Ulasan
Lagu 'Rumah' Salma Salsabil dan Mereka yang Sedang Mencari Tempat Pulang
Tak semua orang bisa memiliki tempat nyaman yang bisa disebut rumah. Kadang, tempat mereka tinggal hanyalah sebuah bangunan yang tak bisa membuat seseorang benar-benar merasa pulang. Dan kadang, ada pula yang terpaksa menyebutnya sebagai rumah sebab tak ada lagi tempat lain baginya untuk kembali.
Lagu Rumah karya Salma Salsabil merupakan single yang ditulis saat Salma masih berada di masa kompetisi Indonesian Idol XII. Bagi banyak orang, lagu ini bercerita tentang perantau yang merindukan rumah dan pelukan orang tua. Salma sendiri pun bercerita dalam salah satu podcast bahwa lagu Rumah memang menggambarkan kondisinya saat masih tinggal di indekos.
Namun, seperti kata Raim Laode, ketika sebuah lagu sudah didengar oleh banyak orang, maka setiap pendengar bisa memiliki interpretasinya sendiri. Kali ini, saya akan merefleksikan lagu ini dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bukan tentang perantau yang merindukan rumahnya, tetapi tentang seorang anak yang masih mencari arti rumah sekaligus tempat pulangnya.
"Setiap hari kau tanyakan, apa kabar, Adik? Tapi, tak semua jawaban benar-benar baik."
"Apa kabar?" Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana. Namun, tak semua orang bisa memberi jawaban yang benar-benar jujur. Kadang, ada yang berkata "baik-baik saja" karena tak mau membuat orang yang bertanya khawatir. Tapi ada pula yang mengatakan itu karena merasa tak nyaman untuk memberi tahu keadaan dia yang sebenarnya. Sebab baginya, rumah bukan tempat yang terasa aman untuk menceritakan semuanya.
Mungkin karena terlalu sering dihakimi, kurang didengar ceritanya, tidak divalidasi perasaannya, dianggap tidak layak, atau dituntut untuk terus terlihat baik-baik saja. Semua itu akhirnya melahirkan rasa takut untuk membuka diri dan enggan jujur tentang keadaannya. Bahkan tak jarang, ia merasa bahwa mengatakan "baik-baik saja" adalah cara untuk tidak terlihat menyedihkan dan melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit dan kecewa.
"Mulai lelah dengan tekanan di duniaku sendiri. Ingin pulang ke pangkuannya."
Bagi sebagian orang, pulang berarti berkumpul kembali bersama keluarga, menciptakan berbagai momen yang terasa hangat dan menyenangkan. Di sisi lain, ada yang masih mencari ke mana ia harus pulang. Ketika keluarga tak bisa menjadi tempat aman untuknya menjadi diri sendiri, ke mana ia harus kembali?
"Banyak tempat untuk kembali, meski tak senyaman di rumah sendiri."
Lirik ini terasa seperti jawaban. Bahwa rumah memiliki definisi yang luas. Seseorang tak harus memaknai rumah sama seperti orang lain. Banyak yang bisa menjadi tempat baginya untuk kembali. Bisa seseorang, tempat tertentu, ruang yang kita ciptakan sendiri, atau bahkan dirinya sendiri.
"Tempat yang kurindu sejak lama, rumah kecil itu, tempatku berteduh."
Rumah menjadi hal yang selalu kita rindukan. Tempat pulang dan berteduh yang selalu kita cari. Seperti apapun dan siapapun yang menjadi "rumah" bagi kita, ke sanalah kita selalu ingin untuk kembali.
"Senyuman pria yang kurindukan. Akan kubuktikan semua doa dan harapannya."
Dalam lirik ini, kata "pria" dimaknai sebagai seorang ayah. Namun, bagaimana jika sosok itu tak ada? Bagi sebagian orang yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya, bagian ini terasa hangat. Tetapi bisa terasa berbeda bagi mereka yang kehilangan, berjauhan, atau tidak memiliki hubungan yang baik dengan sosok tersebut. Kerinduan itu juga punya makna yang berbeda. Bukan pada sosok yang ia panggil ayah, tapi pada seseorang yang ia rindukan kehadirannya. Hadir yang tak hanya terlihat secara fisik, tapi juga benar-benar hadir secara emosional. Seseorang yang selalu mendoakannya dan membuat ia ingin menjadikan doa dan harapan itu jadi kenyataan. Yang bagi mereka, sosok itu tak harus orang lain, tapi bisa pula dirinya sendiri.
Begitulah Rumah bagi sebagian orang. Sebab pada akhirnya, setiap orang bisa punya definisi yang berbeda tentangnya. Bagi saya, lagu ini tidak hanya bercerita tentang seorang anak di perantauan yang rindu keluarganya. Lagu Rumah bisa menunjukkan arti berbeda: bahwa tidak semua orang punya cerita yang sama. Dan tidak semua orang punya rumah hangat yang selalu dirindukan. Kadang, ada orang-orang yang masih mencari tempat pulangnya. Lalu memilih untuk menciptakan "rumah" itu dan menjadi tempat kembali bagi dirinya sendiri.