalas-at saat kapal dari sukunya menjemputnya. Tak lupa, Karana membawa Rontu-Aru ikut bersamanya.

Saya sangat menyukai premis unik novel ini untuk menceritakan kemandirian dan ketangguhan seorang gadis kecil. O'Dell menggambarkan dengan apik dari sudut pandang Karana menyusuri petualangan di Ghalas-at. Perkembangan karakter dibuat bertahap seiring petualangan baru yang Karana hadapi. Tak hanya itu, saya juga menyadari bahwa ternyata seseorang pasti selalu membutuhkan keberadaan orang lain. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda