Ulasan
Yakin Sudah Merdeka? 5 Novel Indonesia Ini Ungkap Pembungkaman Suara Rakyat
Kita semua tahu kalau Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945. Ini baru merdeka dari penjajah. Dalam perjalanannya hingga kini, Indonesia mengalami berbagai tantangan dalam kemerdekaan bersuara. Sejarah Indonesia mencatat berbagai periode ketika kritik, kebebasan berbicara, dan suara masyarakat mengalami tekanan. Dalam situasi seperti ini, sastra menjadi salah satu medium yang dapat merekam pengalaman, keresahan, dan suara mereka yang berhadapan dengan kekuasaan.
Sejumlah novel karya penulis-penulis Indonesia menggambarkan situasi ini lewat karya-karyanya. Melalui tokoh dan cerita yang berbeda, karya-karya tersebut tidak hanya menawarkan kisah fiksi, tetapi juga mengajak pembaca melihat kembali sisi sejarah yang mungkin tidak selalu terdengar dalam narasi resmi. Ini dia 5 novel Indonesia yang jadi bukti pembungkaman suara pernah terjadi di sini.
1. Teruslah Bodoh, Jangan Pintar (Tere Liye)

Salah satu gagasan yang menarik dari novel ini terlihat dari judulnya sendiri, "Teruslah bodoh, jangan pintar". Narasi ini mengandung sarkasme terhadap orang-orang yang memiliki kepintaran, pendidikan, atau kekuasaan tetapi memilih menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri. Novel yang terbit pada tahun 2024 ini mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan ketika sumber daya, kekuasaan, dan hukum berada di tangan pihak ber-power.
Tere Liye membangun konflik dengan isu sosial yang kerap digaungkan di Indonesia, seperti pengerukan tambang berlebihan, kerusakan alam, hingga hubungannya dengan badan hukum yang menaungi. Melalui konflik antara masyarakat kecil dan pihak yang lebih berkuasa, suara rakyat digambarkan berhadapan dengan kepentingan yang jauh lebih besar. Persoalannya bukan hanya soal siapa yang menang dalam sebuah konflik, tetapi juga siapa yang memiliki ruang untuk menentukan arah kehidupan mereka sendiri.
2. Laut Bercerita (Leila S. Chudori)

Novel legendaris yang akan diangkat di layar sinema akhir 2026 ini, mengangkat isu sejarah kelam Indonesia, tragedi 1998. Laut Bercerita mengikuti kisah Biru Laut, seorang mahasiswa dan aktivis yang hidup di tengah situasi politik Indonesia yang penuh tekanan.
Laut, bersama teman-teman mahasiswanya berjuang melantangkan suaranya melawan sistem yang sudah bobrok pada masa itu. Yang mengherankan, setiap aksinya mereka tak pernah berhasil. Ternyata, ditemukan penyusup dengan latar belakang kekuasaan yang selalu menjegal pergerakan mereka.
Meski begitu, suara mereka tak pernah benar-benar hilang. Setelah kehilangan orang yang mereka cintai, keluarga dan orang-orang terdekat mereka terus mencari jawaban tentang apa yang terjadi. Laut Bercerita juga menunjukkan bahwa pembungkaman tidak hanya berdampak pada orang yang menjadi sasaran. Ketika seseorang menghilang, keluarga yang ditinggalkan ikut menanggung ketidakpastian dan luka yang panjang.
3. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Melalui Bumi Manusia, Pramoedya mengajak para pembacanya kembali ke masa kolonial bersama Minke, seorang pribumi terpelajar yang mempertanyakan aturan dan perlakuan tidak adil antara pribumi dan kulit putih. Pada masa itu, pribumi yang berani mempertanyakan bahkan melawan aturan kolonial, dianggap mengancam tatanan yang sudah ada.
Minke memang memiliki kemampuan dan keberanian untuk menyampaikan pikirannya, tetapi latar belakangnya sebagai pribumi membuat suaranya tidak memiliki posisi yang setara dengan kelompok yang berkuasa.
4. Bungkam Suara (J.S. Khairen)

Kalau ingin melihat persoalan kebebasan berbicara dari sudut pandang yang lebih satir, Bungkam Suara karya J.S. Khairen menarik untuk masuk reading list kamu.
Novel yang terbit pada 2023 tersebut berlatar Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL), sebuah negara fiktif yang memiliki konsep unik bernama Hari Bebas Bicara. Pada hari itu, setiap warga diperbolehkan menyampaikan apa pun tanpa takut terkena konsekuensi hukum.
Seiring berjalannya waktu, kebebasan ini berubah menjadi bencana ketika ujaran kebencian, fitnah, dan perundungan menyebar. Melalui novel ini, kebebasan tak hanya berbentuk ruang aman untuk bersuara, tapi juga tentang apa yang keluar dari sumber suara.
5. Entrok (Okky Madasari)

Entrok karya Okky Madasari menceritakan kehidupan Marni, seorang perempuan desa miskin yang berjuang membangun hidupnya bersama anaknya Rahayu. Di tengah sulitnya hidup, ia harus menghadapi ketidakadilan sosial, tekanan aparat, serta konflik nilai antara tradisi dan modernitas.
Melalui kisah Marni ini, Entrok mengangkat kritik terhadap kekuasaan, ketimpangan sosial, serta praktik pembungkaman terhadap perempuan dan masyarakat kecil yang suaranya sering diabaikan oleh sistem.
Daftar 5 novel tadi menjadi bukti bahwa merdeka bukan hanya soal sudah terbebas dari jeratan penjajah. Merdeka juga berarti memiliki kebebasan untuk mengungkapkan perasaan dan isi pikiran dengan aman.
Beberapa karya di atas bahkan masih terhitung baru yang artinya isu ini masih sering terjadi di Indonesia. Menurutmu, kita sudah merdeka apa belum?